tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Monday, September 26, 2005

Bangun Pagi

Memulai hari baru. Nginap di kantor, menemani editor mengerjakan paket terakhir program Sentuhan Qolbu-Ridho Allah buat Ramadhan besok. Oleh-oleh dari Jogja kemarin. Tidak sempat pulang, tapi sudah sedia seragam di tas, dalam rangka mengantisipasi pemberlakuan peraturan baru.

Bangun dengan perut kembung rasa-rasa masuk angin, pengaruh suplai besar-besaran lemper --atau semar mendem, kata mereka-- dari booth sebelah. Dan entah sudah berapa kali kaset Opick itu pulang balik di tape deck oleh aniaya tombol auto reverse. Telat shalat subuh. Buru-buru ke toilet untuk mencurahkan sesuatu yang sudah mendesak di bawah perut.

Melihat pantulan wajah di kaca toilet. Ada kemajuan. Tumben bisa bangun pagi dengan rambut tidak jabrik-jabrik, tidak mirip Sun Go Ku lagi. Ini prestasi, karena tidak biasanya. Mungkin karena semalam mimpi tidak terlalu rusuh.

Sunday, September 25, 2005

Tamu

Hari ini terakhir aku bisa pakai kaos ke kantor. Mulai besok semua karyawan --terutama di divisi news yang selama ini paling sering membangkang-- diperintahkan memakai seragam resmi kantor yang kalau kata Mas Dayat potongannya feminin karena pake kerah tidur itu. Hukumnya wajib. Ditambah lagi bonus wajib pakai batik pada hari Jumat. Sekalian berlaku juga larangan tidak boleh bersandal, apalagi bersundal.

Baju batikku cuma satu, itupun sudah kekecilan di bagian perut. Entah nanti gimana ngakalinnya. Mungkin bisa lebih gampang kalau dibolehkan pakai batik Korpri atau PGRI, misalnya. Kan sama-sama batik juga. Tapi sudahlah, sekarang saatnya belajar patuh. Toh tunduk tidak selalu berarti takluk. Sekali-kali saja. Lagipula, di perusahaan ini kita cuma tamu, akan mohon diri atau diusir bila perlu.

Tuesday, September 20, 2005

Di Lampu Merah Jogja

Dalam perjalanan ke bandara Adisucipto tadi siang, di perempatan lampu merah, sebuah sepeda motor berhenti di samping mobil yang aku tumpangi. Aku takjub. Ini lampu merah durasi paling lama di Jogja, dan gadis berjilbab panjang pengendara motor itu --mungkin mahasiswi, karena ada logo UGM di kap depan motornya-- dengan tenang mengeluarkan Al-Quran kecil dari ranselnya, kemudian membuka di halaman yang seperti diberi tanda. Seayat dua ayat bacaan menemaninya menunggu lampu kembali hijau. Sebuah pemandangan sejuk di hari yang panas.

Seorang teman pernah cerita tentang orang-orang yang tak pernah lepas dari Al-Quran. Dulu kupikir dia mengada-ada, tapi sekarang aku percaya. Malu aku. Sudah beberapa bulan ini rasanya jauh sekali...

[lima hari ini aku ditugaskan ke Jogja lagi, dan aku kembali dibuat percaya tentang "be careful what you ask for, you might just get it!". Bulan lalu aku juga di Jogja lebih seminggu, tapi banyak keinginan belum tercapai. Aku ingin begadang di Malioboro, melihat para pencari nafkah berganti posisi: kaki lima menutup dagangan, pengamen lelah duduk bergerombol dan gantian menyanyi untuk diri mereka sendiri, makan di lesehan gudeg dini hari, dan nongkrong di depan gedung tua kantor pos dekat lampu merah. Kemarin semuanya sudah kesampaian. Betul-betul pemurah Dia Yang Maha Tahu Segala Keinginan.]

Wednesday, September 07, 2005

Dua Kata

Aku pertama kali mendengar kata anti-hero kurang lebih 12 tahun yang lalu, di majalah HAI ---waktu itu masih dengan slogan bacaan remaja pria, bukan bacaan remaja modis seperti sekarang--- yang menulis tentang Bryan Adams yang disebutnya sebagai salah satu sosok anti-hero. Perkenalan kecil-kecilan dengan kata-kata sulit, tapi bertahun-tahun kemudian aku tetap tidak bisa memahami kata ini dengan baik.
Kemudian muncul hero-complex di perbendaharan kosa kataku. Lagi-lagi aku kesulitan mengartikannya. Dan dua term itu seperti menguap begitu saja, lama tak terjabarkan.

=====
Kemarin siang, seorang pekerja cleaning service di gedung induk Bank Mega di seberang kantorku jatuh dari lantai 4 ketika membersihkan kaca. Beruntung --masih beruntung!-- dia jatuh menimpa kanopi lobi. Beberapa saat dia diam sebelum akhirnya menggerakkan kepalanya tanda masih hidup. Dari ruangan kerja kami di lantai 3 kami bisa melihat dengan jelas seorang temannya mencoba menuruni tali untuk menolongnya.

Di bawah orang-orang mulai berkerumun, mencari tahu ada apa. Mereka memang tidak bisa melihat apa-apa karena terhalang atap kanopi yang besar itu. Dan kami --para wartawan ini-- segera sibuk mencari kamera nganggur untuk mengabadikan peristiwa langka itu. Aku juga ada di antara mereka, pada awalnya, berdesak-desakan dari balik kaca untuk mendapatkan view paling bagus. Tidak berbuat apa-apa.

Kemudian sebuah ingatan pada seorang teman membuatku berlari secepat mungkin ke bawah, seorang teman yang pernah mengalami peristiwa yang kurang lebih sama --bedanya dia berada 60 meter di bawah permukaan tanah, bukan di atas kanopi.
Seketika berat sekali rasanya berada di lantai terhormat ini, dengan baju megah profesionalisme, sementara seseorang meregang nyawa di depan mata!
Akhirnya, aku memang bukan jurnalis yang baik, karena memilih untuk tidak "mengabadikan" peristiwa itu. Aku gagal di Bab Pertama pelajaran profesionalisme jurnalis.

Seorang jurnalis tua pernah bernasehat --yang lebih mirip keluhan, "Kita, para wartawan, puji Tuhan, telah berhasil keluar dari kelaziman. Karena terlalu sering berhadapan dengan peristiwa luar biasa, tak ada lagi tempat untuk hal yang biasa-biasa saja dalam pikiran kita yang dipenuhi skala magnitude ini. Dengan tulisan atau liputan-liputan kita, terkadang kita merasa telah menyelamatkan sebuah komunitas, sebuah negara. Kita seketika menjadi teramat penting, jauh lebih penting dari sekadar pilar keempat demokrasi."

Mbak Ami, juga bilang begitu tadi, dengan kalimat yang berbeda. Kemarin dia orang pertama yang terpikir untuk memanggil ambulans untuk menyelamatkan nyawa cleaning service malang itu. "Mungkin karena terlalu sering mengalami kejadian besar ya, Chan, makanya kita jadi tidak peka. Padahal itu juga nyawa kan, biar cuma satu. Saya bukan mau sok imut. Saya bayangkan yang jatuh itu suamiku, dan orang tidak bikin apa-apa untuk segera menolongnya..."

Mbak Ami seorang wartawati senior di kantorku, dan suaminya seorang (mantan) pendaki gunung, seperti Jacko yang juga rela berpanas-panas untuk membantu menurunkan korban dari atas kanopi. Sebelum kami turun, Mas Iwan, petinggi lantai 3 Trans, ternyata juga sudah ada di lokasi kejadian dan ikut menggotong-gotong tangga hidrolik dari studio 1.

Dan pasti, selalu ada saja yang tidak mengenakkan. Setelah korban ditangani oleh paramedis 118 dan urusan diserahkan ke pembesar kantor di mana dia jatuh, kami juga balik ke kantor. Di depan lift seseorang menegurku, "Wah, tadi atraksi ya?" katanya.
Aku tersenyum miris. Kata itu sangat menggangguku.

Sewaktu membersihkan tangan di wastafel, Mas Iwan juga sedang membersihkan muka di wastafel sebelah. Di sela-sela kucuran air dari kran, Mas Iwan ngomong tentang bagaimanapun kita juga manusia, yang membantu sesama adalah kewajiban.
Aku mengiyakan, dengan ketakutan menggelayut di hatiku.

Lalu kubiarkan air kran itu juga membasuh wajahku lama. Biarlah semua riya dan ujub yang sempat mengotori itu mengalir ke selokan.

Monday, September 05, 2005

Duka Pagi Hari

Pagi ini, meski memang tidak pernah sepi, lantai 3 tampak lebih sibuk dari biasanya. Begitu kabar itu terdengar, semua yang berkepentingan segera memasang gigi tiga --bekerja ekstra cepat, yang tidak berkepentingan segera berkumpul di monitor room, di depan TV wall yang ada 16 biji tv berjejer dan semuanya menyala.
Berita duka cita itu hilir mudik di layar kaca. Pesawat Boeing 737-200 Mandala Airline dengan nomer penerbangan RI-019 gagal lepas landas dari Bandara Polonia, Medan, dan jatuh menimpa pemukiman padat penduduk di Jalan Jamin Ginting. 143 penumpang pesawat dan warga di darat tewas.

Satu lagi cobaan berat bagi bangsa ini, setelah beberapa hari sebelumnya sebuah helikopter milik Polri juga jatuh di Sumatera Barat. Semoga ini bukan azab, semoga ini hanya peringatan --pada kita yang mungkin sudah terlalu gampang lupa-- bahwa betapa dekatnya kita dengan kematian.
Dan semoga mereka yang pergi beroleh tempat di surga-Nya. Al-Fatiha. Amin.

Friday, September 02, 2005

Tawuran Lagee!!!


Tulisan ini ditulis tergesa-gesa dengan niat untuk dikirim ke koran kampusku, setelah menonton tayangan berita mereka (dua fakultas aneh itu) lagi-lagi tawuran.


(Mahasiswa) Pengecut Mati Berkali-kali
Ketika menonton berita tawuran antara mahasiswa Fakultas Teknik dan FISIP di hari pertama (31/08), saya belum begitu ngeh dan masih menganggapnya biasa-biasa saja. Pun ketika masuk kantor besok paginya, saya bertemu Bang Mufhti --kordinator koresponden daerah-- di selasar dan dia menegurku tentang kelakuan, "adik-adikmu itu, Chan, tawuran lagi mereka." Saya hanya bisa tertawa dan menimpalinya dengan bercanda juga. Saya bilang itu memang ritual periodik mereka dan akan terasa ada yang kurang bila tidak dilaksanakan.
Sore harinya sebuah sms juga masuk ke handphone-ku, kali ini dari Cahyo, teman sesama jurnalis. Bang, gimana tuh kelakuan adik2 almamater Abang? Ajarkan konsep mental lah, Bang, begitu tulisnya. Lagi-lagi saya hanya tersenyum menanggapinya. Dengan Cahyo saya sering berkelakar tentang konsep mental, konsep abstrak yang membuat orang masih bisa tertawa di kala susah sekalipun. Tapi konsep itu untuk kami sendiri sebenarnya, bukan untuk segerombolan mahasiswa yang tega melempari teman-temannya.

Malam harinya, berita tawuran hari ke-2 (01/09) tayang lagi di TV. Saya menontonnya dengan hati yang perih. Kelanjutan tawuran, mahasiswa Teknik menyerbu Baruga, tempat mahasiwa FISIP biasa berkumpul. Beberapa orang luka dan dilarikan ke rumah sakit. Deasy Weku, presenter berita yang elok dipandang itu, di pengantar berita menyebutnya sebagai satu lagi peristiwa memalukan.

Tempat yang diserang itu salah satu rumah ideologisku juga --selain Pintu Dua yang kini tinggal kenangan setelah penggusuran. Hampir sepanjang usia kemahasiswaanku, habis di Baruga yang oleh kami didaulat sebagai tempat nongkrong paling surga di kampus. Sulit untuk tidak sedih melihat mereka berkelahi di tempat "suci" itu.
Di tempat itu juga, sekira sembilan tahun yang lalu, saya memulai tawuran pertama dalam sejarah enam tahun saya bermahasiswa, Dalam keadaan gundul mahasiswa baru, saya ikut jadi bagian segerombolan mahasiwa FISIP yang berhadap-hadapan dengan mahasiswa Fakultas Teknik yang sebagian gundul sebagian tidak, masing-masing dengan batu di tangan. Dalam "perang-perangan" itu, Sarwani, seorang teman mahasiswa baru matrikulasi dari Kalimantan, terjebak di teritori mahasiswa Teknik di depan UPT Komputer lantai 2. Alhasil dia sempat disandera beberapa jam dan kemudian dibebaskan dengan kenang-kenangan kepala bocor. Waktu itu kami belum tahu apa-apa. Satu komando perang entah dari mana tiba-tiba menggerakkan kami untuk "mempertahankan wilayah". Dan seperti yang tayang di TV kemarin itu, begitulah kami dahulu kala.

Beberapa tahun kemudian kami baru tahu kalau tawuran periodik itu memang ada yang sengaja diorganisir oleh sindikat preman kampus untuk memeriahkan suksesi rektor atau momen-momen lain yang dianggap perlu untuk dimeriahkan. Mahasiswa-mahasiswa mabuk dan suplai miras besar-besaran sebelum tawuran menjadi tanda bahwa selalu ada kepentingan yang bermain di belakang adik-adik mahasiwa yang lugu itu.
Mahasiswa-mahasiswa yang mengaku berperang demi "harga diri fakultas" itu sesungguhnya tidak paham untuk apa mereka melempar batu. Mereka mungkin hanya ingin merasa jago dan jantan sembari berharap mendapat pujian dari para mahasiswi di garis belakang.

Menjadi mahasiswa memang sangat berpotensi untuk membuat seseorang menjadi (tampak) pemberani. Lihatlah! Celana jeans sobek-sobek, kaos oblong, rambut gondrong, scarf melingkar di leher, gelang prusik di kaki dan tangan, dog tag army look, kurang gagah apa mereka dengan tongkrongan seperti itu? Pemerintah tidak usah khawatir deh kehabisan relawan untuk dikirim ke daerah konflik seperti Aceh, Poso, atau Ambon. Mereka yang tidak takut luka harusnya bisa lebih berguna di medan seperti itu. Kalaupun tidak ikut berperang, mereka bisa turut membantu korban yang semakin merana akibat konflik berkepanjangan, menjadi sukarelawan penyuplai logistik atau obat-obatan, misalnya. Getok kepala saya kalau tidak, mereka akan lebih berguna di tempat seperti itu. Karena itu perang yang sebenarnya --ada sesuatu yang dipertahankan, entah itu tanah atau ideologi, bukan perang-perangan para pengecut yang berkelahi hanya karena baliho Ospek.

Sori, Bung, ini bukan sinisme generasi tua (saya juga belum tua-tua amat kok) terhadap generasi setelahnya. Tapi sebagai orang yang pernah merasakan betapa kerasnya kehidupan bermahasiswa di Unhas dan sekarang menjadi jurnalis yang beberapa kali bertugas di daerah konflik, saya merasa sedih --lebih tepatnya malu-- karena pernah keliru menyalurkan energi seperti yang dilakukan adik-adik mahasiswa FISIP dan Teknik itu.
Tahun 1999 menjelang Ospek, saya ingat betul, saya pernah hampir bonyok oleh segerombolan mahasiswa Teknik yang menganggap saya salah memasuki wilayah kekuasaan mereka, padahal Tuhan saja tidak pernah membatasi langkah hamba-Nya. Waktu itu saya marah sekali dan merencanakan sebuah skenario serangan balik full team, tapi tidak jadi karena mengingat abang saya juga kuliah di Fakultas Teknik. Begitu pula ketika dua tahun lalu Udin, adik angkatan sekaligus sahabat saya di UKM Pers, patah tulang hidungnya gara-gara digebuki mahasiswa Teknik yang salah sasaran, saya mengomporinya untuk melakukan "sedikit balas dendam" dengan bantuan jaringan mafia imut-imut yang "siap membantu kapan saja". Tapi Udin menolak dan memilih menyelesaikan persoalannya secara pribadi tanpa harus melibatkan teman-temannya. Udin memilih untuk tidak jadi pengecut, tidak seperti saya dan kebanyakan mahasiswa Unhas lainnya, dia memilih untuk jadi pemberani dengan segala luka fisik dan batin yang ditanggungnya sendiri.

Pada akhirnya menjadi mahasiswa pilihannya memang hanya ada dua itu: menjadi pemberani atau pengecut. Dari zaman dahulu para tetua mahasiswa juga hanya mewariskan dua hal itu kepada adik-adiknya. Sikap bijaksana menanggapi kezaliman tetap lestari seperti halnya main keroyokan juga tetap membudaya. Tinggal adik-adik mahasiswa yang lucu-lucu dan menggemaskan itu yang harus menetapkan pilihannya. Karena mereka terlanjur menerima warisan zaman dari pendahulunya, dengan segala perangkatnya. Tinggal pilih, mau mewarisi sikap welas asih yang mencegah kalian mengalirkan darah orang lain dan berpikir seribu kali sebelum memicu pertikaian, atau kebrutalan dan arogansi fakultatif yang akan membuat kalian lebih mirip seorang pengecut dan senantiasa hidup dalam ketakutan?

Tapi sebelum memilih, ada baiknya mengingat kata orang tua ---yang tuaaa sekali: para pemberani mati hanya satu kali, para pengecut dan pemicu perang mati berkali-kali.
(Mampang Prapatan-Jaksel, 02/ 09/05)

====
Fauzan Mukrim, jurnalis TV, alumni KOSMIK Unhas, mencari nafkah di Jakarta. Beralamat di halamanrawa@yahoo.com, dan berumah di http://halamanrawa.blogspot.com. Mampirlah bila ada sempat.