tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Wednesday, August 24, 2005

Setelah 17

Malam 16 Agustus, di sebuah desa bernama Sorolaten, Kecamatan Godean, DIY. Setelah sekian tahun peringatan itu terlewat begitu saja, baru mendengar lagi lagu Indonesia Raya dinyanyikan. Bukan oleh sekelompok paduan suara, melainkan para tamu yang berkain sarung berpeci dan sebelumnya duduk di tikar pandan sebelum diminta oleh MC untuk berdiri.
Dirigennya seorang ibu setengah baya, mungkin guru kesenian di SD setempat, memimpin lagu dengan ketukan tiga perempat. Bulan bersinar terang, hampir atau telah purnama. Malam pun jadi indah karena di sepanjang pinggir jalan dijejer pelita minyak tanah dari botol Kratingdaeng.
Mereka --semua undangan itu-- hikmat sekali menyanyikan lagu kebangsaan itu, dalam sebuah acara yang mereka sebut tirakatan yang tak ada tiang bendera sama sekali.

Pagi 17 Agustus, di sebuah jalan di pusat kota Yogyakarta, sekelompok anak muda berkumpul, membagi-bagi selebaran sambil meneriakkan perasaan belum merdeka.

Siang 21 Agustus, di sebuah jalan bernama Malioboro. Para tetua keluar, menyusuri jalan yang panas. Barisan abdi dalem, tentara kerajaan, sampai Pandu jaman dulu, semuanya berbaris rapi. Seorang kakek memperbaiki syal kacu teman sejawatnya; mereka pasti tampan sekali dengan seragam pramuka itu, 45 tahun yang lalu.
Hingga karnaval usai mereka tetap di barisan, tak peduli sepatu Nike punya cucu rekah minta berhenti.

Malam 24 Agustus, di depan komputer di sebuah kantor di Jakarta, ada orang yang menulis tak habis pikir, kenapa orang lain bisa menjadi sepatuh itu --sedang dia tidak.