tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Sunday, August 14, 2005

Menjelang 17


Sebahagian dari satu tulisan panjang A. Indra Wahyudi dan Ostaf Al-Mustafa --keduanya senior Korps Pencinta Alam (KORPALA) Universitas Hasanuddin Makassar-- sebagai tanggapan atas distorsi karakter PA oleh militerisme dan kapitalisme pop. Disampaikan dalam rangka menyambut dan memperingati 20 tahun KORPALA UNHAS. Indra adalah Instruktur bersertifikat Internasional di bidang speleologi (ilmu tentang gua), sedang Ostaf menyebut dirinya sebagai peminat Pencinta Alamulogi (ilmu tentang Pencinta Alam).

-------

Pada era ini semangat idealisme mahasiswa tidak lagi bergerak untuk melawan kekuasaan negara secara langsung. Orba saat itu sedang melakukan penguatan konsolidasi yang sangat kuat. Konsolidasi ekonomi merupakan hal yang paling diminati. Bentuk investasi dari luar negeri semakin diperbesar dan terhitung sebagai utang negara. Jepang merupakan negara yang cukup kuat melakukan penanaman modal asing. Dominasi modal Jepang ini, kemudian menghadirkan perlawanan mahasiswa dalam bentuk Malari (Malapetaka 15 Januari) 1974. Meskipun Malari, merupakan suatu gerakan mahasiswa, tapi Malari ini memiliki juga susupan 'setting' militer yang ikut bermain di tengah malapetaka tersebut. Itulah sebabnya, malapetaka ini, menciptakan hura-hura tak terkendali.

Kondisi pasca-Malari tentu juga banyak berpengaruh pada kegiatan pencinta-alam. Militer tak pernah berhenti menggalang aktivitas kepencinta-alaman untuk kepentingan hegemoni dan dominasi militer ke tengah kampus. Militer dalam beberapa hal, memang berhasil dalam penggalangan tersebut. Ciri keberhasilan itu dapat terlihat dengan adanya aktivitas 'seolah-olah Pencinta Alam' yang dikombinasikan dengan 'ingin disebut tentara' (army look). Kombinasi keduanya menghasilkan Pencinta Alam yang suka pada seremoni upacara bendera, apel pagi, apel sore, baris berbaris, pakaian seragam dan akhirnya pikiran juga diseragamkan. Keseragaman yang terakhir adalah sistematika pembodohan terbesar yang dilakukan negara dan militer, agar anak-anak muda tidak kritis dan kurang radikal. Masalah terbesar kedua dalam kondisi tersebut yakni ternyata justru Mapala yang ikut mengorganisir pembodohan ini atau terlibat langsung untuk diperbodoh.

Kombinasi ini juga belum berakhir, karena masih banyak muncul Pencinta Alam yang mengekspresikan nasionalismenya dengan naik gunung pada setiap 17 Agustus, lalu berkumpul untuk melakukan upacara hormat bendera. Mereka sepertinya tak bisa mengekspresikan kecintaannya terhadap bangsa dan negeri ini, kecuali bergaya seperti militer yang 'maniak dengan upacara bendera'. Anak-anak muda yang tak jelas motif kultur sipilnya, sama sekali tak punya jalan alternatif selain "kepada Sang Saka Merah Putih hormaat, grakkk!". Nasionalisme dan patriotisme seperti itu, tak pernah di ajarkan oleh Gie. "Patriotisme hanya bisa dipahami dan dimengerti bila anak-anak muda yang senang mendaki gunung itu merasakan kondisi masyarakat secara langsung". Tiang upacara, teriakan histeris dan kibaran bendera di puncak gunung, sama sekali tak berguna selain hanya untuk 'teater seremoni' belaka. Bagaimana bisa mencintai negeri ini, bila tak merasakan derita masyarakat secara langsung. Bagaimana derita mereka bisa diminimalkan, jika energi selama setahun hanya diluapkan pada sejenis 'orgasme' upacara bendera. Keletihan pada pendakian gunung, merupakan kesia-siaan bila 'puncak energi' habis dalam teriakan, pada formasi barisan atau mendongakkan muka atau mengangkat kepala hanya pada secarik kain berwarna merah putih itu.


-------

bersambung ke bagian 2/3/4/5/ dst...