tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Saturday, August 06, 2005

Little Turtle

--mengenang sahabat: NK

Di depan sebuah rumah makan seafood di tepi pantai Pangandaran, ada dijual dua ekor kura-kura kecil. Ditaruh dalam bak tersendiri, terpisah dari ikan dan segala mahluk laut lain yang pasrah menunggu digoreng atau dibakar atas pesanan pembeli.

"Cuma lima puluh ribu kok, Mas," kata ibu penjualnya ketika melihatku terpekur lama di depan bak kura-kura itu.
Mahluk mungil yang cantik, warnanya hijau dengan noktah merah di kepalanya yang sesekali menyembul.
"Nanti ditaro di toples ini, nggak akan mati biar sampai Jakarta," kata ibu itu lagi sambil mengangkat toples plastik yang tutupnya bisa dilubangi.
Hampir terpengaruh. Aku membayangkan salah satu dari dua kura-kura itu berenang-renang lincah dalam bejana kaca di kamar kosku nanti.

Ini malam Minggu, tepi laut Pangandaran ramai sekali. Seantero turis berseliweran. Ada anak bule kegirangan menunjuk-nunjuk kepiting yang mungkin seumur hidup baru pertama kali dia lihat. Lalu ada seorang anak bule lagi yang dengan cueknya membuka tutup minuman es kelapa mudaku karena mengira ada ikan-ikan berenang dalam tempurung itu.

Sehingga malam mulai tua, dan debur ombak menghempas pantai terdengar seperti bertambah keras.
Aku meninggalkan rumah makan, sedang kura-kura mungil nan cantik itu masih di situ. Tak tersentuh.

Karena mengenangmu, Sahabat, maka ia tak jadi kubawa pulang.
Dulu, katamu selalu; mereka juga punya rumah, dan itu bukan di aquarium kita.