tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Thursday, August 11, 2005

Breakfast With Orgil

Sepatu trekking-ku sudah menganga minta dijahit. Jadilah pagi-pagi sebelum masuk kantor aku menongkrongi tukang sol sepatu di bawah pohon di perempatan Mampang. Sementara bapak tukang sepatu itu menjahit sepatuku, di depan kami seorang laki-laki kurus mondar-mandir. Rambutnya gondrong dikuncir dengan ranting kecil yang masih ada daunnya. Pakaiannya tidak terlalu lusuh untuk ukuran orang gila jalanan. Celana jinsnya kedodoran, diikat kuat dengan sabuk yang digantungi banyak tas kecil seperti punya polisi.
Dia orang gila yang anti-militeris kayaknya.
Dalam beberapa atraksi kegilaannya, aku lihat dia menumbuk sebuah badge "Polda" dengan batu hingga tak berbentuk. Setelah puas, dia mengeluarkan dompet yang ada tulisan "Marinir" lalu ditumbuknya juga dengan batu besar.

Kata tukang sol sepatu, dia baru seminggu ini kumat lagi. Kalau lagi sadar dia biasanya mengamen. Dia mungkin tipe anarkis, tapi kelihatannya tidak terlalu berbahaya. Orang-orang lewat tidak dia ganggu. Kami malah sempat sarapan bareng di warteg, sambil aku menunggu sepatuku dikerjakan. Warung masih sepi baru buka. Dia ikut memesan makanan dan duduk di dekatku. Dia makan dengan lahap seperti baru ketemu nasi berhari-hari, tapi tidak dia habiskan. Mungkin dia tidak biasa makan banyak karena lambungnya kecil.
Aku tidak mengajaknya, tapi kepada pemilik warung aku bilang untuk menghitung makanan kami berdua.
Setelah selesai dia keluar ke jalan membawa piring dan membuang sisa nasinya ke zebra cross.

Jalanan sedang ramai, tapi orang-orang tak peduli. Aku melihat butiran-butiran nasi dan sisa lauknya hancur dilindas ban-ban mobil, menjadi tak berbentuk. Mungkin seperti itu harapannya.