tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Wednesday, July 06, 2005

Semoga Betah

Lumayan lama ternyata aku mengabaikan tetirahan ini. Banyak perjalanan yang harus diselesaikan.
Tepat sebulan lalu terbang ke Pontianak, ke sebuah pemukiman minoritas Cina miskin. Meredefenisi stereotip. Bukan bermaksud rasis; di kampungku dulu, orang Cina rata-rata kaya dan berkuasa secara ekonomi. Toko-toko besar pasti punya mereka belaka. Tapi di Pontianak, aneh rasanya melihat mereka melakoni pekerjaan kasar dan mandi di kali yang airnya kotor berwarna coklat. Seperti bukan orang Cina yang ada di kepalaku...

Balik ke Jakarta beberapa hari sebelum terbang lagi ke Nunukan, sebuah pulau kecil di bagian atas Pulau Kalimantan. Pulau ini selalu jadi sorotan setiap kali musim pemulangan TKI tiba, setiap kali laskar-laskar Malaysia mengusiri orang-orang yang mereka sebut sebagai pendatang haram. Ketika jalan-jalan penuh, dan para eksodan itu tak tahu harus berteduh di mana.

Kali ini Nunukan masih sepi. Tak banyak berita, kecuali tentang seorang TKW yang pulang membawa bocah berkulit putih terang setelah hamil entah oleh siapa di negeri jiran dan kemudian terbunuh dengan luka menganga sabetan pedang di belakang kepalanya.

Kami menemui pembunuhnya minggu lalu, dengan seragam tahanan yang sama sekali tak indah itu.

[aku jadi malas menulis karena khawatir akan banyak cerita tentang darah dan nyawa yang melayang. Round table musim ini menempatkanku di program Lacak! Semoga betah.]