tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Saturday, July 30, 2005

Sejuk

Pak Ishadi diwawancarai Koran Tempo, dan sekutip katanya: "Sebagian besar waktu kita habis di kantor. Kalau di kantor kita susah, maka sebagian besar hidup kita susah."
Tentu saja "susah"-nya Pak Ishadi beda dengan "susah"-nya sebagian besar karyawannya, termasuk aku. Tapi kalimat bijak itu pantas dijadikan pegangan. Bekerja memang seyogyanya dinikmati, betapapun menjengkelkannya.

Tempo hari aku terkapar sehabis membuat reka ulang Lacak episode Siba. Awal Juli lalu, seonggok kerangka lengkap ditemukan di sebuah sumur tua di Desa Lemah Kembar, Probolinggo, ketika warga berencana membuat septic tank WC umum. Seisi desa sontak gempar, dan kerangka itu diyakini sebagai Siba, putri Ibu Niwati yang menghilang sembilan belas tahun lalu. Ketika menghilang umurnya baru belasan tahun.
Kasus ini adalah (semoga) liputan terakhirku di Lacak. (Puih! akhirnya...)
Bersamaan itu, syuting reka ulang terakhir ini aku menggigil demam.
Setelahnya pengumuman rotasi baru sudah tertempel di tempat biasa. Aku dipindahkan ke program baru untuk Ramadhan, membuat profil orang-orang yang sukses berbisnis di jalan Allah. Kriterianya sederhana: bukan pejabat atau penjahat, bukan penerima warisan, mulai dari nol, dan selalu bisa bangkit kembali setelah jatuh.
Ada yang punya calon?

====
Beberapa hari ini, hidup rasanya menjadi sangat ramah. Selalu kurasakan seperti ini setiap habis sakit, dan menjelang Ramadhan. Alhamdulillah, masih selalu terasa sejuk itu mengaliri urat darah yang kotor ini. Terima kasih ya, Allah....