tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Friday, July 15, 2005

Nonton "Gie"

Setelah kemarin gagal, akhirnya aku bisa nonton film Gie hari ini, berkat kebaikan hati seorang teman yang dengan senang hati menraktir (Thanks, Dek! :-)). Kesempatanku memang tinggal hari ini karena besok pagi-pagi sekali sudah harus berangkat ke Probolinggo, dan aku tidak yakin di sana ada Studio 21. Bisa-bisa nanti balik ke Jakarta filmnya sudah turun.

Dan inilah menurutku. Entah sengaja atau tidak, di beberapa bagian Riri Riza seperti masih terbayang-bayang oleh AADC dan Rangga-nya (btw, kenapa ya selalu adegan buku jatuh?). Gie yang diperankan Nico menurutku tidak seserius itu: tatapan mata yang selalu tajam dan hampir tak pernah tertawa. Gie memang resah, seperti yang dia tulis di catatan hariannya, "I always be gelisah and unable to live in peace!", tapi dia bukan orang yang tidak senang bercanda. Gie seorang yang supel, dia bisa bergaul dengan siapa saja, mulai pejabat hingga tukang stensil di kampusnya. Tapi di film ini, rasanya seperti menonton Rangga ketimbang Gie. Termasuk dengan hadirnya adegan ciuman Nico dan Wulan Guritno yang konon sempat membuat kamera macet itu! (Mungkin karena adegan itu tidak direstui arwah Soe Hok Gie. Hahahaha!)

Film Gie ini juga sepertinya bermain aman, dengan meminimalisir menyebut nama-nama tokoh yang bermasalah di zaman itu, misalnya Ibnu Sutowo --meskipun teks yang tercantum nama itu tetap dipakai sebagai narasi film. Terhadap Soekarno pun demikian, di teks aslinya Soe Hok Gie jelas-jelas mempermasalahkan moral Soekarno yang dianggapnya bejat.

Tapi selebihnya, film ini betul-betul luar biasa. Dengan durasi yang lumayan panjang --2 jam 27 menit-- Riri berhasil membuat penonton tetap bertahan duduk hingga film usai, kecuali seorang bapak tua yang duduk di barisan kursi di depanku --mungkin segenerasinya Soe Hok Gie-- yang bolak-balik ke toilet sampai tiga atau empat kali selama film diputar :-).
Intinya, mustahil untuk tidak kagum kepada Mira Lesmana dan Riri Riza setelah menonton film ini. Hanya orang-orang berani yang bisa berbuat demikian. Riri tahu resikonya memfilmkan Gie, tapi tetap dilakoninya. Salut. Setidaknya orang-orang boleh ketawa deh ke geng India itu! :-)

[pulang nonton, bingung antara balik ke kosan atau terus ke kantor. Akhirnya milih balik ke kosan, dan terjebak hujan seturunnya dari Kopaja. Jaket kanvas, sepatu, dan celana lapangan basah semua, padahal rencananya mau di-packing buat berangkat liputan besok...]