tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Monday, July 11, 2005

Muara


ada yang berucap,
"mengapa sungai demikian tenang mengalir, sebab ia tahu pasti ia akan ke muara",
tapi dimanakah semua ini akan bermuara?

--Ahmad K. Syamsudin; pasarcidu.blogspot.com--


Kawanku itu mempertanyakan muara. Demikian pula aku.
Belakangan ini aku merasa bukan wartawan lagi. Bisa jadi perasaanku saja, tapi memang seperti itulah. Di program baru ini aku merasa harus menggantung semua prinsip dan aturan jurnalisme yang bertahun-tahun aku pelajari di bangku kuliah.
Benarlah kata dosenku dulu, suatu hari nanti aku akan berhadapan dengan sesuatu yang tak ada teorinya --atau tak butuh teori. Suatu hari itu adalah hari ini.

Seperti namanya, tugas kami di program ini adalah mencari kasus pembunuhan besar, yang terungkap maupun yang belum terungkap. Sampai di sini semuanya aman-aman saja. Masalah muncul ketika pulang ke kantor dan harus membuat peristiwa traumatis itu menjadi enak ditonton sehingga bisa menangguk rating. Dan reka ulang adalah jawabannya. Terjemahan bebas reka ulang adalah menggunakan model atau aktor untuk memerankan kembali adegan-adegan pembunuhan itu.
Setahuku, ada keharusan untuk membuat reka ulang semirip mungkin dengan kejadian sebenarnya. Tapi sekarang, makin ke sini, aturan itu sudah hampir masuk laci. Dari beberapa kali membuat reka ulang, aku berkesimpulan bahwa kami telah melakukan kesalahan sebagai wartawan yang seharusnya menaruh fakta di kantong depan baju profesi. Banyak bagian dari sebuah peristiwa pembunuhan telah kami tafsirkan dengan semena-mena, semata atas pertimbangan estetis.

Hingga hari ini aku baru mengerjakan dua kasus pembunuhan, dan rasa bersalah kepada korban, tersangka, keluarga korban, keluarga tersangka, kerap kali muncul. Entah apa namanya. Aku membayangkan kegeraman atau kesedihan mereka menonton diri atau orang dekat mereka digambarkan dengan tafsir yang brutal oleh kami yang menyebut diri sebagai wartawan; penyampai kebenaran.
Betulkah seperti itu? Betulkah dia dibunuh karena memaksa minta dikawini? Betulkah dia dibunuh karena selingkuh padahal selama ini dia dikenal sebagai istri yang baik?, misalnya.

Setelah mengalami ini semua, aku teringat lagi pada cerita tentang kotak. Seorang teman wartawan pernah bercerita tentang kotak. Katanya, anggaplah tempat atau lingkungan kerja kita adalah sebuah kotak besar. Dan pada suatu ketika karena sesuatu dan lain hal tiba-tiba kotak besar menjadi sangat tidak menyenangkan dan menyiksa. Maka yang perlu kita lakukan adalah segera menciptakan kotak kecil di dalam kotak besar itu di mana kita masih bisa mendapatkan atau melakukan hal-hal yang menyenangkan. Menguatkan temboknya sehingga bombardir dalam kotak besar itu tak sampai meruntuhkan tembok kotak kecil kita.
Misalnya, ketika di-grounded dan tak boleh liputan ke lapangan sebagai sanksi karena kebobolan berita besar --seperti yang dialami beberapa rekan yang gagal membawa pulang berita kecelakaan KRL di Pasar Minggu beberapa waktu lalu--, maka mengingat wajah anak atau istri di rumah bisa menjadi "kotak kecil" sehingga tugas paper-work yang menjemukan tetap bersemangat dikerjakan.
Atau ketika kita gagal memamahami logika industri perusahaan tempat kerja kita dan mulai merasa tersiksa dengan kebijakannya, maka membuat blog seperti ini bisa menjadi hal yang menyenangkan. Karena di blog kita bisa menyerapahi apa saja. Menulis apa saja.

Ya, belakangan ini aku merasa bukan wartawan lagi. Bisa jadi perasaanku saja, tapi memang seperti itulah. Tulisan-tulisan dan cara pikirku pun mulai ngaco.
Kotak kecil yang dulu aku bangun dengan diam, rasanya semakin mengecil dan menyempit.
Mungkin tidak lama lagi di sini, jika segera kutemukan muara itu.