tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Sunday, June 19, 2005

Kaos

Aku punya kaos bergambar wajah Gie, dengan tulisan "I always be gelisah and unable to live in peace" di bawahnya. Dikasih teman tiga tahun lalu, supaya sedikit bersemangat mengerjakan skripsi tentang buku Catatan Seorang Demonstran. Itu skripsi sempat tertahan bertahun-tahun karena selalu gagal meyakinkan dosen-dosenku yang menganggap Gie nggak ada hubungannya dengan disiplin ilmuku.

Ketika berjuang untuk sarjana itu juga aku pertama kali mendengar kabar Gie akan difilmkan. Waktu itu entah kenapa aku merasa khawatir Gie akan bernasib seperti Che Guevara, menjadi sekadar ikon budaya pop dan dimanfaatkan oleh apa yang selama hidupnya dia lawan.
Pak Arief, abang Gie, lewat e-mail dari tempat yang jauh menenangkanku, meski tetap kutangkap kesan pasrah dari kata-katanya. Tulisnya:

SHG sudah selesai hidupnya. Yang ada sekarang adalah persepsi orang terhadapnya. Hidup SHG sekarang sudah jadi milik publik. Dan ini macam2. Ada yang mengganggap dia pahlawan, ada yang berpikir dia orang gagal, ada juga yang mengira dia pengkhianat, dan sebagainya. Saya kira semua persepsi ini, yang baik dan yang buruk, akan merupakan kekayaan, ketimbang sesuatu yang negatip. Biarkan saja orang mempersepsikan SHG sesuai dengan yang diingininya, biarkan ada demokrasi persepsi..."

Mungkin kedengaran konyol, tapi rasanya mau marah. Kira-kira seperti melihat Superman bersekongkol dengan Lex Luthor, Batman dengan Joker, Pangeran Diponegoro dengan kompeni.
Kemudian, sejalan waktu, aku mulai bisa melunakkan pikiran tentang tokoh yang sangat aku kagumi itu. Seperti kata Pak Arief, Gie milik publik. Orang merdeka berpersepsi apa saja, bahkan perihal kenapa harus Nico.

Seorang teman yang melihat buku CSD terbit lagi dengan sampul wajah Nico, tak bisa menunggu untuk mengungkapkan kemarahannya. Pada suatu dini hari dia sms, aku pikir sesuatu yang penting, ternyata hanya ingin mengabarkan tentang "CSD terbit lagi. Kiamat! Soe Hok Gie brubah jd rangga yg genit!"
Seorang teman lain yang juga tergila-gila pada Gie, malah dengan sangat sadar menggunakan kata N***S untuk menyatakan kekesalannya tentang kenapa harus Nico.
Hahaha. Kasihan Nico, dia tampaknya tidak terlalu diterima dengan baik di kalangan pengagum Gie. Entah apa Salma Hayek juga mengalami hal yang sama ketika harus memerankan Frida Kahlo.

Tapi, bagaimanapun, Miles telah bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya membuat film itu. Ada baiknya kita tunggu saja dan beri penghargaan setinggi-tingginya. Semoga dengan begitu ide-ide dan impian Gie tentang Indonesia yang lebih baik bisa lebih menyebar ke mana saja. Mungkin teman-teman segenerasinya yang sekarang banyak alih profesi jadi koruptor bisa jadi sadar setelah menonton film itu.

Dan perihal kaosku itu, sekarang berdiam saja di lemariku, jarang aku pakai lagi. Terakhir waktu meliput reuni Wanadri di Subang sebulan yang lalu, itupun harus aku tutupi pakai rain coat. Malu rasanya, kaos kesayanganku itu sudah usang sekali dan banyak sobek di mana-mana.
Lagipula, sebentar lagi pasti akan banyak berseliweran kaos Gie yang baru dan mahal-mahal harganya, yang nggak bisa kebeli oleh anak muda atau mahasiswa kere yang berumah di lorong-lorong kampus dan sehari-hari bisa kenyang makan cukup dengan lauk "semangat" saja.