tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Sunday, May 29, 2005

Batu Tanpa Hati

"Ada liputan apa buat minggu ini?" tanya seorang teman.
Seorang teman lain yang baru bergabung makan di tukang gado-gado, menjawab. "Mantan preman sama orang lumpuh."
"Sekadar lumpuh?" tanya teman itu lagi.
"Belum tahu. Ntar baru lihat..."
Rasanya makanan didepanku tiba-tiba kehilangan rasa. Aku lupa kapan pertama kali mendengar orang bisa menaruh kata "sekadar" di depan kata penderitaan. Sudah terlalu sering, pastinya. Dan sedikit demi sedikit aku mulai menganggapnya sebagai hal yang biasa.
Aneh, bila ada peristiwa, pertanyaan selalu berkisar pada magnitude. Kebakarannya gede nggak? Ada yang mati nggak? Rampoknya bonyok nggak? Yaaa, berdarah doang, gak kuat!, dan sebagainya.
Begitulah. Mungkin selama ini, tanpa sadar, perlahan tapi pasti, kami beranjak menjadi batu tanpa hati.

Beberapa waktu yang lalu, ketika tugas liputan malam, seorang tua bijak memperingatkan kami --aku dan kameramen-- tentang "harapan-harapan buruk" para wartawan itu.
"Kalian shalat kan?" tanyanya. Kami mengangguk.
"Mengerti bacaannya?"
"Sedikit," jawabku.
"Di tahiyat ada bacaan assalamu alaina wa'ala ibadillahhis shalihin. Ada kan? Itu doa orang shalat supaya semua mahluk sejahtera dan berbahagia, tak terkecuali. Kalau shalat minimal lima kali sehari saja, doa itu setidaknya sudah dibaca sepuluh kali sehari. Hati-hati, dengan berharap terjadi hal-hal buruk pada orang lain supaya kalian dapat berita bagus, itu bisa menggugurkan tahiyat-mu. Dan shalatmu tak lebih dari ritual gerak badan saja..."