tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Monday, May 30, 2005

Pintu Dua

Lewat sebulan yang lalu pada suatu malam, seorang sahabat mengirimiku pesan pendek: Lg dmn? Liat ke langit, bln purnama, cantik skl...
Aku menengadah, mencari-cari, dan menemukan bulan bersinar penuh di atasku. Insomnia mungkin menyerangnya lagi, dan dia tahu aku pun sedang menjalankan misi nokturnalku, maka dia mengirimiku pesan pendek itu. Waktu itu aku sedang nongkrong di Pintu Dua menikmati sarabba dan pisang goreng di depan lapak Pak Bahar.

Pintu Dua adalah salah satu dari dua pintu masuk ke kampusku dulu. Pintu masuk resmi sebenarnya Pintu Satu, karena di situlah tempat plang nama universitas berdiri. Sedang Pintu Dua lebih sering dipakai sebagai pintu keluar, lewat di depan RS Wahidin lalu tembus ke perempatan depan Wesabbe. Di sepanjang pintu keluar banyak pedagang kaki lima berjualan. Tempat makan mahasiswa pondokan dan asrama, juga tempat diskusi. Semasa kuliah aku banyak menghabiskan malam di tempat ini. Seorang teman pernah menjuluki tempat ini sebagai wonderland, karena tak punya duit sekalipun tetap saja bisa kenyang bila berada di sini.

Ternyata, malam dengan bulan purnama itu terakhir kali aku bisa nongkrong di Pintu Dua. Tadi sore, di tivi ada berita penggusuran semua PKL di Pintu Dua yang berbuntut bentrokan antara PKL yang dibantu mahasiswa dan Satpam kampus plus polisi. Delapan orang masuk rumah sakit, dan Pintu Dua rata dengan tanah. Kembali, aku kehilangan satu lagi "rumah" ideologis.

Sunday, May 29, 2005

Batu Tanpa Hati

"Ada liputan apa buat minggu ini?" tanya seorang teman.
Seorang teman lain yang baru bergabung makan di tukang gado-gado, menjawab. "Mantan preman sama orang lumpuh."
"Sekadar lumpuh?" tanya teman itu lagi.
"Belum tahu. Ntar baru lihat..."
Rasanya makanan didepanku tiba-tiba kehilangan rasa. Aku lupa kapan pertama kali mendengar orang bisa menaruh kata "sekadar" di depan kata penderitaan. Sudah terlalu sering, pastinya. Dan sedikit demi sedikit aku mulai menganggapnya sebagai hal yang biasa.
Aneh, bila ada peristiwa, pertanyaan selalu berkisar pada magnitude. Kebakarannya gede nggak? Ada yang mati nggak? Rampoknya bonyok nggak? Yaaa, berdarah doang, gak kuat!, dan sebagainya.
Begitulah. Mungkin selama ini, tanpa sadar, perlahan tapi pasti, kami beranjak menjadi batu tanpa hati.

Beberapa waktu yang lalu, ketika tugas liputan malam, seorang tua bijak memperingatkan kami --aku dan kameramen-- tentang "harapan-harapan buruk" para wartawan itu.
"Kalian shalat kan?" tanyanya. Kami mengangguk.
"Mengerti bacaannya?"
"Sedikit," jawabku.
"Di tahiyat ada bacaan assalamu alaina wa'ala ibadillahhis shalihin. Ada kan? Itu doa orang shalat supaya semua mahluk sejahtera dan berbahagia, tak terkecuali. Kalau shalat minimal lima kali sehari saja, doa itu setidaknya sudah dibaca sepuluh kali sehari. Hati-hati, dengan berharap terjadi hal-hal buruk pada orang lain supaya kalian dapat berita bagus, itu bisa menggugurkan tahiyat-mu. Dan shalatmu tak lebih dari ritual gerak badan saja..."

Thursday, May 19, 2005

Penjara

Dalam hidup, semua orang terpenjara. Bedanya penjara itu ada yang dibuat berjendela, ada yang tidak.
--kata orang pandai.


Hari ini mengunjungi Lembaga Pemasyarakatan Terbuka di Gandul, perbatasan Depok-Jakarta. Penjara yang "aneh", nggak ada jeruji, nggak ada sel. Dalam batas yang wajar, narapidana bebas beraktifitas, melakukan apa saja. Keluar pagar pun boleh, asal tidak terlalu jauh.
Mereka para terhukum yang sudah melewati setengah atau dua pertiga dari masa tahanannya, dan diyakini tidak akan melarikan diri. Mereka yang dijamin oleh keluarganya akan selalu berkelakuan baik dan tidak akan mengulangi perbuatannya lagi. Mereka yang bukan terpidana kasus narkoba atau korupsi.

Siang tadi, ada yang dilempar ke kolam ikan. Besok dia bebas, meski belum tahu akan pulang ke mana.

Kamarnya lapang, lebih luas dari kamar kos-ku. Bisa bawa TV kalau mau, atau DVD player. Mereka bercocok tanam, beternak ayam, dan mengembang biakkan harapan.

Saturday, May 14, 2005

Luka


Lewat jam tiga subuh, setelah mengembalikan kamera ke logistik sepulang liputan, aku menemui Mas Produser di ruang ANN.
"Mas, malam ini nggak ada yang terluka," kataku.
Semuanya memang aman sentosa hingga saat kami meninggalkan Blok M tadi. Tak ada kabar buruk dari HT yang kemerosak, hanya seorang bocah yang nyolong kaca spion Alphard; tak begitu penting. Kawan-kawan wartawan TV lain juga tak beranjak dan memilih nongkrong atau tiduran di dalam mobil yang AC-nya dinyalakan.

Sehingga malam ini hanya dapat satu. Hamdani Amin, orang tua itu, setelah diperiksa berjam-jam di KPK, mengaku semua orang di KPU kebagian cipratan dana taktis yang jumlahnya lumayan itu. Pejabat-pejabat brengsek!
Betul-betul tidak ada yang terluka, kecuali hati nurani, kecuali rasa keadilan.
Kecuali jiwa ringkih ini, yang semakin lebam menerima buah kejahatan di masa lalu.