tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Monday, April 25, 2005

Teman

Sekarang sudah di Makassar lagi, dua kali dalam bulan ini. Kali ini bukan tugas, tapi semacam "melarikan diri" yang sah dan legal. Senang sekali bisa melakukan apa saja tanpa harus ketakutan tak bisa bangun pagi. Bertemu guru-guru lama dan mengulang pelajaran yang hampir terlupa.
Numpang di kosan adikku yang ikhwan itu, serasa jadi mahasiswa lagi, karena pasti akan dibangunkan shalat Subuh tanpa mau tahu tidur jam berapa tadinya. Menyakitkan, tapi aku merindukannya!
Insya Allah akhir bulan setelah gajian ditransfer baru terus ke Bone.

Aku ketinggalan banyak berita, tentu saja. Tak tahu lagi perkembangan KAA atau kasus Mulyana. Beberapa malam ini nongkrong di gedung kesenian nonton orang baca puisi, atau di kafe bukunya Aan. Menghindari TV dan koran barang sejenak.
Minggu lalu sebelum pulang, sempat "disidang" karena kebobolan berita. Kereta api yang nabrak PSK di Jatinegara itu tak terliput, padahal waktu itu jadwal tugasku liputan malam. Meski bukan sepenuhnya kesalahanku, tapi rasanya itu memalukan sekali sebagai wartawan.

Ya sudahlah. Sekarang sudah di sini. Senang-senang saja dulu, meski merasa banyak kehilangan. Banyak teman telah pergi. Banyak sekali.