tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Sunday, April 03, 2005

Sebelum Terlupa


Sebelum terlupa, akan kuceritakan sebuah kisah;
Rasanya, aku sering melihat orang itu, di waktu lampau. Dia tinggal beberapa blok dari rumahku. Setiap pagi dia lewat, berjalan tegap penuh wibawa seperti kebanyakan anak muda yang ingin membuat anak dara terkesan. Di kiri kanan rumahku memang banyak tinggal gadis-gadis. Waktu itu aku masih kecil, dan dia kira-kira sebesar aku sekarang.
Tapi tak banyak yang bisa aku ingat tentang dia, andai tidak dia ingatkan. Dia menyebut nama seorang haji terkenal di kampung kami.
"Saya keluarganya," katanya.
Setelah aku menyebut nama orang tuaku, baru dia percaya kalau kami berasal dari kampung yang sama.
"Tak percaya. Tak ada orang sana yang ganteng," katanya berkelakar. Aku tertawa, mengingat potongan masa kecilku yang dekil hitam khas anak kampung yang menghabiskan waktu bermain di bawah panas matahari. Tempora mutantur, Sir...

Bulan lalu, aku tak sengaja bertemu dia di sebuah pulau kecil, salah satu pulau paling luar Indonesia. Pulau yang terbagi dua, setengah Indonesia setengah Malaysia. Mata uang yang mereka pakai pun bisa dua-duanya, Rupiah atau Ringgit. Di tempat ini juga untuk pertama kalinya aku melihat tukang ojek antar bangsa, dan rumah yang terasnya Indonesia tapi dapurnya Malaysia.

Setelah beberapa hari di Tarakan dan mulai jenuh dengan liputan yang mengandalkan rilis resmi Angkatan Laut tentang krisis Ambalat, kami --aku dan Bang Ruli, kameramen-- memutuskan menyeberang ke sana. Kami berencana membuat liputan tentang masyarakat di perbatasan. Kelompok masyarakat inilah yang mungkin akan paling menderita jika perang RI-Malaysia benar-benar terjadi. Mereka, selama bertahun-tahun telah sangat tergantung secara ekonomi pada negeri seberang.
Aku tahu itu setelah bersama beberapa TKI menyusup tanpa paspor ke Sabah, negara bagian Malaysia yang berbatasan langsung dengan Kalimantan. Melihat mereka mengais-ngais Ringgit di negara orang, mustahil jika mereka betul-betul menginginkan perang seperti yang digembar-gemborkan di TV. Relawan inilah, relawan itulah...

Yang membuatku sedikit bangga menjadi orang Indonesia adalah setidaknya kita masih lebih bebas berbicara. Satu malam menongkrongi TV siaran Malaysia, hanya satu berita tentang krisis Ambalat, itupun tentang pertemuan formal pejabat kedua negara. Gak ada itu berita bendera mereka dibakar oleh orang kita.
Seorang penjaga toko di Tawau malah tak tahu kalau negaranya sedang berseteru dengan Indonesia.
"Ada denger sih, sikit..." kata nona berbaju panjang itu. Padahal di depan tokonya ada plang besar sebuah kantor berita lokal.
"Di sini pers tidak sebebas di Indonesia," kata Lalang, guide kami, anak muda asal Indonesia yang sudah memilih menjadi warga negara Malaysia. Anak muda yang sukses. Hanya dari hasil berjualan ikan di pasar, dia sudah bisa memiliki Toyota Hi-Lux double cabin keluaran terakhir, mobil yang sampai sekarang sering membuatku termimpi-mimpi.
Jawaban sederhana kenapa ribuan TKI tetap membanjiri Malaysia meski sudah diusir-usir seperti tikus. Ada seorang TKI yang dengan sedih menunjukkan bekas pukulan rotan petugas Malaysia di pantatnya, tapi tertawa ketika ditanya kenapa masih nekat kembali ke Malaysia.
"Di Indonesia mau makan apa?" katanya. Pukulan rotan mungkin tidak lebih pedih dari pukulan di ulu hati karena kelaparan. Dia mungkin memimpikan akan seperti Lalang yang berhasil mewujudkan Impian Malaysia-nya.
Bukan soal nasionalis atau bukan, tapi jika dihadapkan pada pilihan antara hidup layak atau bebas bicara, aku yakin tak banyak yang memilih yang kedua. TKI-TKI itu tidak butuh pers yang bebas.

=====
Kembali ke orang tua bekas tetanggaku itu. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dengannya, kecuali beberapa potongan ceritanya yang entah kenapa aku yakin benar.
...
"Dia dulu langganan rokok kami. Saya tanya dia, 'kenapa [kau lakukan] itu?', dia bilang 'saya kecewa, Bang. [Di Indonesia] maling ayam dihajar sampai mati, koruptor dibebaskan'. Begitu dia bilang, Zan."
"Kapan terakhir ketemu?" tanyaku.
Dia menatapku tajam sambil tersenyum. Aku tahu itu tanda dia tidak ingin menjawab pertanyaanku. Saya maklum dan mengganti pertanyaan.
"Kalau begitu, Bapak bisakah kasih ketemu saya dengan dia?" Aku membayangkan sebuah berita ekslusif: wawancara dengan salah satu dari dua orang yang paling dicari polisi Indonesia karena tuduhan peledakan bom dan terorisme internasional.
Tapi lagi-lagi dia hanya tersenyum, menunjukkan deretan giginya yang kekuningan karena rokok. Dia kemudian menggeleng yang entah berarti 'tidak mau' atau 'tidak tahu di mana dia sekarang'.
"Yang lain saja," katanya mengalihkan.
Lalu dia cerita pengalamannya terjebak di sebuah kamp gerilyawan di Filipina bagian selatan, dan direndam dalam kubangan lumpur berhari-hari sebelum sebuah nyanyian putus asa menyelamatkannya dari penderitaan berkelanjutan.
"Di hari keempat saya direndam, saya menyanyi karena stress. Tiba-tiba komandannya perintahkan anak buahnya kasih keluar saya dari lumpur. Lewat anak buahnya yang bisa bahasa Indonesia, komandannya tanya itu lagu apa, saya bilang itu lagu [....]. Dia tempeleng saya, langsung suruh saya mandi baru dikasih pakaian."
Konon, waktu masih anak-anak, si pemimpin gerilyawan pernah mendengar lagu itu dinyanyikan ibunya. Mendengarnya kembali, mengaduk memori masa kecilnya, dan itu cukup untuk membuatnya melepaskan seorang tawanan. Setelah itu --seperti dalam film-- mereka bersahabat, dan biasa bertemu di waktu-waktu tertentu.
"Kalau dengan dia saya bisa kasih ketemu," katanya. "Kapan pun kamu mau, kau cari saya."
Sebuah tawaran menarik, liputan kamp gerilyawan di negara tetangga pasti akan jadi cerita luar biasa. Tapi dia menolak menitipkan nomor teleponnya ketika aku minta. Pengalaman buruk telah mengajarkannya untuk selalu berhati-hati kepada siapa pun. Dia tahu kapan dan sampai mana dia harus berhenti mempercayai orang.
"Tak perlu nomer telpon. Kamu tahu lah di mana bisa mencari saya kan?"
Aku mengiyakan.
Sebelum meninggalkan dia, aku menatap wajahnya sekali lagi, meyakinkan diriku kalau dia tidak sedang mendongeng, apalagi membohongiku.
Tiba-tiba dia tersenyum, lagi. Bersamaan itu, aku menangkap binar matanya, seperti ada sirat yang dalam. Aku tahu dia rindu pulang.
Bulan depan aku pulang, Pak. Mau titip rindu-kah? tanyaku, dalam hati saja.