tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Monday, April 11, 2005

Makassar, dalam Ingatan Malam Hari

Aco mengamati bengap di wajahnya dari cermin kecil di tangannya. Itu pekerjaan Takbir, abangnya, barusan. Mata kirinya jadi tampak lebih kecil dari mata kanannya. Sedang Takbir, sibuk mengepel lantai yang baru saja dia bikin kotor. Ada banyak lumpur, pasir, dan bekas tapak kaki.
Dua anak jalanan bersaudara itu baru saja berkelahi yang membuat rusuh rumah singgah tempat mereka menumpang.

Aku sedang ngobrol dengan Bang Soni dan Syahrul --pengamen senior yang juga tinggal di rumah singgah itu--, ketika tau-tau serpihan batu melayang dan memecahkan gelas di sampingku. Refleks aku berdiri dan mendapati di belakangku dua bersaudara itu sudah berkejaran di dalam rumah. Aco mengangkat kursi dan melemparkannya ke Takbir yang hampir mengenai tipi yang sedang menyiarkan upacara pemakaman Paus.
Merasa lemparannya tak mengenai sasaran, Aco lari ke luar rumah dan hampir menabrak kami. Takbir yang mencoba mengejar aku tahan dengan memepetnya ke tiang pembatas. Badannya yang licin dan penuh tato itu hampir lolos dari cengkeramanku. Tiba-tiba dia meraih pecahan gelas di bawahnya dan melemparkannya ke Aco. Untung meleset, tak terbayangkan bagaimana bila pecahan gelas itu mengenai sasaran dan menancap di tubuh Aco.

Melihat dua bocah belasan itu tidak juga bisa dilerai, Rahmat, anak jalanan yang lebih tua dan diangkat sebagai kordinator di situ, langsung mengambil sapu lidi panjang dan dipukulkannya dengan keras ke Aco dan Takbir.
"Anak sundala, siapa lagi mau kau dengar kata-katanya di sinikah?!" teriak Rahmat yang membuat kedua anak itu segera terdiam.
Perkelahian pun terhenti. Tapi pukulan sapu lidi itu terlanjur meninggalkan baret di tubuh dua bocah itu. Rahmat lalu membawa Aco menjauh dari rumah dan memberinya pakaian ganti, dan Takbir dengan kesadaran sendiri segera mengambil sapu pel dan mulai membersihkan lantai.
Semuanya bermula dari permainan sepak bola di halaman rumah singgah.


====
"Lu profesional dong, Chan. Jangan main ngilang gitu."
Kata-kata itu seperti menampar wajahku. Menusuk, dan terasa lebih sakit karena diucapkan oleh orang yang sudah aku anggap seperti saudara sendiri, bukan sekadar partner kerja. Itu kedua kalinya dia menyebut kata yang sama untukku: hilang.

Sebelumnya aku ditugasin menjemput Bado, pengamen Pantai Losari yang nanti akan tampil bareng Fatur. Sesampainya di sana, aku mendapati Bado sedang melakukan pekerjaannya. Karena merasa take gambarnya masih lama, aku memutuskan menemani Bado mengamen beberapa lagu, setelah itu baru aku akan membawanya ke hotel.
Tapi baru juga lagu ketiga, tiba-tiba hp-ku berbunyi dengan sebuah perintah untuk segera membawa Bado ke hotel. Tanpa menunggu diberi bayaran, aku segera menarik Bado yang membuat orang yang tadi kami ngameni terheran-heran.
Sampai di hotel, aku pikir semuanya aman-aman saja, hingga kata-kata itu keluar.

Memang salahku. Malam sebelumnya, ketika pengambilan gambar pertama Bado di Losari, aku disebutnya "menghilang" juga. Padahal itu karena aku merasa tak harus melakukan apa-apa. Tugasku sebagai pemegang gun shot, sudah digantikan oleh stand microphone yang jauh lebih kokoh. Sehingga ketika mereka asyik syuting, aku meminjam gitar Lukman, seorang pengamen cilik yang jeda kerja karena menonton Bado di-syuting.
Lalu dengan niat iseng, aku mulai mengamen untuk beberapa pasangan yang sedang asyik menikmati malam, tak jauh dari lokasi syuting. Dapat beberapa, dan semua uangnya aku kasih ke Lukman yang punya gitar.
Tapi ternyata tindakanku itu --oleh kawan itu-- dianggap indisipliner. Dia menyebutku terjebak dalam romantisme dan nostalgia [murahan]. Dulu, tempat ini memang begitu akrab denganku.
Dan untuk pertama kalinya ada orang yang mencabut rokok dari mulutku lalu mematikannya dengan menginjaknya.


===
Aku tahu lambaian tangan itu betul-betul tulus. Puluhan pengamen yang sering mangkal di Sari Laut itu menyalami kami satu per satu, setelah syuting usai. Aku yang paling senang, tugasku sebagai penghubung antara tim program Menggapai Mimpi dan para pengamen Makassar itu, selesai sudah tanpa insiden. Semuanya berakhir dengan damai, kecuali sebuah salah paham kecil dengan pemilik warung yang warungnya kami tempati syuting.

Ketika menyalami mereka, aku sadar betapa tidak mudahnya menjalin pertemanan yang tulus di dunia yang materialistis ini. Tidak banyak yang mau menerima kita dengan baik tanpa pamrih. Di antara yang sedikit itu, ada mereka: pengamen-pengamen itu. Setidaknya begitulah yang aku rasa. Satu-satunya yang aku korbankan agar bisa masuk ke lingkungan mereka, hanyalah bahwa aku terpaksa merokok lagi.


===
Audisi musisi jalanan untuk program baru di kantorku sudah sampai di Makassar. Dan perjanjian antar petinggi program memutuskan aku di BKO-kan ke program baru itu, dengan deskripsi tugas yang -menurutku- tak jelas. Tadi Mas Asprod program baru menanyaiku kenapa tidak ikut ke Pejaten mengerjakan post-pro, dan aku bilang kalau mulai kemarin aku sudah ditarik lagi ke program asliku di spot. Dari sejak tiba dari Makassar tadi malam, Mas Korlip sudah menanyaiku apa sudah bisa liputan harian lagi, tapi aku tolak dan meminta libur dulu barang sehari untuk meregangkan otot.

Mas Asprod bilang aku ke Makassar sebagai reporter, sementara yang aku tahu, selain sebagai fixer (penghubung atau tim lobi-karena aku pernah lama di sana), tugasku adalah bantu-bantu sebagai audio man atau kameramen. Tapi kata Mas Asprod, "Kalau cuma sebagai audio-man, ngapain kita ngajak lu?"
Dibilang begitu, aku jadinya tidak enak juga, tapi beneran aku bingung karena itu wewenang para petinggi yang punya perintah. Aku ini hanya wayang, dak[ochan], bisa apalah.... :-)


======
[agar tak lupa berterima kasih, ada nama-nama yang harus disebut:
::Musisi jalanan di komunitas Sari Laut depan Port Rotterdam: Ruth, Udin, Safrie, Syahrul, Benong, Anto, Dedi, Dewi, Ani, dan semua yang namanya terlupa.
::Pengamen --banyak yang menganggap mereka lebih mirip penodong-- dan anak-anak jalanan di sepanjang Losari: Bado, Ade, Aco, Saso, Lukman, Ardi, dan semua yang menemaniku main bola tengah malam di bawah lampu merkuri.
::Semua penghuni rumah singgah Baruga Yasindo.
::Pedagang kaki lima Losari: Daeng Baenah dan kawan-kawan. Makasih masih mengingatku.
::Perek-perek Losari yang setia melengkapi malam, juga untuk sepasang anak muda yang berciuman panjang di pinggir pantai menjelang subuh itu. Kalian berhasil membuatku melongo dengan jiwa retak. Bukan apa-apa, perempuan berjilbab yang dikepit nafsu itu mengingatkanku pada seseorang...
]

btw, posting ini kok jadi mirip sampul kaset yak? :-)