tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Friday, April 01, 2005

Dulu dan Sekarang

Hari ini tidak kemana-mana. Salah jadwal lagi. Harusnya masuk malam, tapi terlanjur datang pagi. SMS Mas Korlip telat masuk. Menunda pulang, nunggu kios majalah di kantin buka. Dari kemarin nggak dapat-dapat NG edisi pertama itu.
Ngisi waktu nunggu Jumatan, ngeblog dulu lah. Udah lama juga gak nulis. Banyak yang terlewat, pasti.

Akhirnya Nikon buat Fuadi kebeli juga. SLR Semiotomatik. Dari jaman kuliah pengen banget punya benda itu, tapi gak bisa-bisa. Sekarang setelah punya kerjaan, alhamdulillah bisa nyisihkan dikit-dikit buat nyenengin adikku itu. Dia kuliah di jurusan yang sama dengan aku dulu. Kemarin katanya dia mau belajar motret. Aku bilang kalo gitu belajarnya pake SLR manual dulu, kalo udah mantap baru coba yang digital. Nanti nabung lagi, biar bisa beli.

Tanpa sadar, rasanya paradigmaku berubah pelan-pelan. Demi adik-adikku, ikhlas rasanya kerja mati-matian. Hanya karena mengingat mereka aku jadi hati-hati ngambil resiko yang berhubungan dengan pekerjaan. Dulu, kasarnya, dipecat pun gak masalah, asal bisa ngelawan. Sekarang, seperti dalam perang, aku mesti belajar tiarap, melawan peluru berdesing tidak harus dengan berdiri...
Aku mencoba nggak egois lagi. Kalau dulu niatku kerja hanya supaya bisa nabung buat membiayai perjalanan, sekarang semakin ke sini semakin dibuat sadar kalo ternyata ada yang jauh lebih penting dari sekadar patok kilometer nol sebuah kota atau wangi udara pedesaan entah di mana.
Ada kebahagiaan besar kalau bisa bikin mereka senang. Karena aku tahu rasanya gimana dulu kalau pengen apa-apa tapi gak bisa. Sekarang, aku tak mau adik-adikku harus terlalu banyak memustahilkan mimpi-mimpi mereka yang sederhana. Selama itu wajar, setidaknya mereka harus bisa memperolehnya, tanpa harus jadi manja. Itu saja.

Bunda juga mulai kuliah lagi. Di usianya yang sudah tidak muda, keinginan belajarnya masih menyala, ternyata. Bunda, seorang pegawai negeri biasa, sudah menunjukkan bagaimana semestinya berkorban. Setelah anak-anaknya dirasa sudah bisa berdiri tenang dengan pendidikan yang cukup, barulah Bunda melanjutkan pendidikannya sendiri. Alhamdulillah, kantor tempatnya kerja ngasih Bunda dispensasi buat ngelanjutin sarjana muda-nya yang sudah puluhan tahun disandangnya itu. Sekarang Bunda kerja sambil kuliah. Semoga semuanya bisa lancar. Semoga.

=====

"Ada sesuatu yang mulanya tak begitu jelas,
tapi kini kita mulai merindukannya." ---Taufik Ismail

...
Ya, rasanya aku juga mulai merindukan sesuatu, yang dulu tak begitu jelas.
Bencana di Nias, aku tak hadir di sana --tapi diwakili oleh carrier Eiger-ku yang dipinjem Mas Osa yang ditugasin ke sana. Lumayanlah, mudah-mudahan nanti pulang dia bawa cerita :).
Menontonnya dari tivi saja. Konon, kontributor kami yang pertama kali dapat gambarnya. Bos-bos bergembira karena dengan begitu gengsi stasiun naik --sejajar stasiun Gambir! Hehehe. [Sori, Bos, becanda...:)]
Begitulah kenyataannya, orang yang mati tertimpa beton bisa berpengaruh terhadap kesejahteraan karyawan stasiun tivi yang berjarak ribuan kilometer darinya.

Minggu ini liputan Jakarta banyak yang tersingkir. Di Bali, berita dua bersaudara yang berebut kekuasaan sebuah partai, juga tenggelam beritanya. Meski tak sekencang Aceh, berita Nias lumayan mendominasi media massa. Kemarin waktu bikin vox pop tentang Nias, ada yang bikin miris. Ada narsum yang bilang kalau bencana itu datang karena banyak dosa. Ada juga yang bilang kalau bantuan ke Nias tak secepat ke Aceh karena persoalan ideologis. Konon, solidaritas nasional itu tergantung agama. Pahit! Semoga tidak demikian, karena penderitaan itu bukankah universal?