tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Saturday, April 16, 2005

Congkak


Dua hari kemarin mengerjakan feature gempa bumi. Menongkrongi BPPT dan BMG. Dapat banyak ilmu baru lagi tentang planet bumi yang dinamis ini. Tentang lempeng samudra yang terus bergerak menghantam lempeng benua, dan menjadi bom waktu gempa bumi yang entah kapan akan meluluhlantak apa saja yang ada di atasnya. Tentang arus konveksi yang senantiasa meregang lapisan luar bumi. Tentang apa saja.

Untuk urusan gempa, Indonesia sedikit lagi menyamai Jepang. Tahun 2004 lalu, BMG mencatat 4194 gempa skala besar dan kecil, yang paling besar dan menyakitkan adalah gempa plus tsunami Aceh 26 Desember. 8.8 menurut BMG, 9.0 menurut USGS.

Seluruh Indonesia betul-betul rawan. Hanya Pulau Kalimantan bagian tengah dan Papua Selatan yang pada peta seismik tidak menunjukkan gejala mengkhawatirkan. Jakarta, meskipun jauh dari jalur rawan gempa, tetap saja beresiko terimbas. Pencakar langit di mana-mana dan struktur tanah yang bolong-bolong, membuat kota ini menjadi semakin ringkih. Dari obrolan off the record dengan seorang pakar gempa, dia memperkirakan tak satu pun gedung yang bisa bertahan tegak bila gempa benar-benar menghantam Jakarta, tarolah, dengan kekuatan sebesar gempa Aceh kemarin!
Ketika mengambil gambar ketinggian Jakarta dari helipad di atas gedung BPPT, ngeri sekali membayangkan bangunan besar itu rubuh satu-satu kehilangan fondasi. Gedung BNI yang katanya paling tinggi itu, BI, Bank Mandiri, Monas, Bank Mega, Trans TV... Mungkin hanya Summitmas I yang bisa bertahan karena dibangun dengan konstruksi anti gempa yang diadaptasi dari Jepang.

Semoga tidak terjadi. Kemarin Kompas menulis kemungkinan rentetan gempa akan mencapai Singapura dan Jakarta bila gempa besar terjadi di Mentawai. Mentawai sudah 3 kali --Kompas menulis 2 kali-- diguncang gempa besar berkekuatan lebih dari 8 Magnitude; 1650, 1797, 1833. Beberapa kali gempa itu bahkan sempat mengirim tsunami setinggi puluhan meter hingga ke Padang. Tak perlu tsunami, Jakarta hanya perlu gempanya saja untuk mengubur jutaan orang di bawah reruntuhan rimba beton. Berdoa saja semoga tanah yang satu ini masih rela dan selalu rendah hati menanggung beban kesombongan jutaan manusia --kita.

Jeda liputan, shalat Jumat di mesjid kantor BMG, sang khatib bercerita tentang manusia yang semakin congkak. Dalam khotbah yang hanya kudengar ujungnya itu saja, dengan tegas khatib menyebut rentetan bencana yang terjadi belakangan ini sebagai azab, hukuman. Bukan lagi peringatan atau ujian.
Pak Khatib mungkin benar, bahwa itu azab, seperti halnya aku yang tiba-tiba merasa congkak karena lebih senang menunggu di luar dan baru mau masuk mesjid setelah iqamat berkumandang.