tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Monday, April 25, 2005

Teman

Sekarang sudah di Makassar lagi, dua kali dalam bulan ini. Kali ini bukan tugas, tapi semacam "melarikan diri" yang sah dan legal. Senang sekali bisa melakukan apa saja tanpa harus ketakutan tak bisa bangun pagi. Bertemu guru-guru lama dan mengulang pelajaran yang hampir terlupa.
Numpang di kosan adikku yang ikhwan itu, serasa jadi mahasiswa lagi, karena pasti akan dibangunkan shalat Subuh tanpa mau tahu tidur jam berapa tadinya. Menyakitkan, tapi aku merindukannya!
Insya Allah akhir bulan setelah gajian ditransfer baru terus ke Bone.

Aku ketinggalan banyak berita, tentu saja. Tak tahu lagi perkembangan KAA atau kasus Mulyana. Beberapa malam ini nongkrong di gedung kesenian nonton orang baca puisi, atau di kafe bukunya Aan. Menghindari TV dan koran barang sejenak.
Minggu lalu sebelum pulang, sempat "disidang" karena kebobolan berita. Kereta api yang nabrak PSK di Jatinegara itu tak terliput, padahal waktu itu jadwal tugasku liputan malam. Meski bukan sepenuhnya kesalahanku, tapi rasanya itu memalukan sekali sebagai wartawan.

Ya sudahlah. Sekarang sudah di sini. Senang-senang saja dulu, meski merasa banyak kehilangan. Banyak teman telah pergi. Banyak sekali.

Wednesday, April 20, 2005

[...?]

Sejukkan hatimu selalu.
Sejukkan hatimu selalu.
Sejukkan hatimu selalu.
Sejukkan hatimu selalu.
Sejukkan hatimu selalu.
Sejukkan hatimu selalu.
Sejukkan hatimu selalu.
Sejukkan hatimu selalu.
Sejukkan hatimu selalu.
Sejukkan hatimu selalu.
Sejukkan hatimu selalu.
Sejukkan hatimu selalu.
Sejukkan hatimu selalu.
Sejukkan hatimu selalu.
Sejukkan hatimu selalu.

Saturday, April 16, 2005

Congkak


Dua hari kemarin mengerjakan feature gempa bumi. Menongkrongi BPPT dan BMG. Dapat banyak ilmu baru lagi tentang planet bumi yang dinamis ini. Tentang lempeng samudra yang terus bergerak menghantam lempeng benua, dan menjadi bom waktu gempa bumi yang entah kapan akan meluluhlantak apa saja yang ada di atasnya. Tentang arus konveksi yang senantiasa meregang lapisan luar bumi. Tentang apa saja.

Untuk urusan gempa, Indonesia sedikit lagi menyamai Jepang. Tahun 2004 lalu, BMG mencatat 4194 gempa skala besar dan kecil, yang paling besar dan menyakitkan adalah gempa plus tsunami Aceh 26 Desember. 8.8 menurut BMG, 9.0 menurut USGS.

Seluruh Indonesia betul-betul rawan. Hanya Pulau Kalimantan bagian tengah dan Papua Selatan yang pada peta seismik tidak menunjukkan gejala mengkhawatirkan. Jakarta, meskipun jauh dari jalur rawan gempa, tetap saja beresiko terimbas. Pencakar langit di mana-mana dan struktur tanah yang bolong-bolong, membuat kota ini menjadi semakin ringkih. Dari obrolan off the record dengan seorang pakar gempa, dia memperkirakan tak satu pun gedung yang bisa bertahan tegak bila gempa benar-benar menghantam Jakarta, tarolah, dengan kekuatan sebesar gempa Aceh kemarin!
Ketika mengambil gambar ketinggian Jakarta dari helipad di atas gedung BPPT, ngeri sekali membayangkan bangunan besar itu rubuh satu-satu kehilangan fondasi. Gedung BNI yang katanya paling tinggi itu, BI, Bank Mandiri, Monas, Bank Mega, Trans TV... Mungkin hanya Summitmas I yang bisa bertahan karena dibangun dengan konstruksi anti gempa yang diadaptasi dari Jepang.

Semoga tidak terjadi. Kemarin Kompas menulis kemungkinan rentetan gempa akan mencapai Singapura dan Jakarta bila gempa besar terjadi di Mentawai. Mentawai sudah 3 kali --Kompas menulis 2 kali-- diguncang gempa besar berkekuatan lebih dari 8 Magnitude; 1650, 1797, 1833. Beberapa kali gempa itu bahkan sempat mengirim tsunami setinggi puluhan meter hingga ke Padang. Tak perlu tsunami, Jakarta hanya perlu gempanya saja untuk mengubur jutaan orang di bawah reruntuhan rimba beton. Berdoa saja semoga tanah yang satu ini masih rela dan selalu rendah hati menanggung beban kesombongan jutaan manusia --kita.

Jeda liputan, shalat Jumat di mesjid kantor BMG, sang khatib bercerita tentang manusia yang semakin congkak. Dalam khotbah yang hanya kudengar ujungnya itu saja, dengan tegas khatib menyebut rentetan bencana yang terjadi belakangan ini sebagai azab, hukuman. Bukan lagi peringatan atau ujian.
Pak Khatib mungkin benar, bahwa itu azab, seperti halnya aku yang tiba-tiba merasa congkak karena lebih senang menunggu di luar dan baru mau masuk mesjid setelah iqamat berkumandang.

Monday, April 11, 2005

Makassar, dalam Ingatan Malam Hari

Aco mengamati bengap di wajahnya dari cermin kecil di tangannya. Itu pekerjaan Takbir, abangnya, barusan. Mata kirinya jadi tampak lebih kecil dari mata kanannya. Sedang Takbir, sibuk mengepel lantai yang baru saja dia bikin kotor. Ada banyak lumpur, pasir, dan bekas tapak kaki.
Dua anak jalanan bersaudara itu baru saja berkelahi yang membuat rusuh rumah singgah tempat mereka menumpang.

Aku sedang ngobrol dengan Bang Soni dan Syahrul --pengamen senior yang juga tinggal di rumah singgah itu--, ketika tau-tau serpihan batu melayang dan memecahkan gelas di sampingku. Refleks aku berdiri dan mendapati di belakangku dua bersaudara itu sudah berkejaran di dalam rumah. Aco mengangkat kursi dan melemparkannya ke Takbir yang hampir mengenai tipi yang sedang menyiarkan upacara pemakaman Paus.
Merasa lemparannya tak mengenai sasaran, Aco lari ke luar rumah dan hampir menabrak kami. Takbir yang mencoba mengejar aku tahan dengan memepetnya ke tiang pembatas. Badannya yang licin dan penuh tato itu hampir lolos dari cengkeramanku. Tiba-tiba dia meraih pecahan gelas di bawahnya dan melemparkannya ke Aco. Untung meleset, tak terbayangkan bagaimana bila pecahan gelas itu mengenai sasaran dan menancap di tubuh Aco.

Melihat dua bocah belasan itu tidak juga bisa dilerai, Rahmat, anak jalanan yang lebih tua dan diangkat sebagai kordinator di situ, langsung mengambil sapu lidi panjang dan dipukulkannya dengan keras ke Aco dan Takbir.
"Anak sundala, siapa lagi mau kau dengar kata-katanya di sinikah?!" teriak Rahmat yang membuat kedua anak itu segera terdiam.
Perkelahian pun terhenti. Tapi pukulan sapu lidi itu terlanjur meninggalkan baret di tubuh dua bocah itu. Rahmat lalu membawa Aco menjauh dari rumah dan memberinya pakaian ganti, dan Takbir dengan kesadaran sendiri segera mengambil sapu pel dan mulai membersihkan lantai.
Semuanya bermula dari permainan sepak bola di halaman rumah singgah.


====
"Lu profesional dong, Chan. Jangan main ngilang gitu."
Kata-kata itu seperti menampar wajahku. Menusuk, dan terasa lebih sakit karena diucapkan oleh orang yang sudah aku anggap seperti saudara sendiri, bukan sekadar partner kerja. Itu kedua kalinya dia menyebut kata yang sama untukku: hilang.

Sebelumnya aku ditugasin menjemput Bado, pengamen Pantai Losari yang nanti akan tampil bareng Fatur. Sesampainya di sana, aku mendapati Bado sedang melakukan pekerjaannya. Karena merasa take gambarnya masih lama, aku memutuskan menemani Bado mengamen beberapa lagu, setelah itu baru aku akan membawanya ke hotel.
Tapi baru juga lagu ketiga, tiba-tiba hp-ku berbunyi dengan sebuah perintah untuk segera membawa Bado ke hotel. Tanpa menunggu diberi bayaran, aku segera menarik Bado yang membuat orang yang tadi kami ngameni terheran-heran.
Sampai di hotel, aku pikir semuanya aman-aman saja, hingga kata-kata itu keluar.

Memang salahku. Malam sebelumnya, ketika pengambilan gambar pertama Bado di Losari, aku disebutnya "menghilang" juga. Padahal itu karena aku merasa tak harus melakukan apa-apa. Tugasku sebagai pemegang gun shot, sudah digantikan oleh stand microphone yang jauh lebih kokoh. Sehingga ketika mereka asyik syuting, aku meminjam gitar Lukman, seorang pengamen cilik yang jeda kerja karena menonton Bado di-syuting.
Lalu dengan niat iseng, aku mulai mengamen untuk beberapa pasangan yang sedang asyik menikmati malam, tak jauh dari lokasi syuting. Dapat beberapa, dan semua uangnya aku kasih ke Lukman yang punya gitar.
Tapi ternyata tindakanku itu --oleh kawan itu-- dianggap indisipliner. Dia menyebutku terjebak dalam romantisme dan nostalgia [murahan]. Dulu, tempat ini memang begitu akrab denganku.
Dan untuk pertama kalinya ada orang yang mencabut rokok dari mulutku lalu mematikannya dengan menginjaknya.


===
Aku tahu lambaian tangan itu betul-betul tulus. Puluhan pengamen yang sering mangkal di Sari Laut itu menyalami kami satu per satu, setelah syuting usai. Aku yang paling senang, tugasku sebagai penghubung antara tim program Menggapai Mimpi dan para pengamen Makassar itu, selesai sudah tanpa insiden. Semuanya berakhir dengan damai, kecuali sebuah salah paham kecil dengan pemilik warung yang warungnya kami tempati syuting.

Ketika menyalami mereka, aku sadar betapa tidak mudahnya menjalin pertemanan yang tulus di dunia yang materialistis ini. Tidak banyak yang mau menerima kita dengan baik tanpa pamrih. Di antara yang sedikit itu, ada mereka: pengamen-pengamen itu. Setidaknya begitulah yang aku rasa. Satu-satunya yang aku korbankan agar bisa masuk ke lingkungan mereka, hanyalah bahwa aku terpaksa merokok lagi.


===
Audisi musisi jalanan untuk program baru di kantorku sudah sampai di Makassar. Dan perjanjian antar petinggi program memutuskan aku di BKO-kan ke program baru itu, dengan deskripsi tugas yang -menurutku- tak jelas. Tadi Mas Asprod program baru menanyaiku kenapa tidak ikut ke Pejaten mengerjakan post-pro, dan aku bilang kalau mulai kemarin aku sudah ditarik lagi ke program asliku di spot. Dari sejak tiba dari Makassar tadi malam, Mas Korlip sudah menanyaiku apa sudah bisa liputan harian lagi, tapi aku tolak dan meminta libur dulu barang sehari untuk meregangkan otot.

Mas Asprod bilang aku ke Makassar sebagai reporter, sementara yang aku tahu, selain sebagai fixer (penghubung atau tim lobi-karena aku pernah lama di sana), tugasku adalah bantu-bantu sebagai audio man atau kameramen. Tapi kata Mas Asprod, "Kalau cuma sebagai audio-man, ngapain kita ngajak lu?"
Dibilang begitu, aku jadinya tidak enak juga, tapi beneran aku bingung karena itu wewenang para petinggi yang punya perintah. Aku ini hanya wayang, dak[ochan], bisa apalah.... :-)


======
[agar tak lupa berterima kasih, ada nama-nama yang harus disebut:
::Musisi jalanan di komunitas Sari Laut depan Port Rotterdam: Ruth, Udin, Safrie, Syahrul, Benong, Anto, Dedi, Dewi, Ani, dan semua yang namanya terlupa.
::Pengamen --banyak yang menganggap mereka lebih mirip penodong-- dan anak-anak jalanan di sepanjang Losari: Bado, Ade, Aco, Saso, Lukman, Ardi, dan semua yang menemaniku main bola tengah malam di bawah lampu merkuri.
::Semua penghuni rumah singgah Baruga Yasindo.
::Pedagang kaki lima Losari: Daeng Baenah dan kawan-kawan. Makasih masih mengingatku.
::Perek-perek Losari yang setia melengkapi malam, juga untuk sepasang anak muda yang berciuman panjang di pinggir pantai menjelang subuh itu. Kalian berhasil membuatku melongo dengan jiwa retak. Bukan apa-apa, perempuan berjilbab yang dikepit nafsu itu mengingatkanku pada seseorang...
]

btw, posting ini kok jadi mirip sampul kaset yak? :-)

Tuesday, April 05, 2005

With Arms Wide Open


Di kubikal sebelah, seorang teman memutar mp.3 Creed, With Arms Wide Open. Lagu itu lagi. Beberapa hari ini, tanpa disengaja, lagu itu seperti mengikuti langkah kemana pergi. Menjadi seperti soundtrack film kehidupan. Mulai dari komputer tetangga kosan hingga tip mobil kantor, semua memutarnya. Aneh, karena lagu itu tidak sedang hit di radio-radio. Grup band penyanyinya juga sudah bubar setahun yang lalu.
Ditulis oleh Scott Stapp, vokalis Creed. Scott memainkan lagu itu untuk menyambut kelahiran Jagger, anak pertamanya.
...
If I had just one wish
Only one demand
I hope he's not like me
I hope he understands
That he can take this life
And hold it by the hand
And he can greet the world
With arms wide open...


Sebentuk harap dalam lirik. Sangat sederhana.
Tapi, kenapa lagu itu baru berseliweran lagi setelah sekian lama?
Mungkinkah banyak orang telah terkenang olehnya sehingga merasa perlu memutarnya lagi? Ataukah itu petanda buana bahwa kenyataan hidup yang mulai sering tidak masuk akal telah membuat banyak orang tua mengharapkan anaknya lahir tanpa harus mengikuti jejaknya, mengalami nasib sepertinya?

Dan mendengar lagu itu, mau tidak mau juga membuatku berpikir, telahkah aku menjadi seperti yang diharapkan bapakku, dan bukan sekadar "not like me, My Son..."?
...
Huss!! Terlalu banyak tanya! Tak bagus bagi kandungan.

====
[::entri ini ditulis dengan ingatan kepada seorang teman yang sedang menanti kelahiran anak pertamanya bulan Juli nanti, dan untuk seorang teman lain yang juga sedang menanti bulan Oktober tiba. Banyak doa untuk kalian.]

Sunday, April 03, 2005

Sebelum Terlupa


Sebelum terlupa, akan kuceritakan sebuah kisah;
Rasanya, aku sering melihat orang itu, di waktu lampau. Dia tinggal beberapa blok dari rumahku. Setiap pagi dia lewat, berjalan tegap penuh wibawa seperti kebanyakan anak muda yang ingin membuat anak dara terkesan. Di kiri kanan rumahku memang banyak tinggal gadis-gadis. Waktu itu aku masih kecil, dan dia kira-kira sebesar aku sekarang.
Tapi tak banyak yang bisa aku ingat tentang dia, andai tidak dia ingatkan. Dia menyebut nama seorang haji terkenal di kampung kami.
"Saya keluarganya," katanya.
Setelah aku menyebut nama orang tuaku, baru dia percaya kalau kami berasal dari kampung yang sama.
"Tak percaya. Tak ada orang sana yang ganteng," katanya berkelakar. Aku tertawa, mengingat potongan masa kecilku yang dekil hitam khas anak kampung yang menghabiskan waktu bermain di bawah panas matahari. Tempora mutantur, Sir...

Bulan lalu, aku tak sengaja bertemu dia di sebuah pulau kecil, salah satu pulau paling luar Indonesia. Pulau yang terbagi dua, setengah Indonesia setengah Malaysia. Mata uang yang mereka pakai pun bisa dua-duanya, Rupiah atau Ringgit. Di tempat ini juga untuk pertama kalinya aku melihat tukang ojek antar bangsa, dan rumah yang terasnya Indonesia tapi dapurnya Malaysia.

Setelah beberapa hari di Tarakan dan mulai jenuh dengan liputan yang mengandalkan rilis resmi Angkatan Laut tentang krisis Ambalat, kami --aku dan Bang Ruli, kameramen-- memutuskan menyeberang ke sana. Kami berencana membuat liputan tentang masyarakat di perbatasan. Kelompok masyarakat inilah yang mungkin akan paling menderita jika perang RI-Malaysia benar-benar terjadi. Mereka, selama bertahun-tahun telah sangat tergantung secara ekonomi pada negeri seberang.
Aku tahu itu setelah bersama beberapa TKI menyusup tanpa paspor ke Sabah, negara bagian Malaysia yang berbatasan langsung dengan Kalimantan. Melihat mereka mengais-ngais Ringgit di negara orang, mustahil jika mereka betul-betul menginginkan perang seperti yang digembar-gemborkan di TV. Relawan inilah, relawan itulah...

Yang membuatku sedikit bangga menjadi orang Indonesia adalah setidaknya kita masih lebih bebas berbicara. Satu malam menongkrongi TV siaran Malaysia, hanya satu berita tentang krisis Ambalat, itupun tentang pertemuan formal pejabat kedua negara. Gak ada itu berita bendera mereka dibakar oleh orang kita.
Seorang penjaga toko di Tawau malah tak tahu kalau negaranya sedang berseteru dengan Indonesia.
"Ada denger sih, sikit..." kata nona berbaju panjang itu. Padahal di depan tokonya ada plang besar sebuah kantor berita lokal.
"Di sini pers tidak sebebas di Indonesia," kata Lalang, guide kami, anak muda asal Indonesia yang sudah memilih menjadi warga negara Malaysia. Anak muda yang sukses. Hanya dari hasil berjualan ikan di pasar, dia sudah bisa memiliki Toyota Hi-Lux double cabin keluaran terakhir, mobil yang sampai sekarang sering membuatku termimpi-mimpi.
Jawaban sederhana kenapa ribuan TKI tetap membanjiri Malaysia meski sudah diusir-usir seperti tikus. Ada seorang TKI yang dengan sedih menunjukkan bekas pukulan rotan petugas Malaysia di pantatnya, tapi tertawa ketika ditanya kenapa masih nekat kembali ke Malaysia.
"Di Indonesia mau makan apa?" katanya. Pukulan rotan mungkin tidak lebih pedih dari pukulan di ulu hati karena kelaparan. Dia mungkin memimpikan akan seperti Lalang yang berhasil mewujudkan Impian Malaysia-nya.
Bukan soal nasionalis atau bukan, tapi jika dihadapkan pada pilihan antara hidup layak atau bebas bicara, aku yakin tak banyak yang memilih yang kedua. TKI-TKI itu tidak butuh pers yang bebas.

=====
Kembali ke orang tua bekas tetanggaku itu. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dengannya, kecuali beberapa potongan ceritanya yang entah kenapa aku yakin benar.
...
"Dia dulu langganan rokok kami. Saya tanya dia, 'kenapa [kau lakukan] itu?', dia bilang 'saya kecewa, Bang. [Di Indonesia] maling ayam dihajar sampai mati, koruptor dibebaskan'. Begitu dia bilang, Zan."
"Kapan terakhir ketemu?" tanyaku.
Dia menatapku tajam sambil tersenyum. Aku tahu itu tanda dia tidak ingin menjawab pertanyaanku. Saya maklum dan mengganti pertanyaan.
"Kalau begitu, Bapak bisakah kasih ketemu saya dengan dia?" Aku membayangkan sebuah berita ekslusif: wawancara dengan salah satu dari dua orang yang paling dicari polisi Indonesia karena tuduhan peledakan bom dan terorisme internasional.
Tapi lagi-lagi dia hanya tersenyum, menunjukkan deretan giginya yang kekuningan karena rokok. Dia kemudian menggeleng yang entah berarti 'tidak mau' atau 'tidak tahu di mana dia sekarang'.
"Yang lain saja," katanya mengalihkan.
Lalu dia cerita pengalamannya terjebak di sebuah kamp gerilyawan di Filipina bagian selatan, dan direndam dalam kubangan lumpur berhari-hari sebelum sebuah nyanyian putus asa menyelamatkannya dari penderitaan berkelanjutan.
"Di hari keempat saya direndam, saya menyanyi karena stress. Tiba-tiba komandannya perintahkan anak buahnya kasih keluar saya dari lumpur. Lewat anak buahnya yang bisa bahasa Indonesia, komandannya tanya itu lagu apa, saya bilang itu lagu [....]. Dia tempeleng saya, langsung suruh saya mandi baru dikasih pakaian."
Konon, waktu masih anak-anak, si pemimpin gerilyawan pernah mendengar lagu itu dinyanyikan ibunya. Mendengarnya kembali, mengaduk memori masa kecilnya, dan itu cukup untuk membuatnya melepaskan seorang tawanan. Setelah itu --seperti dalam film-- mereka bersahabat, dan biasa bertemu di waktu-waktu tertentu.
"Kalau dengan dia saya bisa kasih ketemu," katanya. "Kapan pun kamu mau, kau cari saya."
Sebuah tawaran menarik, liputan kamp gerilyawan di negara tetangga pasti akan jadi cerita luar biasa. Tapi dia menolak menitipkan nomor teleponnya ketika aku minta. Pengalaman buruk telah mengajarkannya untuk selalu berhati-hati kepada siapa pun. Dia tahu kapan dan sampai mana dia harus berhenti mempercayai orang.
"Tak perlu nomer telpon. Kamu tahu lah di mana bisa mencari saya kan?"
Aku mengiyakan.
Sebelum meninggalkan dia, aku menatap wajahnya sekali lagi, meyakinkan diriku kalau dia tidak sedang mendongeng, apalagi membohongiku.
Tiba-tiba dia tersenyum, lagi. Bersamaan itu, aku menangkap binar matanya, seperti ada sirat yang dalam. Aku tahu dia rindu pulang.
Bulan depan aku pulang, Pak. Mau titip rindu-kah? tanyaku, dalam hati saja.

Saturday, April 02, 2005

Belang

Seorang bijak yang menyebut dirinya Don Juan, hari ini telah mampir dan menulis pesan di tagboard:
"para pengunjung blog ini, mohon bandingkan posting yang ditulis mas ocan, 1 April 2005 dan 13 Maret 2005. Kelihatan belangnya."

Aku nggak tahu apa maksudnya. Yang pasti "belang" hampir selalu bermakna negatif. Kadang dinisbatkan pada binatang. Coreng moreng. Semacam noda di kulit yang putih.
Dan orang itu, mungkin merasa punya otoritas untuk menilaiku, mengabsahkan diri pada posisi serba tahu. Terima kasih selalu, kalau begitu.

Aku nggak yakin apa namanya, tapi tetap ada rasa sesak dan pedih membayangkan ada seseorang di luar sana yang terganggu oleh pikiran kita.
Meskipun, kata Bill Cosby, "Saya tidak tahu apa arti "sukses", tapi "gagal" adalah ketika kita ingin membahagiakan semua orang." Benarlah, karena kita tidak diciptakan untuk itu.

Jadi, Mister Don Juan, jikalau Anda ingin mencari bahagia, mungkin tidak di sini tempatnya. Mohon maaf, aku tidak punya itu untuk Anda.

Friday, April 01, 2005

Dulu dan Sekarang

Hari ini tidak kemana-mana. Salah jadwal lagi. Harusnya masuk malam, tapi terlanjur datang pagi. SMS Mas Korlip telat masuk. Menunda pulang, nunggu kios majalah di kantin buka. Dari kemarin nggak dapat-dapat NG edisi pertama itu.
Ngisi waktu nunggu Jumatan, ngeblog dulu lah. Udah lama juga gak nulis. Banyak yang terlewat, pasti.

Akhirnya Nikon buat Fuadi kebeli juga. SLR Semiotomatik. Dari jaman kuliah pengen banget punya benda itu, tapi gak bisa-bisa. Sekarang setelah punya kerjaan, alhamdulillah bisa nyisihkan dikit-dikit buat nyenengin adikku itu. Dia kuliah di jurusan yang sama dengan aku dulu. Kemarin katanya dia mau belajar motret. Aku bilang kalo gitu belajarnya pake SLR manual dulu, kalo udah mantap baru coba yang digital. Nanti nabung lagi, biar bisa beli.

Tanpa sadar, rasanya paradigmaku berubah pelan-pelan. Demi adik-adikku, ikhlas rasanya kerja mati-matian. Hanya karena mengingat mereka aku jadi hati-hati ngambil resiko yang berhubungan dengan pekerjaan. Dulu, kasarnya, dipecat pun gak masalah, asal bisa ngelawan. Sekarang, seperti dalam perang, aku mesti belajar tiarap, melawan peluru berdesing tidak harus dengan berdiri...
Aku mencoba nggak egois lagi. Kalau dulu niatku kerja hanya supaya bisa nabung buat membiayai perjalanan, sekarang semakin ke sini semakin dibuat sadar kalo ternyata ada yang jauh lebih penting dari sekadar patok kilometer nol sebuah kota atau wangi udara pedesaan entah di mana.
Ada kebahagiaan besar kalau bisa bikin mereka senang. Karena aku tahu rasanya gimana dulu kalau pengen apa-apa tapi gak bisa. Sekarang, aku tak mau adik-adikku harus terlalu banyak memustahilkan mimpi-mimpi mereka yang sederhana. Selama itu wajar, setidaknya mereka harus bisa memperolehnya, tanpa harus jadi manja. Itu saja.

Bunda juga mulai kuliah lagi. Di usianya yang sudah tidak muda, keinginan belajarnya masih menyala, ternyata. Bunda, seorang pegawai negeri biasa, sudah menunjukkan bagaimana semestinya berkorban. Setelah anak-anaknya dirasa sudah bisa berdiri tenang dengan pendidikan yang cukup, barulah Bunda melanjutkan pendidikannya sendiri. Alhamdulillah, kantor tempatnya kerja ngasih Bunda dispensasi buat ngelanjutin sarjana muda-nya yang sudah puluhan tahun disandangnya itu. Sekarang Bunda kerja sambil kuliah. Semoga semuanya bisa lancar. Semoga.

=====

"Ada sesuatu yang mulanya tak begitu jelas,
tapi kini kita mulai merindukannya." ---Taufik Ismail

...
Ya, rasanya aku juga mulai merindukan sesuatu, yang dulu tak begitu jelas.
Bencana di Nias, aku tak hadir di sana --tapi diwakili oleh carrier Eiger-ku yang dipinjem Mas Osa yang ditugasin ke sana. Lumayanlah, mudah-mudahan nanti pulang dia bawa cerita :).
Menontonnya dari tivi saja. Konon, kontributor kami yang pertama kali dapat gambarnya. Bos-bos bergembira karena dengan begitu gengsi stasiun naik --sejajar stasiun Gambir! Hehehe. [Sori, Bos, becanda...:)]
Begitulah kenyataannya, orang yang mati tertimpa beton bisa berpengaruh terhadap kesejahteraan karyawan stasiun tivi yang berjarak ribuan kilometer darinya.

Minggu ini liputan Jakarta banyak yang tersingkir. Di Bali, berita dua bersaudara yang berebut kekuasaan sebuah partai, juga tenggelam beritanya. Meski tak sekencang Aceh, berita Nias lumayan mendominasi media massa. Kemarin waktu bikin vox pop tentang Nias, ada yang bikin miris. Ada narsum yang bilang kalau bencana itu datang karena banyak dosa. Ada juga yang bilang kalau bantuan ke Nias tak secepat ke Aceh karena persoalan ideologis. Konon, solidaritas nasional itu tergantung agama. Pahit! Semoga tidak demikian, karena penderitaan itu bukankah universal?