tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Thursday, March 17, 2005

Tak Berjarak

Saya mengenal dia. Tadi malam saya mewawancarainya setelah ricuh di sidang paripurna DPR itu. Saya ada di sana, melihat dia naik ke podium dan berteriak-teriak, memprovokasi anggota dewan lain untuk mengambil alih sidang.
Tadi sore dia muncul lagi di layar tivi, dalam sebuah adegan saling mendorong seperti pemain gulat smack down. Saya baru bangun tidur karena dapat tugas malam, tapi saya bisa mengenalinya dengan baju hitam itu. Dia selalu ingin kelihatan agresif. Tadi malam dia memaki-maki pimpinan sidang, setelah pimpinan sidang yang bukan dari fraksinya itu menskor sidang hingga keesokan harinya.
Saya tak yakin dia betul-betul hanya ingin berjuang menolak kenaikan BBM. Tahun lalu, sewaktu partainya berkuasa, BBM juga naik, dan dia hanya diam. Tidak berbuat apa-apa.

===

Saya tidak mengenal dia. Di penglihatanku seperti orang dewasa umur tiga puluhan. Luka di sekujur badannya, darah mengalir dari kepalanya. Dokter bekerja keras menjahit robekan kulitnya yang tercabik-cabik. Temannya terbaring di sebelahnya, di ranjang yang lain, sudah tak bernyawa.
Mereka baru saja dihakimi massa setelah dituduh mencuri motor di kompleks TNI AL.
"Saya tidak tahu, saya tidak tahu dia mau mencuri motor," katanya, patah-patah, dengan bibir lebam itu.
"Kamu masih sekolah?" tanyaku, setelah wartawan lain selesai mengambil gambarnya.
Dia mengangguk. Darah meleleh di atas kertas koran yang menjadi alas ketika dia menggerakkan kepalanya.
"Di SD Jatisari, kelas enam..."
Di umur segitu, saya masih asyik dengan Majalah Bobo.

===

Dan saya juga tidak mengenal dia. Seorang kawan dengan nama Anonim tiba-tiba muncul di shoutbox dan meninggalkan pesan. "Sok idealis lo, Chan!!!" tulisnya.
Semoga itu bukan tanda permusuhan, karena saya sangat tidak nyaman jika dimusuhi orang. Satu orang musuh terlalu banyak bagiku. Maka saya minta maaf seandainya pernah menzalimimu, Kawan, sadar atau tidak.
Tapi mengapa tak kau tunjukkan rupamu, biar kita tahu apa arti tak berjarak?