tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Friday, March 04, 2005

Dua Tahun Enam Bulan


Saya tidak mengerti hukum, dan saya juga tidak paham seperti apa itu pemukafatan jahat, tapi saya bohong kalau saya bilang tidak sedih atas vonis yang dijatuhkan terhadap Ustadz Abu Bakar Baasyir.

Melihatnya duduk di atas kursi terdakwa, saya berusaha mengira-ngira seberapa berbahayanya orang tua ini hingga AS begitu bernafsu ingin menghukumnya. Paranoia yang juga menular ke pemerintah kita. Akhir April tahun lalu, 1000 polisi dikerahkan hanya untuk membawa Ustadz Baasyir dari Salemba ke Markas Polri. Bentrok pun tak terelakkan. 66 polisi dan 36 orang pendukung Baasyir terluka.

Kemarin siang, semoga menjadi titik kulminasi dari pencarian keadilan yang melelahkan itu. Beberapa saat setelah majelis hakim membacakan vonis, Ustadz Baasyir meminta kesempatan untuk berdoa. Doanya panjang, dalam bahasa Arab, dan kemudian diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Isinya tentang peringatan bagi manusia yang mengingkari syariat -dan lebih takut pada hukum manusia daripada hukum Allah, penindasan, kezaliman, dan senukil kisah Yusuf dalam penjara.

Di sebelah saya, seorang wartawati asing menanyakan arti kata "dizalimi" kepada penerjemahnya. "Oppress", kata penerjemahnya.
Nilai pelajaran Bahasa Inggris saya jeblok dari jaman sekolahan dulu, tapi saya tak yakin kalau itu padanannya. Penindasan --atau aniaya-- tidak sebangun dengan penzaliman. Di pikiran saya, menindas selalu bermakna agresor, beda dengan zalim yang bahkan dengan diam pun kita bisa melakukannya. Kita zalim bila melihat atau merasakan penindasan tapi tidak berbuat apa-apa.

Entahlah. Mungkin belum saatnya berkamus-kamus. Membingungkan dan tak jelas bagi otak-lambat-bekerja-di-pagi-hari ini; sama tak jelasnya seperti kenapa saya menggunakan kata "saya" ketika menulis ini dan bukan "aku" sebagaimana biasanya.