tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Saturday, March 19, 2005

Satu yang Baik

"when I believe in you,
my soul can rest..."
--inflatable - Bush--

Thursday, March 17, 2005

Tak Berjarak

Saya mengenal dia. Tadi malam saya mewawancarainya setelah ricuh di sidang paripurna DPR itu. Saya ada di sana, melihat dia naik ke podium dan berteriak-teriak, memprovokasi anggota dewan lain untuk mengambil alih sidang.
Tadi sore dia muncul lagi di layar tivi, dalam sebuah adegan saling mendorong seperti pemain gulat smack down. Saya baru bangun tidur karena dapat tugas malam, tapi saya bisa mengenalinya dengan baju hitam itu. Dia selalu ingin kelihatan agresif. Tadi malam dia memaki-maki pimpinan sidang, setelah pimpinan sidang yang bukan dari fraksinya itu menskor sidang hingga keesokan harinya.
Saya tak yakin dia betul-betul hanya ingin berjuang menolak kenaikan BBM. Tahun lalu, sewaktu partainya berkuasa, BBM juga naik, dan dia hanya diam. Tidak berbuat apa-apa.

===

Saya tidak mengenal dia. Di penglihatanku seperti orang dewasa umur tiga puluhan. Luka di sekujur badannya, darah mengalir dari kepalanya. Dokter bekerja keras menjahit robekan kulitnya yang tercabik-cabik. Temannya terbaring di sebelahnya, di ranjang yang lain, sudah tak bernyawa.
Mereka baru saja dihakimi massa setelah dituduh mencuri motor di kompleks TNI AL.
"Saya tidak tahu, saya tidak tahu dia mau mencuri motor," katanya, patah-patah, dengan bibir lebam itu.
"Kamu masih sekolah?" tanyaku, setelah wartawan lain selesai mengambil gambarnya.
Dia mengangguk. Darah meleleh di atas kertas koran yang menjadi alas ketika dia menggerakkan kepalanya.
"Di SD Jatisari, kelas enam..."
Di umur segitu, saya masih asyik dengan Majalah Bobo.

===

Dan saya juga tidak mengenal dia. Seorang kawan dengan nama Anonim tiba-tiba muncul di shoutbox dan meninggalkan pesan. "Sok idealis lo, Chan!!!" tulisnya.
Semoga itu bukan tanda permusuhan, karena saya sangat tidak nyaman jika dimusuhi orang. Satu orang musuh terlalu banyak bagiku. Maka saya minta maaf seandainya pernah menzalimimu, Kawan, sadar atau tidak.
Tapi mengapa tak kau tunjukkan rupamu, biar kita tahu apa arti tak berjarak?

Sunday, March 13, 2005

Takut

Tiba-tiba saya jadi takut menulis di sini.
Saya takut apa yang saya tulis melukai hati orang lain.
Saya takut omongan saya melanggar hak orang lain.
Saya takut merasa paling benar, paling bersih.
...
Saya takut dimurkai Allah.
Selebihnya tidak.

Saturday, March 12, 2005

Terima Kasih....

Walah, ramai sekali di sini!
Baru balik dari Tarakan dan Pulau Sebatik, senang sekali disambut dengan kemeriahan seperti ini. :-)

Terima kasih banyak atas kebaikan hati kawan-kawan semua, terutama Kawan Anonim yang sudah mengingatkan betapa dhaif-nya saya.
Mohon maaf jika ada yang terganggu, saya tak bermaksud demikian. Hanya saja saya merasa ini ruang di mana saya masih bisa berpikir merdeka. Benteng terakhir saya.
Tapi, sekali lagi, mohon maaf, saya baru sadar bahwa di rumah sendiri pun saya tidak berhak teriak seenaknya, karena tetangga bisa terganggu...

Saya bukan seorang idealis, saya realis, dan kompromis. Saya juga tidak memperjuangkan apa-apa, selain piring nasi saya sendiri. Tangan saya terlalu lemah untuk memperjuangkan ide-ide besar. Saya hanya bisa bikin yang kecil-kecil saja, dan tak berarti. Saya buruh yang berkeringat, bukan aktivis atau pemikir berwajah mulus yang berlindung di balik topeng idealisme.

Semoga selalu disediakan tempat yang paling indah untuk kalian di mana saja, di pro maupun kontra. :-)
Salam.

Monday, March 07, 2005

Jurnalis atau Pembuat Pilem?

Tau-tau proyeksi penugasan liputanku pagi ini berubah.
Tadi malam sebelum pulang aku sempat lihat proyeksi liputanku adalah pertemuan organda soal tarif angkot, tapi tadi tiba-tiba berubah jadi update banjir dan personalisasi korban, dengan tambahan perintah khusus dalam tanda kurung: cari air mata buat dongkrak rating!
Yang menggantikan liputanku ternyata seorang reporter cewek sekaligus presenter yang semlohai. Waktu aku tanya ke korlip, katanya ibu presenter itu kurang enak badan jadi ditukar sama aku.
Sebenarnya bukan persoalan dapat liputan gampang atau sulit, cuma menurutku tak bagus saja seperti itu. Lagipula aku sudah datang sesuai jadwal sehingga tak ada alasan untuk menukar liputanku tanpa sepersetujuanku.

"Kalau begitu aku juga 'kurang enak badan' nih, Mas," kataku ke Mas Korlip, dengan bercanda, karena tak baik memulai hari dengan kekesalan.
Mas As-prod yang duduk di sebelah Mas Korlip nyelutuk, "Jangan bilang nggak enak badan, Chan, bilang aja kamu keluarganya siapa gitu..."
Aku tertawa. Ibu reporter/presenter itu konon famili salah seorang pembesar di gedung ini.

Ya sudahlah. Ayo bekerja lagi, cari 'air mata', demi rating. Hidup Jurnalisme Indonesia! :-)

Friday, March 04, 2005

Dua Tahun Enam Bulan


Saya tidak mengerti hukum, dan saya juga tidak paham seperti apa itu pemukafatan jahat, tapi saya bohong kalau saya bilang tidak sedih atas vonis yang dijatuhkan terhadap Ustadz Abu Bakar Baasyir.

Melihatnya duduk di atas kursi terdakwa, saya berusaha mengira-ngira seberapa berbahayanya orang tua ini hingga AS begitu bernafsu ingin menghukumnya. Paranoia yang juga menular ke pemerintah kita. Akhir April tahun lalu, 1000 polisi dikerahkan hanya untuk membawa Ustadz Baasyir dari Salemba ke Markas Polri. Bentrok pun tak terelakkan. 66 polisi dan 36 orang pendukung Baasyir terluka.

Kemarin siang, semoga menjadi titik kulminasi dari pencarian keadilan yang melelahkan itu. Beberapa saat setelah majelis hakim membacakan vonis, Ustadz Baasyir meminta kesempatan untuk berdoa. Doanya panjang, dalam bahasa Arab, dan kemudian diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Isinya tentang peringatan bagi manusia yang mengingkari syariat -dan lebih takut pada hukum manusia daripada hukum Allah, penindasan, kezaliman, dan senukil kisah Yusuf dalam penjara.

Di sebelah saya, seorang wartawati asing menanyakan arti kata "dizalimi" kepada penerjemahnya. "Oppress", kata penerjemahnya.
Nilai pelajaran Bahasa Inggris saya jeblok dari jaman sekolahan dulu, tapi saya tak yakin kalau itu padanannya. Penindasan --atau aniaya-- tidak sebangun dengan penzaliman. Di pikiran saya, menindas selalu bermakna agresor, beda dengan zalim yang bahkan dengan diam pun kita bisa melakukannya. Kita zalim bila melihat atau merasakan penindasan tapi tidak berbuat apa-apa.

Entahlah. Mungkin belum saatnya berkamus-kamus. Membingungkan dan tak jelas bagi otak-lambat-bekerja-di-pagi-hari ini; sama tak jelasnya seperti kenapa saya menggunakan kata "saya" ketika menulis ini dan bukan "aku" sebagaimana biasanya.