tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Wednesday, February 23, 2005

Yang Berangkat dan Tak Pulang

Kata Pak Polisi itu, "Semuanya orang baik yang dipanggil cepat."
Aku mengangguk, sembari tetap berusaha menjajari langkahnya yang panjang. Tiba di depan rumahnya seorang anak bertubuh gemuk menyambut di depan pintu, membawa galon aqua kosong.
Mungkin mau di-isi ulang.
"Siapa yang meninggal, Pa?" tanyanya.
Pak Polisi itu mengusap-usap rambut anaknya. "Om Teguh."
"Yang mana, Pa? Yang mana?"
"Om Teguh yang di sono." Dia menunjuk belakang rumah.
"Tempatku sering belajar itu ya, Pa?"
Pak Polisi itu mengangguk. Hari itu satu lagi temannya yang pergi.

===
Dan perempuan itu berkaca-kaca matanya. Siapapun rekan suaminya yang datang berseragam, pasti dipeluknya. Selalu dia kira suaminya. Dia merasa suaminya akan pulang dan tidak ikut di Cassa naas itu.
"Hampir tiap hari dia telpon, suruh saya sholat subuh. Sehari sebelum pergi, dia bilang mau nyumbang mesjid di Papua. Dia ajak saya nyumbang juga, tapi saya bilang saya nyumbang di sini saja. Suruh bikin a-te-em, katanya mau ngumpulin uang untuk saya. Dia nyanyi lagu karaoke, lagunya..." dia berhenti, terisak, berusaha mengingat bait lagu yang disenandungkan suaminya lewat telepon itu. "Ada, lagu itu..."
...
Pastilah mereka pasangan yang berbahagia. Baru tiga tahun menikah, dan sang istri saat ini sedang telat datang bulan.

===
Hari ini aku mendatangi tiga rumah duka di Pondok Cabe. Rumah prajurit-prajurit yang berpulang itu.
Di depan rumah almarhum Briptu Supriyadi, mekanik yang turut tewas itu, seorang pria mengajakku ngobrol.
"Seharusnya pesawat tua tak usah dipakai lagi. Kasihan, orang berangkat tapi tidak pulang," katanya.