tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Friday, February 25, 2005

Tepuk Tangan


Di Taman Kanak-Kanak --yang hanya kujalani beberapa hari--, oleh ibu guru aku diajarkan bertepuk tangan. Bertepuk tangan artinya menunjukkan kegembiraan. Bersemangat. Riuh. Merayakan sesuatu yang luar biasa. Tepuk tangan adalah manifestasi kebahagiaan.
Kecuali beberapa pengecualian: di kampungku dulu ada seorang gila yang akan sangat marah dan melempari kita dengan batu kalau kita bertepuk tangan di dekatnya.

Kebiasaan tepuk tangan ada di mana-mana. Menembus batas usia dan seragam. Bukan hanya anak TK dengan celana kodok, bapak-bapak kita yang bersafari di gedung DPR dari dulu hingga sekarang gemar sekali bertepuk tangan. Biar kelihatan serius dan gak sia-sia dibayar pakai uang rakyat. Pokoknya, tepuk tangan dulu. Asal Bapak Senang.

Tapi ada juga yang merasa tidak nyaman dengan tepuk tangan. Bukan orang gila yang di kampungku itu. Beliau yang satu ini sangat sadar malah.
Pada sebuah acara peresmian mesjid, Almarhum Jenderal Yusuf --saksi mata Supersemar yang juga pendiri Islamic Center Makassar-- pernah menegur jamaah yang bertepuk tangan riuh begitu selubung peresmian mesjid dibuka.
"Tak usah tepuk tangan, cukup takbir saja," kata beliau. Menurutnya, Allah pasti lebih menyukai lirih takbir, daripada gemuruh tepuk tangan.

Tadi siang, aku meliput acara silaturahmi nasional sebuah partai besar. 731 kader partai dari 32 propinsi hadir. Ramai sekali, memenuhi aula Hotel Sahid Jaya. Penuh tepuk tangan juga, tentu saja.
...
Pembesar partai naik ke podium.
"Saudara-saudara, kita patut berbangga bahwa partai ini masih bisa menunjukkan kebesarannya... bla.. bla... bla..." demikian pidatonya. Hadirin pun bertepuk tangan.
"Walaupun perolehan suara kita terpuruk pada pemilu lalu, namun kehadiran Bapak-bapak sekalian menunjukkan kecintaan yang besar kepada partai."
Hadirin bertepuk tangan lagi.
"Bla.. bla... bla..."
Lagi-lagi, hadirin bertepuk tangan.
"Namun demikian, kita masih dalam suasana berduka. Bencana gempa dan tsunami yang menimpa saudara-saudara kita di Nanggroe Aceh Darussalam telah menelan kurang lebih 200 ribu korban jiwa. Dan sebagaimana kita ketahui, sebagian besar dari korban itu adalah pendukung partai kita!"
Dan lagi-lagi, hadirin bertepuk tangan. Aku cuma bisa melongo.