tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Saturday, February 12, 2005

Selamat Pagi, Pagi!

Pagi ini aku terbangun oleh gemuruh hujan di luar kamar. Dingin. Kipas angin yang lupa dimatikan sejak tadi malam ikut-ikutan menggempur sendi. Entah itu rotasi keberapanya. Ada aroma hangus terbakar ketika aku membuka pintu, bersamaan titik-titik air yang jatuh di ujung kaki. Matahari sudah tinggi. Mesjid di sebelah rumah sudah menuntaskan shalawatnya. Aku memeriksa charger hp, mungkin lupa mencabutnya. Tapi aku menemukan hpku tergeletak di atas buku La Tahzan, dengan indikator baterai tinggal satu. Berarti sebentar lagi dia koit, dan charger-nya masih tergulung tak tercolok.

Melafal satu-dua doa pendek setelah subuhan, terasa agak berat di kepala. Hujan masih juga rintik-rintik. Teringat pada kawanku, Aan, yang menulis buku "Hujan Rintih-Rintih", baginya mungkin air yang jatuh dari langit itu membawa ritme minta tolong, ritme mahluk yang menderita. Lain dengan ini, ini hujan agresor, menghantam hati dengan tetes air lebih menyerupai jarum.

"Bisakah saya menjalani istikharah-ku tanpa intervensi? Demi Allah, saya tidak mau mendahului ketetapan-Nya. Biarlah Allah yang memberikan jalan. Saya minta maaf..." demikian sms itu berkata.

Dan hari pun merangkak. Ritual dilanjutkan dengan nongkrong di depan warteg menghitung orang lewat. Di tempat ini juga kemarin dua anak SMU hampir menabrakku dengan motornya yang melesat gila-gilaan di jalan padat sempit. Jam pulang sekolah atau pulang kantor di sini selalu riuh seperti pasar kaget. Tukang ojek boleh gembira deh. Perempatan yang mematikan! Dua di antara empat jalannya hanya diberi nama huruf. Ke kanan Jalan B, ke kiri Jalan K. Pagi ini Jalan B ditutup, ada hajatan orang kawin yang bikin tenda menyita satu badan jalan.
Gak apa-apalah. Yang penting kalian bahagia!