tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Wednesday, February 09, 2005

Lagi, Tentang Selebar Daun Kelor


Beberapa hari sebelum dipindah ke program lain, masih ada satu liputan lagi yang harus aku kerjakan. Minggu depan rencananya kami akan mengangkat tema single mother. Aku ditugasin bikin satu feature personalisasi single mother yang tak menikah sama sekali. Setelah nanya kemana-mana, dapat satu narasumber yang bersedia bicara, dengan syarat yang "aneh":
"Saya nggak mau wajahku digelapin, saya bukan penjahat, saya tak bersalah," katanya di telpon tadi malam.
Tentu saja aku sepakat. Untuk kasus kayak begini, yang ada biasanya narasumber minta identitasnya dirahasiakan. Yang ini lain.
Dan tadi pagi kami menemui dia di rumah kontrakkannya di daerah Kemang. Seorang perempuan muda, mungkin dua atau tiga tahun di bawahku. Waktu kami tiba, putrinya masih dalam perjalanan pulang dari rumah kakeknya.

Akhir tahun 2001, dalam keadaan hamil dua bulan dan putus asa karena merasa tidak mungkin menikah, dia dan pacarnya mendatangi klinik aborsi di Paseban.
"Dokternya bilang biayanya sejuta dua ratus, kami cuma bawa sejuta hasil minjem kemana-mana. Kita injek-injekan kaki di bawah meja, duitnya gak cukup aku bilang. Tapi akhirnya dokternya mau sejuta."
Perempuan itu mengenang dengan memori yang hampir fotografis.
"Kita nunggu lama, waktu itu kan antriannya panjang. Tiba-tiba dia bilang, 'jangan [digugurin], ini anak gue'. Terus dia bilang akan ngusahain nikah, bagaimanapun caranya. Ya sudah, kita pulang, duitnya kita ambil lagi setelah dipotong."

Tapi pernikahan yang diimpikan itu tak pernah terjadi. Laki-laki yang menghamilinya itu melarikan diri dua hari sebelum hari pernikahan yang disepakati.
"Orang rumahnya bilang dia hilang. Aku udah cari dia keliling Jakarta. Dari panas ke hujan, pagi ke malam sampe nih baju kering sendiri. Aku datangin teman-temannya. Gak ada yang tau dia kemana, mungkin diumpetin ama mereka. Mereka bilang perbuatan dia itu bukan tanggung jawab organisasi. Masa mereka ngomong gini, 'dia nidurin lo itu gak ada dalam keputusan rapat!'. Gila apa!!" katanya setengah meradang.

Sepeninggal laki-laki tak bertanggung jawab itu, beberapa kali muncul godaan untuk kembali ke klinik di Paseban. Tapi kesedihan sudah cukup membuatnya kuat. Juga kemarahan.
"Ada yang nyaranin lagi, tapi aku bilang aku memang pezinah, tapi bukan pembunuh..."
Dan begitulah, putri kecilnya sekarang sudah berumur 2,5 tahun, lagi lucu-lucunya, dan belum sekalipun bertemu bapaknya.

=====
Beberapa tahun lalu semasa aku masih mahasiswa, puluhan aktivis mahasiswa se-Indonesia berkumpul di kotaku. Aku lupa bagaimana prosesnya, yang pasti kemudian terbentuk sebuah jaringan pergerakan mahasiswa nasional. Karena merasa setujuan, kami semua kenal baik satu sama lain. Kontak-kontak tetap terjaga setiap ada isu krusial yang harus dibahas atau dilawan. Itulah zaman romantisme perlawanan masih menggelegak kencang.

Suatu waktu jaringan lokal yang kami bentuk di kampusku hampir ambruk karena perpecahan intern. Jaringan nasional terancam kehilangan satu kakinya. Lalu datanglah seorang kawan, jauh-jauh dari Jakarta. Aku tanya buat apa dia datang sejauh itu hanya untuk membicarakan kelangsungan organisasi yang tak jelas tujuannya. Waktu itu kami mungkin mulai putus asa, regenerasi tidak jalan, dan sebagian teman yang oportunis mulai berlompatan ke partai-partai. Aku masih ingat sekali apa katanya waktu itu.
"Ini bukan persoalan tujuan. Kawan-kawan di Jakarta tahu kalian lagi susah di sini, makanya kami datang. Kalau kalian tanya buat apa, jawabannya sederhana: karena nggak ada sejarahnya kita meninggalkan kawan!"
Begitu katanya, tapi toh kami tetap bubar.
Dan itulah terakhir kali aku bertemu dengan anak muda bertubuh tinggi kurus dan berambut gondrong itu.

Aku tak tahu seperti apa yang dianggapnya "kawan yang tak boleh ditinggalkan" itu. Tapi tadi pagi --tanpa disangka-sangka-- aku bertemu dengan orang yang dia tinggalkan; bukan kawannya, tapi perempuan yang dulu dia hamili dan kini telah memiliki putri yang di akte kelahirannya tak ada nama bapak.

======
Di akhir wawancara, perempuan itu bertanya, "Mas, aku boleh nunjukin ini ke kamera nggak?" Dia mengangkat jari tengahnya. "Siapa tau temanmu itu nonton..."
Aku tidak mengiyakan, tidak juga menggeleng. Aku yakin dia tahu itu tidak akan diperbolehkan di tivi manapun.
Menanggapinya aku hanya tersenyum, getir. Rasanya sempit sekali bumi tempatku berpijak ini.