tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Thursday, February 24, 2005

Kepada Toriq --dan AYS

"Ada dua tempat yang akan memicu kesadaran ketika kau berada di dalamnya: penjara, dan satunya lagi rumah sakit."
--demikian kata Toriq, seorang kawan yang pernah melewatkan satu malam lebaran di penjara, juga pernah ditolak dokter RS ketika sakit parah karena tak ada yang bisa menjamin tagihannya---


Dalam seminggu ini, dua kali aku berkunjung ke rumah sakit. Liputan anak-anak penderita demam berdarah dan diare. Senin lalu di RSUD Tarakan, Jakarta Pusat. Siang tadi di RSUD Koja, Jakarta Utara. Miris sekali melihat anak-anak sakit yang tak tertampung di ruang perawatan resmi. Di Tarakan mereka sampai harus dirawat di ruang bakal kantin, tidur di atas velbed. Di Koja kondisinya juga sama, tidur pake velbed, di ruangan bekas kantor. Bahkan ruangan khusus dokter pun dijadikan ruang perawatan. Tadi itu ada sekitar 30 anak yang tak kebagian tempat resmi.
Ibu Risa, seorang nenek yang menunggui cucunya bertanya, kenapa diare tidak digratiskan seperti demam berdarah. Di kesempatan lain, aku tanya ke dokternya, katanya masih harus nunggu keputusan pemerintah dulu. Belum tahu sampai kapan, mungkin sampai semakin banyak anak yang melayang jiwanya tak tertolong.

Sedih sekali melihat nenek itu menenangkan cucunya, "Cepat sembuh ya, Nak, biar cepet pulang. Kalo sakit mahal, uangnya tidak ada..." katanya. Aku jadi ingat buku "Orang Miskin Dilarang Sakit".
Bayi yang ditenangkan itu namanya Rafli, ibunya buruh jahit, bapaknya tukang ojek sepeda. Dengan pekerjaan seperti itu, kebayang betapa beratnya harus membeli infus dan segala macam obat seharga dua ratus lima puluh ribu.

Banyak ibu-ibu muda yang tampak gelisah menunggui anaknya. Seorang ibu membelai-belai rambut anaknya. Perlakuan standar ibu di seluruh jagad, seperti ibuku dulu memperlakukanku ketika sakit.