tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Monday, February 28, 2005

Di KRL Sore Itu

Bagaimana rasanya dilemparkan dari atas KRL yang sedang melaju kencang?
Haryanto, 22 tahun, pasti bisa menjawabnya, seandainya dia masih hidup. Kamis lalu, dia dilemparkan dari atas KRL oleh sekelompok penodong setelah berusaha mempertahankan tasnya yang berisi surat-surat penting. Dia baru beberapa minggu diwisuda, dan dalam perjalanan pulang sehabis mengurus dokumen di kampusnya. Rencananya dia akan segera mencari kerja begitu dokumennya lengkap. Tapi surat-surat penting itu hilang, bersama dompetnya, bersama nyawanya.
Ayahnya, Heuw Tjoe Sen, seorang pedagang kue kaki lima di Petak Sembilan, mengenangnya sebagai seorang anak yang sangat berbakti. Putra sulung dari tiga bersaudara ini sudah terbiasa bekerja meringankan beban orang tuanya.
"Dia tahu orang tuanya susah," kata Heuw Tjoe Sen.

Siang tadi, teman-teman kuliahnya di Fasilkom UI datang melayat di Rumah Duka Jelambar menjelang dia dikremasi. Teman-temannya pun mengenang dia sebagai orang baik, mahasiswa cerdas dengan IPK 3,82, supel, dan bisa bergaul tanpa sekat.

Aku tahu dia orang baik. Laki-laki yang berjuang, pastilah orang baik. Minimal bagi keluarganya. Foto hitam putih di atas peti matinya cermin kesederhanaan. Anak muda yang bersahaja, sama sekali tidak ada potongan Tao Ming Tse.
Setelah membuat ibunya menangis, aku hanya bisa mengirim doa. Keyakinan kami beda, tapi aku percaya Allah Maha Bijaksana.
Mereka yang telah tega melemparkannya dari atas KRL, tak layak hidup tenang.