tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Thursday, January 13, 2005

Untuk T

Dua tahun aku pikir bisa membuatku paham apa arti berada di sini, menjadi takzim seperti santri yang setia menekuri kitab. Tapi selalu gagal. Rasanya seperti selalu berjalan sendiri saja, tak berteman.

Tempo hari kau menyapaku dan bertanya bagaimana keadaan di sana. Kau juga bermaksud meminjam carier-ku dan kubilang mungkin tidak bisa karena belum kucuci sejak pulang dari sana. Besok giliranmu, kau bilang.
Dan kemarin aku lihat kau di layar, tersenyum sumringah di atas puing-puing. Tadi sore juga.
Aku tahu kau bangga bisa berada di situ --seperti ratusan orang lain yang ingin jadi saksi sejarah--, tapi mayat-mayat itu bukan tontonan, Kawan. Orang-orang yang kau sebut "penjarah" itu juga. Orang-orang yang terpaksa mendekam di RSJ karena tak kuat menanggung beban itu juga.
Mereka bukan bahan untuk apa yang kita sebut sebagai show spektakuler itu. Mungkin kita tidak sadar, setiap pertanyaan dan sorotan kamera itu seperti tsunami berulang bagi mereka. Setiap datang satu pertanyaan, remuk satu jiwa!