tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Friday, January 21, 2005

Lebaran Paling Tidak Ramai di Rumah Kami

Pagi-pagi, sms Uce masuk ke hp-ku, mengabarkan dia baru saja sholat Idul Adha di Mesjid Baiturrahman, Banda Aceh. Syukurlah, sudah hampir seminggu ini dia tak ada kabar. Tempo hari, seorang bapak menelpon Bunda dan mengatakan menemukan hp Uce. Bapak yang jujur itu membaca pesan di hp yang meminta dia supaya menelpon nomor rumah bila menemukan hp itu. Aku sudah mengontak bapak itu --namanya Pak Kawari, tinggal di Lambaro-- untuk sekedar mengucapkan terima kasih dan mengabarkan di mana kira-kira Uce bisa ditemui.

Hari ini aku menghabiskan waktu dengan banyak tidur. Pulang ke kosan hampir jam dua tadi malam, tersisa beberapa jam saja untuk tidur sebelum bangun lagi shalat subuh dan bersiap-siap Shalat Id. Malam sebelumnya, Bunda menelponku dan bilang hanya Fuadi dan Ari yang lebaran di kampung. Tiga anaknya yang lain menyebar di muka bumi.
Aku tidak bertanya Bang Iccang --kakakku tertua-- berlebaran di mana, tapi kemungkinan besar di kampung istrinya, karena Idul Fitri kemarin rumah kami sudah mendapat giliran. Aku sendiri juga tidak bisa pulang karena jatah cuti sudah aku ambil bulan kemarin. Hanya beberapa hari sepulangnya aku dari Aceh, gantian Uce yang berangkat ke sana dengan tugas yang berbeda. Dia jadi relawan dan bergabung dengan tim medis PKS.
Pagi tadi pertama kali dia mengabari lagi sejak kabar terakhirnya dari Cengkareng waktu transit dalam penerbangan dari Makassar ke Banda Aceh.

Dan lebaran Idul Adha kali ini, mungkin lebaran paling tidak ramai bagi Bunda dan Bapak. Biasanya, setidaknya 4 dari 5 anak laki-laki mereka berkumpul di rumah pada saat itu. Jika tidak lengkap, paling sering aku atau Bang Iccang yang absen. Bukan tiga-tiganya seperti hari ini.