tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Saturday, January 22, 2005

Foto di Halaman Terakhir

Menjelang tengah malam ini aku baru sempat baca Kompas dan melihat-lihat foto-foto di halaman terakhirnya. Sehalaman esai foto tentang Idul Adha di Mesjid Baiturrahman. Ada satu foto sekelompok relawan sedang berpose di depan mesjid. Iseng-iseng aku meneliti kali-kali aja ada gambar Uce tertangkap kamera. Tapi tak ada.
Aku rindu pada adikku itu. Lama sekali kami tak ngobrol lagi, atau berdebat kecil sekadar mencari kesepahaman pada ideologi kami yang beda.

Ada juga foto ibu-ibu bermukena sedang menangis dan saling memeluk. Membuat mataku berair. Pedih sekali membayangkan kesedihan mereka. Semoga penderitaan segera diangkat dari kehidupan mereka.

Di meja sebelah, Asri sibuk menyiapkan file korban-korban hilang untuk ditayangkan di program MKA besok --presenternya Dewi Yull. Foto-foto berserakan di dekatnya, kebanyakan seukuran postcard dan sudah ditempel di kertas HVS lengkap dengan data-data. Dikirimkan oleh pemirsa yang mencari sanak saudaranya. Beberapa ada yang berhasil dipertemukan, tapi lebih banyak yang tidak.

"Kematian seperti sudah diatur," kata Asri. Dia menunjukkan sebuah foto satu keluarga yang semuanya hilang terbawa tsunami, kecuali satu orang yang berdiri paling tengah.
Aku tak tahu bagaimana cara dia melupakan wajah-wajah itu setiap berangkat tidur.
Aku sendiri sampai sekarang masih sering terbawa mimpi seperti masih berada di Aceh dan melihat bekas-bekas tsunami itu menggerus tanah dan rumah-rumah penduduk.
Tapi aku yakin ini bukan depresi seperti kata teman-temanku. Itu mekanisme alamiahku setiap habis meliput kejadian traumatis. Dan menurutku wajar saja.
Hanya satu yang lumayan mengganggu, bau yang masih sering melintas tiba-tiba itu.

Aku tiba di Meulaboh pada minggu pertama, dan ratusan jasad masih terperangkap di bawah reruntuhan. Baru yang kelihatan saja yang bisa diurus oleh pasukan marinir dari Yonmarhan I Belawan. Hari pertama mereka bisa mencapai dermaga itu, mereka segera mengebumikan 106 mayat yang tersebar di sepanjang pantai. Selebihnya baru bisa dikeluarkan setelah tentara Singapura datang dengan alat beratnya. Tapi bau itu telah terlanjur memenuhi udara.

Berpindah ke Calang juga sama menyedihkannya. Satu kota rata dengan tanah, hampir tak ada bangunan tegak sama sekali. Tiga perempat penduduknya hilang. Seorang yang kutemui di pengungsian tak kusangka adalah orang yang paling berkuasa di situ, sebelumnya. Dia selamat, tapi istri dan empat anaknya hilang. Pagi itu dia bergabung dengan warga yang menunggu bantuan, penampilannya hampir tak beda dengan warga lainnya. Tak lagi bersafari, sedang mobil dinasnya sudah terguling terseret air sekian puluh meter dari bekas rumahnya. Hanya jam tangan mewahnya --sepertinya Rolex-- yang membuatku percaya kalau dia adalah seorang bupati.

[sebenarnya ingin kutulis versi panjang cerita ini. Tapi sekarang belum sempat, sudah malam, waktunya pulang dan kembali ke kehidupan sosial. Tadi pagi sebelum ke kantor, ibu kos yang baik hati mengantarkan ketupat sayur ke kamarku, dan aku belum mengembalikan piringnya...]