tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Saturday, December 11, 2004

Racun

Terakhir aku bertemu dengan laki-laki kurus berkumis merah itu sudah lama sekali, sekitar bulan Mei tahun lalu. Hanya beberapa hari setelah kantornya di Cisadane 9, Jakpus, diserbu sipil-militeris {atau militer-sipilis? :)] yang memporak-porandakan. Kami sempat ngobrol tentang aktivitas terakhirnya dan mengapa dia dituduh anti-NKRI. Di mataku --terlepas dari kontroversinya-- dia memang seorang pemberani, sama sekali tak tampak sirat ketakutan ketika mengomentari berbagai teror yang ditujukan padanya.

7 September 2004. Aku mendengar kabar kematiannya. Aku sedang di Kalimantan ketika itu, dan agak kesulitan mendapatkan akses berita yang sahih. Tapi mendengar dia meninggal di di pesawat dalam penerbangan ke Amsterdam, entah kenapa aku tiba-tiba teringat Baharuddin Lopa, tokoh HAM yang juga meninggal dalam atau setelah penerbangan. Mungkin terlalu berprasangka, tapi waktu itu aku berpikir pasti ada yang tidak wajar dalam kematian mereka.

Dua bulan kemudian, 11 November 2004, muncul berita di koran telah ditemukan 465 mgr arsen di lambungnya. Racun itulah yang diduga menyebabkan nyawanya melayang. Bisa dibayangkan bagaimana zat yang biasa dipakai membersihkan keris itu menggerus-gerus dinding lambungnya...

Kurang lebih dua minggu lalu, Pollycarpus, orang yang dianggap tahu tentang peracunan itu datang ke kantor kami untuk wawancara dengan Mas RM. Jawabannya bertele-tele dan terkesan membingungkan. Mungkin karena dia panik, mungkin juga karena dia tertekan. Saat ini hampir semua media menyorotinya.

Minggu lalu aku menemui Brahmanie Hastawatie, supervisor awak kabin Garuda yang bertugas saat peristiwa itu. Dia hanya bisa cerita tentang situasi penerbangan dari Jakarta-Singapura, karena menurutnya setelah itu dia turun di Changi dan digantikan supervisor lain, Madjid Nasution.
Tapi dia mengaku sempat bertukar sapa saat boarding, juga ketika pesawat transit agak lama di Changi.
"Jangan dihabiskan duitnya di sini, Belanda masih jauh." kata Brahmanie, bercanda. Setelah itu mereka berpisah, Brahmanie pulang kembali ke Indonesia dan Munir meneruskan penerbangannya ke Amsterdam, menemui ajalnya.

---
[Menkeh Baharuddin Lopa, Jaksa M. Yamin, Letjen Agus Wirahadikusumah: mereka resminya diberitakan meninggal karena sakit jantung, tapi entah ada apa di balik itu.
Ada juga Jose Martins-III, seorang yang tahu banyak tentang keterlibatan Indonesia di Timor Timur. Dia diundang pemerintahan Soeharto menghadiri peringatan 17 Agustus 1997, tapi tidak pernah sampai. Martins meninggal misterius setibanya di Jakarta dengan pesawat KLM, dan semua dokumen penting yang dibawanya hilang!]