tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Tuesday, December 14, 2004

Liputan Sore Hujan

Sore. Gerimis mulai turun saat kami tiba di Kantor Kejagung. Hari ini tidak ada mobil, jadi kami terpaksa liputan naik taksi. Ipung mengeluarkan payung dari dalam ranselnya, melindungi kamera Sony PD 150 yang dibawanya, sedang aku masih mengandalkan jaket polar. Lagipula hanya ada tripod ini yang lumayan anti air.
Naik dan menunggu narasumber di lantai 6, gerimis itu mulai berubah menjadi titik air hujan. Bunyinya gemuruh menembus dinding kaca. Ipung tampak mengkhawatirkan suara itu yang menurutnya pasti akan mengganggu natsound kamera.
Jam lima lewat, setelah menunggu lumayan lama, Pak Suhandoyo datang. Hujan juga mulai mereda.
"Maaf, menunggu. Saya tadi harus menemani Jaksa Agung," katanya. Tentu saja kami bilang 'tidak apa-apa'. Kami juga telat datang dari jam 3 seharusnya sesuai perjanjian.
Ngobrol sebentar tentang maksud kami, dia minta izin melihat file sebentar. Dikeluarkanlah map-map berwarna hijau yang didalamnya bertumpuk surat berkode rahasia. Itu surat dari Presiden SBY yang mengizinkan pemeriksaan pejabat eksekutif dan legislatif. Rahasia ternyata berarti tidak boleh dilihat, tapi dibacakan boleh saja. Maka tersebutlah nama-nama itu, beberapa masih berstatus saksi, selebihnya sudah tersangka:

Drs. Darmono K. Lawi - anggota DPR/MPR: dugaan korupsi dana perumahan anggota DPRD Banten senilai Rp 10,5 miliar.
Adi Warsito -anggota DPR/MPR: kasus penyelewengan dana pemetaan hutan dengan teknologi foto udara yang merugikan negara hingga Rp. 133 milyar.
H. Faqih Haironi, H. Ahmad Toyfur, H. Daromi Irjas, H. Zuber Nawawi, KH. Ahmad Darowi- anggota DPR/MPR: korupsi APBD Jawa Tengah 2003.
Binahati B. Baeha -Bupati Nias: korupsi dana provisi sumber daya alam sektor kehutanan tahun 2001 berjumlah lebih dari Rp 2 miliar.
Lukman Abunawas, SH. -Bupati Konawe (Kendari): dugaan korupsi dana pesangon anggota DPRD di kabupaten itu tahun 2003 senilai kurang lebih Rp 2 miliar.
Korupsi dana EBTANAS tahun 2001 untuk sekolah se-Kabupaten Kendari.

Khalik Effendy -Walikota Bengkulu: kasus korupsi pelaksanaan pembangunan belanja modal perlengkapan renovasi pembangunan Pemda 2003.
Ir. H. Baharuddin Lisa -Bupati Barito Selatan, Kalteng: korupsi proyek Community Empowerment for Rural Development di Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (saksi)
Kamaluddin Djinab -Bupati Muara Enim: korupsi pelaksanaan proyek pekerjaan box culvert dan perbaikan jembatan pada ruas jalan Tanah Abang-Modong pada APBD 2003 (saksi)
Ir. Ibnu Amin, M.Sc. -Bupati Musi Rawas: korupsi dana proyek promosi Kabupaten Musi Rawas pada expo di Jogjakarta.
Abdul Kadir Mappong -Hakim Agung: korupsi dana bantuan KONI Jateng untuk 4 cabang olahraga senilai Rp. 50 juta.

Di meja Pak Suhandoyo, Kapuspenkum Kejagung itu, tersedia sepiring kue dalam plastik dan toples berisi berisi permen rasa aneka buah. Aku mencoba rasa Lyche, Ipung mengambil rasa pisang. Katanya jarang-jarang ada permen rasa pisang. Manis juga, mengalahkan rasa getir melihat nominal duit negara yang sudah dikorupsi pejabat-pejabat.

Hampir magrib, kami pamit pulang. Wawancara sudah selesai dan data-data dirasa sudah cukup. Lusa kami berencana membuat paket sidebar tentang pamong-pamong bermasalah.

Ternyata susah sekali menyetop taksi di depan kantor itu. Empat taksi kosong melaju begitu saja mengabaikan kami. Berpindah ke depan SMU 70, gerimis mulai membesar lagi. Titik-titik air terasa seperti jarum jatuh di atas kepala. Di bawah gapura itu, selain kami, ikut berteduh tiga orang anak SMU menunggu jemputan, seorang ibu guru, dan seorang tukang bakpao.
Demi melihat bakpao yang mengepul panas dalam suhu dingin itu, kami tergoda memesan. Masing-masing satu. Dalam urusan rasa tampaknya aku dan Ipung tak pernah bisa sepaham. Kali ini dia memesan bakpao isi kacang ijo, aku isi daging ayam.
Sementara itu, taksi belum ada juga yang mau berhenti.

Kami memutuskan berjalan sedikit lagi sampai ke depan gerai oriflame, berharap bisa menemukan beberapa taksi yang ngetem. Akhirnya dapat satu, bukan yang ngetem, tapi taksi melaju. Supirnya seorang tua asal Magetan, mengaku sudah puluhan tahun membawa taksi. Tidak lama lagi taksi ini akan menjadi miliknya, katanya, sedang dicicil dan tinggal dua tahunan lagi. Kami sempat mengobrol banyak, sekadar menawar kemacetan yang rutin di Jakarta.
Sampai di kantor gerimis kecil-kecil masih turun. Ipung mampir ke logistik mengembalikan alat, aku langsung naik ke lantai 3, ruang kerja kami.

Tidak bisa terus pulang karena aku masih harus membuat laporan keuangan penggunaan taksi --inilah yang membuatku malas liputan tanpa mobil operasional kantor. Tadi oleh Mbak Upit aku dikasih Rp.80.000, dan setelah hitung sana-hitung sini, sisa uangnya kukembalikan Rp.30.000. Itu setelah kukorupsi Rp.10.000; dengan perincian Rp.5000 untuk bayar dua bakpao, dan Rp.5000 yang kulebihkan untuk Pak Supir Taksi dari Magetan tadi.
Kalau ibuku tahu, aku pasti disuruh balikin Rp.5000 yang buat bakpao itu.