tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Wednesday, December 22, 2004

Hari Ibu

Kemarin dan hari ini, aku ditugasin menongkrongin sebuah ruang di Polda. Namanya RPK, Ruang Pelayanan Khusus, tapi terjemahan Inggrisnya ditulis Police Women Desk. Petugasnya memang perempuan semua, polwan tepatnya.
Sehari-hari mereka menerima pengaduan dari perempuan-perempuan malang dan terluka. Kasusnya lazim disebut KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). Kalo di luar negeri orang menyebutnya SGBV (Sexual and Gender-Based Violence).

Pemerintah baru saja mengeluarkan undang-undang baru, Undang-Undang No.23 Tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga. Akhirnya pemerintah sadar juga, bahwa perempuan mereka harus dilindungi dari kekerasan domestik.
Sekarang laki-laki gak boleh lagi sembarangan. Memaksakan hubungan seksual pada saat istri gak mood, misalnya, bisa kena pasal!

Awalnya aku merasa undang-undang itu ngawur, karena menurutku urusan ranjang adalah urusan privat suami istri. Kalaupun ada pertengkaran, biasanya akan selesai dengan sendirinya di area itu juga.
Tapi dua hari di RPK menuntunku melihat egoisme-anarkisme-beastilitas laki-laki dari sudut pandang perempuan. Mulai dari yang biasa (biasa?) seperti memperlakukan istri bak samsak tinju, sampai yang hampir tidak masuk akal seperti (Sodara-sodara, please do not try this at home!)memasukkan mentimun dan terong ke organ vital istri!!!

"Laki-laki memang aneh, dikasih yang enak dan gampang kok mau yang susah!" kata Bu Polwan mengomentari laporan seorang istri yang dipaksa disodomi oleh suaminya. Mendengar itu, bisa apa lagi aku selain tersenyum getir?

Eniwei, Selamat Hari Ibu.
Semoga terlindungi semua kaum perempuan di muka bumi ini...