tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Monday, December 27, 2004

...

"...ada di file, tinggal di-search. Bawa bekal minum, kalo bisa jangan jauh-jauh dari aparat, mereka biasanya punya water purifier. Bawa kopi juga, taro di masker, untuk ngilangin bau mayat..."

Menuruti sarannya, malam ini sebelum pulang aku menyempatkan membongkar-bongkar file di yahoogroups. Panduan lama yang dia buat, jauh sebelum aku masuk. Besok mungkin akan jadi hari yang panjang.

Sunday, December 26, 2004

Gempa

Pagi-pagi sudah dapat kabar gempa di Aceh. Tak tanggung-tanggung 8.1 SR versi BMG AS, 6.6 SR versi BMG Indonesia (kenapa versi nasional selalu lebih "nyaman" yah?) Ibnu dan Icut, temanku asal Aceh, sudah gelisah menghubungi nomor telepon siapa saja tapi tidak nyambung-nyambung.
Pusat gempanya di Meulaboh. Semoga tidak jatuh korban banyak. Semoga...


Wednesday, December 22, 2004

Hari Ibu

Kemarin dan hari ini, aku ditugasin menongkrongin sebuah ruang di Polda. Namanya RPK, Ruang Pelayanan Khusus, tapi terjemahan Inggrisnya ditulis Police Women Desk. Petugasnya memang perempuan semua, polwan tepatnya.
Sehari-hari mereka menerima pengaduan dari perempuan-perempuan malang dan terluka. Kasusnya lazim disebut KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). Kalo di luar negeri orang menyebutnya SGBV (Sexual and Gender-Based Violence).

Pemerintah baru saja mengeluarkan undang-undang baru, Undang-Undang No.23 Tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga. Akhirnya pemerintah sadar juga, bahwa perempuan mereka harus dilindungi dari kekerasan domestik.
Sekarang laki-laki gak boleh lagi sembarangan. Memaksakan hubungan seksual pada saat istri gak mood, misalnya, bisa kena pasal!

Awalnya aku merasa undang-undang itu ngawur, karena menurutku urusan ranjang adalah urusan privat suami istri. Kalaupun ada pertengkaran, biasanya akan selesai dengan sendirinya di area itu juga.
Tapi dua hari di RPK menuntunku melihat egoisme-anarkisme-beastilitas laki-laki dari sudut pandang perempuan. Mulai dari yang biasa (biasa?) seperti memperlakukan istri bak samsak tinju, sampai yang hampir tidak masuk akal seperti (Sodara-sodara, please do not try this at home!)memasukkan mentimun dan terong ke organ vital istri!!!

"Laki-laki memang aneh, dikasih yang enak dan gampang kok mau yang susah!" kata Bu Polwan mengomentari laporan seorang istri yang dipaksa disodomi oleh suaminya. Mendengar itu, bisa apa lagi aku selain tersenyum getir?

Eniwei, Selamat Hari Ibu.
Semoga terlindungi semua kaum perempuan di muka bumi ini...

Friday, December 17, 2004

Perempuan Bersedih


Tadi sore perempuan itu datang, bergaun muslimah warna merah kecoklatan. Tidak seperti seorang yang berasal dari daerah konflik pada umumnya, dia tampak lebih muda dari usia yang sebenarnya. Cantik, tipikal perempuan mapan dengan high maintenance, kata temanku. Tapi di studio suaranya parau, dan tim tata rias tak berhasil menyembunyikan matanya yang sembab.
Suaminya baru saja masuk penjara, karena kasus korupsi pembelian helikopter dan genset. Untuk sementara kerugian negara akibat kelakuannya itu ditaksir baru empat milyar rupiah!

Dan perempuan itu menjawab setiap pertanyaan dengan suara rendah, cenderung terbata-bata. Duduk di situ rasanya pasti beda sekali dengan ritual menggunting pita pada seremoni Dharma Wanita.

Thursday, December 16, 2004

Troubles

"Nobody knows the troubles I see,
Nobody knows my sorrow."

----SHG [Lahir: 17 Desember 1942 -- Wafat: 16 Desember 1969]

"Sama. Aku juga, Gie..."
---Aku [Mulai Kuliah: September 1997 -- Sarjana: 16 Desember 2002]

Dua tahun sudah skripsiku berdebu di antara tumpukan majalah di kamar kosku di Makassar. Bulan lalu sempat menengoknya dan membuka-buka barang sebentar. Tak ingin membuatnya terabaikan begitu saja, karena dulu rasanya hampir mustahil bisa melihatnya berbentuk jilidan. Harus melewati perjuangan keras untuk meyakinkan dosen pembimbing dan penguji bahwa tetap ada hubungan antara SHG dan program studiku.
"Ini kamu sengaja?" Pertanyaan itu yang paling aku ingat. Pak Dosen menanyakan tanggal yang sama itu. Aku jawab tidak, karena mahasiswa di kampusku tak berhak menentukan sendiri jadwal ujiannya.

Ya, dua tahun sudah kutinggalkan tanah ajaib itu.
Dan kemarin mereka berperang lagi, mengikuti siklus menjelang pemilihan rektor. Dua fakultas arogan itu masih saja tidak berubah.

Tuesday, December 14, 2004

Liputan Sore Hujan

Sore. Gerimis mulai turun saat kami tiba di Kantor Kejagung. Hari ini tidak ada mobil, jadi kami terpaksa liputan naik taksi. Ipung mengeluarkan payung dari dalam ranselnya, melindungi kamera Sony PD 150 yang dibawanya, sedang aku masih mengandalkan jaket polar. Lagipula hanya ada tripod ini yang lumayan anti air.
Naik dan menunggu narasumber di lantai 6, gerimis itu mulai berubah menjadi titik air hujan. Bunyinya gemuruh menembus dinding kaca. Ipung tampak mengkhawatirkan suara itu yang menurutnya pasti akan mengganggu natsound kamera.
Jam lima lewat, setelah menunggu lumayan lama, Pak Suhandoyo datang. Hujan juga mulai mereda.
"Maaf, menunggu. Saya tadi harus menemani Jaksa Agung," katanya. Tentu saja kami bilang 'tidak apa-apa'. Kami juga telat datang dari jam 3 seharusnya sesuai perjanjian.
Ngobrol sebentar tentang maksud kami, dia minta izin melihat file sebentar. Dikeluarkanlah map-map berwarna hijau yang didalamnya bertumpuk surat berkode rahasia. Itu surat dari Presiden SBY yang mengizinkan pemeriksaan pejabat eksekutif dan legislatif. Rahasia ternyata berarti tidak boleh dilihat, tapi dibacakan boleh saja. Maka tersebutlah nama-nama itu, beberapa masih berstatus saksi, selebihnya sudah tersangka:

Drs. Darmono K. Lawi - anggota DPR/MPR: dugaan korupsi dana perumahan anggota DPRD Banten senilai Rp 10,5 miliar.
Adi Warsito -anggota DPR/MPR: kasus penyelewengan dana pemetaan hutan dengan teknologi foto udara yang merugikan negara hingga Rp. 133 milyar.
H. Faqih Haironi, H. Ahmad Toyfur, H. Daromi Irjas, H. Zuber Nawawi, KH. Ahmad Darowi- anggota DPR/MPR: korupsi APBD Jawa Tengah 2003.
Binahati B. Baeha -Bupati Nias: korupsi dana provisi sumber daya alam sektor kehutanan tahun 2001 berjumlah lebih dari Rp 2 miliar.
Lukman Abunawas, SH. -Bupati Konawe (Kendari): dugaan korupsi dana pesangon anggota DPRD di kabupaten itu tahun 2003 senilai kurang lebih Rp 2 miliar.
Korupsi dana EBTANAS tahun 2001 untuk sekolah se-Kabupaten Kendari.

Khalik Effendy -Walikota Bengkulu: kasus korupsi pelaksanaan pembangunan belanja modal perlengkapan renovasi pembangunan Pemda 2003.
Ir. H. Baharuddin Lisa -Bupati Barito Selatan, Kalteng: korupsi proyek Community Empowerment for Rural Development di Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (saksi)
Kamaluddin Djinab -Bupati Muara Enim: korupsi pelaksanaan proyek pekerjaan box culvert dan perbaikan jembatan pada ruas jalan Tanah Abang-Modong pada APBD 2003 (saksi)
Ir. Ibnu Amin, M.Sc. -Bupati Musi Rawas: korupsi dana proyek promosi Kabupaten Musi Rawas pada expo di Jogjakarta.
Abdul Kadir Mappong -Hakim Agung: korupsi dana bantuan KONI Jateng untuk 4 cabang olahraga senilai Rp. 50 juta.

Di meja Pak Suhandoyo, Kapuspenkum Kejagung itu, tersedia sepiring kue dalam plastik dan toples berisi berisi permen rasa aneka buah. Aku mencoba rasa Lyche, Ipung mengambil rasa pisang. Katanya jarang-jarang ada permen rasa pisang. Manis juga, mengalahkan rasa getir melihat nominal duit negara yang sudah dikorupsi pejabat-pejabat.

Hampir magrib, kami pamit pulang. Wawancara sudah selesai dan data-data dirasa sudah cukup. Lusa kami berencana membuat paket sidebar tentang pamong-pamong bermasalah.

Ternyata susah sekali menyetop taksi di depan kantor itu. Empat taksi kosong melaju begitu saja mengabaikan kami. Berpindah ke depan SMU 70, gerimis mulai membesar lagi. Titik-titik air terasa seperti jarum jatuh di atas kepala. Di bawah gapura itu, selain kami, ikut berteduh tiga orang anak SMU menunggu jemputan, seorang ibu guru, dan seorang tukang bakpao.
Demi melihat bakpao yang mengepul panas dalam suhu dingin itu, kami tergoda memesan. Masing-masing satu. Dalam urusan rasa tampaknya aku dan Ipung tak pernah bisa sepaham. Kali ini dia memesan bakpao isi kacang ijo, aku isi daging ayam.
Sementara itu, taksi belum ada juga yang mau berhenti.

Kami memutuskan berjalan sedikit lagi sampai ke depan gerai oriflame, berharap bisa menemukan beberapa taksi yang ngetem. Akhirnya dapat satu, bukan yang ngetem, tapi taksi melaju. Supirnya seorang tua asal Magetan, mengaku sudah puluhan tahun membawa taksi. Tidak lama lagi taksi ini akan menjadi miliknya, katanya, sedang dicicil dan tinggal dua tahunan lagi. Kami sempat mengobrol banyak, sekadar menawar kemacetan yang rutin di Jakarta.
Sampai di kantor gerimis kecil-kecil masih turun. Ipung mampir ke logistik mengembalikan alat, aku langsung naik ke lantai 3, ruang kerja kami.

Tidak bisa terus pulang karena aku masih harus membuat laporan keuangan penggunaan taksi --inilah yang membuatku malas liputan tanpa mobil operasional kantor. Tadi oleh Mbak Upit aku dikasih Rp.80.000, dan setelah hitung sana-hitung sini, sisa uangnya kukembalikan Rp.30.000. Itu setelah kukorupsi Rp.10.000; dengan perincian Rp.5000 untuk bayar dua bakpao, dan Rp.5000 yang kulebihkan untuk Pak Supir Taksi dari Magetan tadi.
Kalau ibuku tahu, aku pasti disuruh balikin Rp.5000 yang buat bakpao itu.

Saturday, December 11, 2004

Racun

Terakhir aku bertemu dengan laki-laki kurus berkumis merah itu sudah lama sekali, sekitar bulan Mei tahun lalu. Hanya beberapa hari setelah kantornya di Cisadane 9, Jakpus, diserbu sipil-militeris {atau militer-sipilis? :)] yang memporak-porandakan. Kami sempat ngobrol tentang aktivitas terakhirnya dan mengapa dia dituduh anti-NKRI. Di mataku --terlepas dari kontroversinya-- dia memang seorang pemberani, sama sekali tak tampak sirat ketakutan ketika mengomentari berbagai teror yang ditujukan padanya.

7 September 2004. Aku mendengar kabar kematiannya. Aku sedang di Kalimantan ketika itu, dan agak kesulitan mendapatkan akses berita yang sahih. Tapi mendengar dia meninggal di di pesawat dalam penerbangan ke Amsterdam, entah kenapa aku tiba-tiba teringat Baharuddin Lopa, tokoh HAM yang juga meninggal dalam atau setelah penerbangan. Mungkin terlalu berprasangka, tapi waktu itu aku berpikir pasti ada yang tidak wajar dalam kematian mereka.

Dua bulan kemudian, 11 November 2004, muncul berita di koran telah ditemukan 465 mgr arsen di lambungnya. Racun itulah yang diduga menyebabkan nyawanya melayang. Bisa dibayangkan bagaimana zat yang biasa dipakai membersihkan keris itu menggerus-gerus dinding lambungnya...

Kurang lebih dua minggu lalu, Pollycarpus, orang yang dianggap tahu tentang peracunan itu datang ke kantor kami untuk wawancara dengan Mas RM. Jawabannya bertele-tele dan terkesan membingungkan. Mungkin karena dia panik, mungkin juga karena dia tertekan. Saat ini hampir semua media menyorotinya.

Minggu lalu aku menemui Brahmanie Hastawatie, supervisor awak kabin Garuda yang bertugas saat peristiwa itu. Dia hanya bisa cerita tentang situasi penerbangan dari Jakarta-Singapura, karena menurutnya setelah itu dia turun di Changi dan digantikan supervisor lain, Madjid Nasution.
Tapi dia mengaku sempat bertukar sapa saat boarding, juga ketika pesawat transit agak lama di Changi.
"Jangan dihabiskan duitnya di sini, Belanda masih jauh." kata Brahmanie, bercanda. Setelah itu mereka berpisah, Brahmanie pulang kembali ke Indonesia dan Munir meneruskan penerbangannya ke Amsterdam, menemui ajalnya.

---
[Menkeh Baharuddin Lopa, Jaksa M. Yamin, Letjen Agus Wirahadikusumah: mereka resminya diberitakan meninggal karena sakit jantung, tapi entah ada apa di balik itu.
Ada juga Jose Martins-III, seorang yang tahu banyak tentang keterlibatan Indonesia di Timor Timur. Dia diundang pemerintahan Soeharto menghadiri peringatan 17 Agustus 1997, tapi tidak pernah sampai. Martins meninggal misterius setibanya di Jakarta dengan pesawat KLM, dan semua dokumen penting yang dibawanya hilang!]

Monday, December 06, 2004

Klarifikasi

Entah dari mana asalnya, tiba-tiba saya digosipkan sudah menikah. Asyik banget, serasa artis deh!:) Baru buka blog lagi setelah sebulan, dan gosip itu lumayan menghibur hati di hari pertama kerja. Bagi yang sudah terlanjur kasih selamat, makasih banyak... mudah-mudahan itu doa dan bisa terwujud secepatnya. Amin. :)