tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Saturday, October 16, 2004

Ngoceh Hari Ke-2


Hari kedua puasa, hari kedua aku gak sahur secara baik dan benar. Tadi subuh malah telat bangun, setengah lima! Gara-garanya baru tidur menjelang jam dua pagi. Abis nonton DVD Pearl Jam, terus nonton VCD RAfly-Kande, The Fighting Spirit.
Aku gak ngerti lagu-lagu bahasa berbahasa Aceh itu, tapi musiknya memang enak didengar. Nada-nada tinggi yang menyiratkan perlawanan dalam diam. VCD itu punya Tia yang aku culik dari tempat edit di Pejaten, oleh-oleh liputannya dari Aceh kemarin.

Aku masih ngutang satu setengah episode editan naskah lagi. Satu episode penuh tentang muslim dan tradisi sufi di Banjar dan Kutai, setengah episode --dua segmen-- muslim Wamena, dan satu segmen tambahan tentang pejuang Islam melawan penjajah.
Satu segmen ini agak bermasalah dan sempat di-pending Mbak Ami tempo hari. Masalahnya fakta yang aku temukan berdasarkan riset dan wawancara di lapangan agak beda dari yang diharapkan. Tokoh pahlawan itu ternyata tidak se-Islami yang ditulis dalam buku sejarah. Kalaupun dia bergelar Sultan, lebih karena warisan kerajaan mapan dari kakeknya yang pertama kali menerima Islam sebagai agama Kerajaan. Perjuangannya melawan Belanda juga lebih pada kepentingan politis dan ekonomi, bukan dalam konteks jihad seperti yang dilakukan oleh Imam Bonjol atau Cut Nyak Dien.

Setelah mendengar penjelasanku, Mbak Ami agak keberatan memasukkan pahlawan tersebut dalam barisan pejuang Islam yang melawan penjajah. Tapi aku ngotot ingin tetap memasukkannya dengan alasan dia memang berjuang melawan penjajah, bergelar Sultan yang notabene beragama Islam. Bahwa dia "mendompleng" agama untuk membakar semangat pasukannya, itu lain soal.
Sebenarnya, dalam lubuk hatiku yang binal --kuda 'kali!, aku hanya ingin menunjukkan kesalahan tafsir dalam memahami seseorang sebagai pahlawan atau bukan.
Tarolah ada dua raja yang masing-masing punya rakyat, dua-duanya muslim dan berjuang untuk kepentingan rakyatnya. Kemudian kedua raja itu berperang karena salah seorang raja yang merasa dominan berniat mengekpansi kerajaan yang satunya. Lalu raja yang terancam itu bekerja sama dengan Belanda untuk menyelamatkan rakyatnya.
Raja yang dominan itu kalah tapi kemudian diangkat sebagai pahlawan nasional. Ironisnya raja yang satunya dicap sebagai pengkhianat karena "bekerjasama" dengan Belanda --padahal itu dilakukannya untuk membebaskan rakyatnya dari penindasan.
Inilah yang aku maksud sebagai salah tafsir sejarah. Bagaimana mungkin seseorang bisa diangkat sebagai pahlawan nasional Indonesia padahal saat itu Indonesia sendiri belum lahir?
Jika dia tidak membuat seseorang yang lain terzalimi sebagai pengkhianat, its oke lah. Tapi ini? Hei, Come on!

Yang pasti hari ini aku kuciwa, sudah menunggu dari pagi tapi editor tidak datang. Jadi ingat iklan PSA Djarum: Sampai di mana kesabaranmu?

ps. Kata Dilla, beberapa orang menjalani Ramadhan seperti komputer operating sistem Windows XP tapi dengan prosesor 386.
Itu aku, mungkin!