tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Friday, October 08, 2004

Gie

Tadi siang dia baca di majalah, film itu sebentar lagi rampung. Tidak bisa bohong, ada yang menyesak di dadanya. Entah kesal, entah gembira.
Teringat dia pada sebuah email jawaban atas pertanyaan bodohnya dua tahun lalu:

....
Selamat atas kelulusan anda dalam ujian kemarin, tanggal 16 Desember. Tentunya ini bukan titik akhir, melainkan titik permulaan bagi karier anda selanjutnya. Karier anda adalah jalan tanpa ada ujungnya, karena hidup terus bergerak, "panta rei."

Soal film SHG tidak mau saya tolak atas dasar dua alasan:
1. Saya kenal [.....]. Dia seorang idealis yang berwawasan mendalam, serta punya jiwa entrepreneur dan kesanggupan organisasi yang baik. (Biasanya, kalau hanya idealis saja, tidak bisa terlalu banyak yang dia lakukan. Dia sudah berbicara dengan saya, dengan keluarga saya, dan saya menghargainya. Film itu pasti diusahakan supaya laku dipasar (kalau tidak bagaimana mengembalikan modalnya), tapi pasti tidak murahan. Karena mutunya tidak akan dikompromikan dengan selera pasar.

2. SHG sudah selesai hidupnya. Yang ada sekarang adalah persepsi orang terhadapnya. Hidup SHG sekarang sudah jadi milik publik. Dan ini macam2. Ada yang mengganggap dia pahlawan, ada yang berpikir dia orang gagal, ada juga yang mengira dia pengkhianat, dan sebagainya. Saya kira semua persepsi ini, yang baik dan yang buruk, akan merupakan kekayaan, ketimbang sesuatu yang negatip. Biarkan saja orang mempersepsikan SHG sesuai dengan yang diingininya, biarkan ada demokrasi persepsi.

Itu pendapat saya. Semoga berguna.
Arief