tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Thursday, October 28, 2004

Debu


Seorang pria bule berjanggut memainkan gitar bas-nya dengan tenang. Tasbihnya yang tergantung di badan gitar terayun pelan. Ketika jeda, tangannya berpindah dari senar ke tasbih itu, menelusurinya dengan zikir.
Empat perempuan cantik berjilbab juga sibuk dengan alat musiknya masing-masing. Dua orang memegang biola, seorang memetik sitar, dan seorang lagi memainkan alat musik seperti kulit kerang yang didecakkan berulang-ulang.

Pagi ini mereka --sekelompok pemain musik itu, datang ke kantor kami. Taping untuk wawancara program Buka Mata edisi Idul Fitri.

Tadi aku sudah hampir balik tidur ke kosan setelah begadang semalaman di tempat edit, andaikata tidak bertemu mereka dekat lift. Aku pernah melihat mereka di TV, menyanyikan lagu-lagu tasawuf bersama pemimpin mereka Syekh Fattah. Tadi mereka hanya datang bersepuluh, kurang tujuh orang dari formasi sebenarnya.

Menahan kantuk sebentar, demi melihat mereka dari dekat. Seperti apa orang-orang yang berani meninggalkan kemewahan dan menempuh jalan para sufi itu...