tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Sunday, October 31, 2004

Selamat Berbuka Puasa


...
"Sori, kalo gambarnya jelek. Standar spot banget...."
Tadi pagi aku baru ngasih tiga kaset miniDV itu ke Lies. Kemarin aku bantu-bantu jadi seksi dokementasi di acara buka bareng dengan anak-anak yatim di kantor. Siang sebelumnya juga ada Qur'ani Kids, semacam MTQ antar TPA gitu.
Pagi-pagi aku udah ngurus kamera di logistik, terus refresh sebentar. Udah lama banget ternyata aku gak megang kamera, ada kali setengah tahunan. Selama ini aku lebih banyak jadi reporter ketimbang camera person. Terakhir jadi campers waktu jalan bareng Dwi ke Lombok. Gak tau apa aku masih ingat kalo pake DVC Pro...

Kemarin itu Lies minta semua panitia pake baju koko, biar enak dilihat katanya. Untung aku punya satu yang belum kepake dari tahun lalu, aku beli dari ibu kos. Seumur-umur itu pertama kali aku pake baju koko. Rasanya pengen selalu dicopotin aja. Hehehe. Beberapa teman yang memergoki aku dengan dandanan kayak gitu, sempat-sempatnya nyelutuk, "Udah, Chan. Gak usah pake topeng gitulah." Anjrit!
Tapi akhirnya aku sukses pake itu busana sampai acara selesai jam sembilan malam.

Senang sekali melihat anak-anak itu bergembira. Ali, mantan anak Trans yang sekarang udah di Jogya, juga datang dan jadi MC. Aku salut pada caranya menaklukan ratusan anak-anak dengan bermacam polah itu. Mereka datang dari berbagai panti asuhan di Jabotabek, juga anak-anak asuh dari masyarakat sekitar kantor. Anak-anak berkecukupan dan berbahagia lahir batin juga banyak yang ikut, sengaja digabung jadi satu. Namanya juga anak-anak, bandelnya bukan main. Di tengah-tengah acara malah ada yang main lempar-lemparan.

Melihat aku mondar-mandir bawa kamera, seorang anak bertanya, "Kakak, gak puasa ya?"
"Puasa dong! Kenapa?"
"Dari tadi jalan-jalan mulu. Gak capek apa?"
Aku tertawa. Mereka tentu belum lihat bagaimana "menderitanya" teman-teman yang kebagian tugas liputan arus mudik. :D

Sebagai pengisi acara, Neno Warisman datang baca puisi. Sebelum baca puisi, Neno mencoba mengingatkan tentang akhlak Rasulullah.
"Nah, sekarang Bunda mau nanya. Siapa yang ingin meniru Rasullah?" tanyanya.
"Saya!!!" Semua anak mengacungkan tangan.
"Bagus," kata Neno, yang menyebut dirinya dengan "Bunda".
"Siapa [...lupa...]?"
"Saya!!!" Lagi-lagi semua anak mengacungkan tangan serempak.
"Pintar. Rasulullah itu sayang kepada semua orang dan hidupnya sangat sederhana. Kadang-kadang beliau tidur hanya beralaskan tikar. Di sini siapa yang tidur pake alas tikar?"

Kali ini tidak banyak yang mengacungkan tangan. Hanya sekelompok anak yang duduk di pojok, berseragam biru dengan logo panti asuhan di bagian sakunya.
Dari tadi mata mereka lebih banyak melihat ke atas. Monitor plasma yang tergantung di atas lobi sepertinya lebih menarik perhatian mereka.
Di panti pasti tak ada TV yang sebesar itu.

Thursday, October 28, 2004

Debu


Seorang pria bule berjanggut memainkan gitar bas-nya dengan tenang. Tasbihnya yang tergantung di badan gitar terayun pelan. Ketika jeda, tangannya berpindah dari senar ke tasbih itu, menelusurinya dengan zikir.
Empat perempuan cantik berjilbab juga sibuk dengan alat musiknya masing-masing. Dua orang memegang biola, seorang memetik sitar, dan seorang lagi memainkan alat musik seperti kulit kerang yang didecakkan berulang-ulang.

Pagi ini mereka --sekelompok pemain musik itu, datang ke kantor kami. Taping untuk wawancara program Buka Mata edisi Idul Fitri.

Tadi aku sudah hampir balik tidur ke kosan setelah begadang semalaman di tempat edit, andaikata tidak bertemu mereka dekat lift. Aku pernah melihat mereka di TV, menyanyikan lagu-lagu tasawuf bersama pemimpin mereka Syekh Fattah. Tadi mereka hanya datang bersepuluh, kurang tujuh orang dari formasi sebenarnya.

Menahan kantuk sebentar, demi melihat mereka dari dekat. Seperti apa orang-orang yang berani meninggalkan kemewahan dan menempuh jalan para sufi itu...

Wednesday, October 27, 2004

Mungkin aku yang kepagian.
Aku yang kepagian...

...

Allah, aku lelah.
Kuatkan aku seperti Engkau menguatkan dia.
Aku benar-benar lelah. Lelah sekali, Ya Allah...
Tapi kali ini aku tak ingin mengeluh selain kepada-Mu.

Sunday, October 24, 2004

Berbenah, Chan!

ketika telah kuberjalan tak melawan arah lagi,
ketika telah kukembalikan langkah ke jalurnya lagi,
ketika telah kuredam dentam tak bergejolak lagi,
ketika semua telah kubenahi,
dan rapih di tempatnya lagi.

aku akan datang,
meletakkan tanganku di dahimu,
melafal do'a Rasulullah;
Semoga kau masih di sana,
menungguku dengan gaunmu yang berkibar-kibar...

--makasih, untuk mengingatkan.--


Tuesday, October 19, 2004

Mar'ah Sholihah


Aku ingin sekali menulis tentangmu,
tapi entah kenapa aku lumpuh kata.
Padahal masih jauh menujumu dari sini.
Mungkin empat peristirahatan lagi.

...
Yah, sudahlah.
Jaga diri baik-baik saja.
Jangan lupa makan malam.

Monday, October 18, 2004

Santun

"Baik-baiklah di mata Allah, Bro.
Pelihara silaturrahmi. Dan jaga diri."


Pesan itu pendek saja, masuk ke hp-ku tadi siang, dari seorang teman yang lama tak bertemu. Kalimat pendek di antara belasan sms ucapan selamat berpuasa itu membuatku tergetar. Bukan apa-apa, tapi rasanya seperti digedor.
Cukup santunkah aku selama ini di mata-Nya?

Saturday, October 16, 2004

Ngoceh Hari Ke-2


Hari kedua puasa, hari kedua aku gak sahur secara baik dan benar. Tadi subuh malah telat bangun, setengah lima! Gara-garanya baru tidur menjelang jam dua pagi. Abis nonton DVD Pearl Jam, terus nonton VCD RAfly-Kande, The Fighting Spirit.
Aku gak ngerti lagu-lagu bahasa berbahasa Aceh itu, tapi musiknya memang enak didengar. Nada-nada tinggi yang menyiratkan perlawanan dalam diam. VCD itu punya Tia yang aku culik dari tempat edit di Pejaten, oleh-oleh liputannya dari Aceh kemarin.

Aku masih ngutang satu setengah episode editan naskah lagi. Satu episode penuh tentang muslim dan tradisi sufi di Banjar dan Kutai, setengah episode --dua segmen-- muslim Wamena, dan satu segmen tambahan tentang pejuang Islam melawan penjajah.
Satu segmen ini agak bermasalah dan sempat di-pending Mbak Ami tempo hari. Masalahnya fakta yang aku temukan berdasarkan riset dan wawancara di lapangan agak beda dari yang diharapkan. Tokoh pahlawan itu ternyata tidak se-Islami yang ditulis dalam buku sejarah. Kalaupun dia bergelar Sultan, lebih karena warisan kerajaan mapan dari kakeknya yang pertama kali menerima Islam sebagai agama Kerajaan. Perjuangannya melawan Belanda juga lebih pada kepentingan politis dan ekonomi, bukan dalam konteks jihad seperti yang dilakukan oleh Imam Bonjol atau Cut Nyak Dien.

Setelah mendengar penjelasanku, Mbak Ami agak keberatan memasukkan pahlawan tersebut dalam barisan pejuang Islam yang melawan penjajah. Tapi aku ngotot ingin tetap memasukkannya dengan alasan dia memang berjuang melawan penjajah, bergelar Sultan yang notabene beragama Islam. Bahwa dia "mendompleng" agama untuk membakar semangat pasukannya, itu lain soal.
Sebenarnya, dalam lubuk hatiku yang binal --kuda 'kali!, aku hanya ingin menunjukkan kesalahan tafsir dalam memahami seseorang sebagai pahlawan atau bukan.
Tarolah ada dua raja yang masing-masing punya rakyat, dua-duanya muslim dan berjuang untuk kepentingan rakyatnya. Kemudian kedua raja itu berperang karena salah seorang raja yang merasa dominan berniat mengekpansi kerajaan yang satunya. Lalu raja yang terancam itu bekerja sama dengan Belanda untuk menyelamatkan rakyatnya.
Raja yang dominan itu kalah tapi kemudian diangkat sebagai pahlawan nasional. Ironisnya raja yang satunya dicap sebagai pengkhianat karena "bekerjasama" dengan Belanda --padahal itu dilakukannya untuk membebaskan rakyatnya dari penindasan.
Inilah yang aku maksud sebagai salah tafsir sejarah. Bagaimana mungkin seseorang bisa diangkat sebagai pahlawan nasional Indonesia padahal saat itu Indonesia sendiri belum lahir?
Jika dia tidak membuat seseorang yang lain terzalimi sebagai pengkhianat, its oke lah. Tapi ini? Hei, Come on!

Yang pasti hari ini aku kuciwa, sudah menunggu dari pagi tapi editor tidak datang. Jadi ingat iklan PSA Djarum: Sampai di mana kesabaranmu?

ps. Kata Dilla, beberapa orang menjalani Ramadhan seperti komputer operating sistem Windows XP tapi dengan prosesor 386.
Itu aku, mungkin!

Wednesday, October 13, 2004

Kaffah

Beberapa hari lagi program "Perjalanan Islam Indonesia" akan tayang. Bersamaan awal puasa dan seterusnya sampai Idul Fitri.
Tadi kami preview edisi Syiah. Sebelumnya Jamaah Tabligh dan Laskar Jihad juga sudah diberesin. Muslim Papua bahkan sudah dijahit untuk press release nanti sore.
Aku tidak berharap pada rating dan share. Siapa yang mau menonton acara demikian di tengah gempuran komedi sahur-buka dan sinetron Ramadhan yang molek-molek itu?

Yang pasti aku hanya ingin belajar memahami. Hampir 26 tahun ber-Islam, ternyata aku belum mengenal agamaku terlalu baik.

Saturday, October 09, 2004

[Don't] Push The Limit!

Daus akhirnya benar-benar tepar. Gejalanya sebenarnya sudah mulai kelihatan waktu di Ternate. Mual-mual dan nafsu makannya hilang. Di Makassar mulai agak parah. Suatu hari di hotel dia pusing dan berkeringat dingin. Lucunya, tengah malam kami malah keluar menyusuri jalan sampai jam setengah dua, mencari warnet yang buka 24 jam.
Waktu nongkrong dengan pengamen di Losari itu kayaknya juga dia sudah mulai kena.

Kemarin dia pulang ke Bandung, karena dokter mengharuskannya istirahat total sebulan penuh. Penyakitnya ternyata gak seringan yang dibayangkan...

Istirahat aja, Bro. Semoga cepat sembuh. Yang di sini gak usah dipikirin, nanti aku usahain biar gak keteteran. Sori kalo kamu terforsir banyak selama liputan itu.
Sori, terutama tentang sehari di lima kota itu. Rasanya itu memang agak tak wajar untuk sebangsa manusia.

Friday, October 08, 2004

Gie

Tadi siang dia baca di majalah, film itu sebentar lagi rampung. Tidak bisa bohong, ada yang menyesak di dadanya. Entah kesal, entah gembira.
Teringat dia pada sebuah email jawaban atas pertanyaan bodohnya dua tahun lalu:

....
Selamat atas kelulusan anda dalam ujian kemarin, tanggal 16 Desember. Tentunya ini bukan titik akhir, melainkan titik permulaan bagi karier anda selanjutnya. Karier anda adalah jalan tanpa ada ujungnya, karena hidup terus bergerak, "panta rei."

Soal film SHG tidak mau saya tolak atas dasar dua alasan:
1. Saya kenal [.....]. Dia seorang idealis yang berwawasan mendalam, serta punya jiwa entrepreneur dan kesanggupan organisasi yang baik. (Biasanya, kalau hanya idealis saja, tidak bisa terlalu banyak yang dia lakukan. Dia sudah berbicara dengan saya, dengan keluarga saya, dan saya menghargainya. Film itu pasti diusahakan supaya laku dipasar (kalau tidak bagaimana mengembalikan modalnya), tapi pasti tidak murahan. Karena mutunya tidak akan dikompromikan dengan selera pasar.

2. SHG sudah selesai hidupnya. Yang ada sekarang adalah persepsi orang terhadapnya. Hidup SHG sekarang sudah jadi milik publik. Dan ini macam2. Ada yang mengganggap dia pahlawan, ada yang berpikir dia orang gagal, ada juga yang mengira dia pengkhianat, dan sebagainya. Saya kira semua persepsi ini, yang baik dan yang buruk, akan merupakan kekayaan, ketimbang sesuatu yang negatip. Biarkan saja orang mempersepsikan SHG sesuai dengan yang diingininya, biarkan ada demokrasi persepsi.

Itu pendapat saya. Semoga berguna.
Arief

Thursday, October 07, 2004

Lontara 2

Dari sini cinta tumbuh.
Dari yang sederhana ini.

Bisa jadi hanya sebangsa pagar rapuh.
Tapi tangan ini, dua tangan ini.
Akan menjagamu.
Bahkan ketika kau terlelap di meja batu.

Tuesday, October 05, 2004

Tegak

Sungguh, aku betul-betul ingin belajar bersyukur. Tidak lagi memaki keadaan seperti yang lalu-lalu. Harusnya aku bisa belajar banyak dari pengalaman. Seperti yang aku baca di kaosnya Nina tempo hari, "Semua orang adalah guru. Alam raya sekolahku."
Harusnya bisa diam dalam gelombang. Tegak dalam badai.

Sunday, October 03, 2004

Lupa

Pulang ke Jakarta lagi, aku ketinggalan banyak isu hangat. Kantor yang semakin ramai oleh wajah-wajah baru cantik rupawan. Program bertambah. Teman-teman yang sudah pindah ke stasiun TV lain...
Dan nomor PIN!
Ah, kenapa pula aku bisa lupa tujuh angka itu!!!