tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Tuesday, September 21, 2004

Sore ini


Sore ini aku sudah di Ambon.
Cepat sekali. Baru tadi siang aku masih di Makassar. Tadi malam masih di Losari, lalu di Maricaya, ngobrol dengan teman-teman Korpala dan Mbak Butet Manurung di lobi hotel. Kemarin pagi masih di Kendari. Sehari sebelumnya masih di Buton.

Seharusnya ini rute terakhir, dan lelah mulai meradang. Di pesawat tadi Daus mulai mengeluhkan telinganya yang berdenging --menurutnya karena terlalu sering berada di ketinggian. Aku juga, tapi bukan denging itu yang kukeluhkan. Mungkin lebih pada batu pal yang tak jua ketemu...

Beberapa kali aku lupa pada esensi, sehingga harus diingatkan pada makna jalan. Bahwa setiap langkah itu adalah ibadah, sehingga setiap tegur sapa dari-Nya tidak lantas jadi seperti bayang-bayang kematian.

Sore ini aku sudah di Ambon.
Sepanjang jalan melewati reruntuhan bekas kerusuhan. Jen Latuconsina, teman yang menjemput kami di bandara Pattimura tadi, menjelaskan peristiwa seperti menerangkan statistik.
"Yang itu sudah dua kali," katanya menunjuk sebuah gedung. "Waktu kerusuhan pertama kena, terus dibangun, eh dibakar lagi pas kerusuhan."
Di dinding-dinding kota, bekas-bekas tembakan peluru masih tampak. Membuatnya lebih mirip bocah jerawatan.
Minggu lalu, sebuah bom baru saja meledak dekat markas tentara.

Sore ini aku sudah di Ambon.
Aku berpikir semuanya sudah aman. Karena seorang ibu yang sama-sama menunggu bagasi di airport tadi sempat bercerita tentang potongan blus mutakhir. Sudah pasti aman, karena tak ada yang tega bicara tentang renda bunga-bunga bila arang bekas bakaran masih mengepulkan asap.

Sudah pasti aman, pikirku.
Tapi kenapa tukang ojek yang kutumpangi kelihatan gelisah ketika mengantarku ke kantor airline depan RRI?
Dan kenapa orang masih bicara tentang daerah merah dan daerah putih? Obet atau Acan?

Sungguh. Tiba-tiba aku merasa sangat beruntung dengan kakiku --yang sekalipun cepat lelah-- tapi punya langkah panjang yang tak perlu resah kemana-mana. Karena betapa tidak menyenangkannya hidup dalam kotak. Sangat tidak menyenangkan.