tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Wednesday, September 22, 2004

Sekedar Bertanya dan Mengingat


"malam hari tetaplah malam,
tak pernah bisa menghilang
akan terus ia datang
di mana kau terlelap

betapapun sedihnya awan
tak mungkin bisa bicara
kepadanya kita minta
mengantar mimpi datang..."

[malam tetaplah malam, PAS Band]


Malam ini kami menyusuri Jalan Sultan Baabullah. Jalan yang ramai, pedagang kaki lima, orang-orang berseliweran, seolah tak pernah ada apa-apa. Ruas jalan ini adalah satu di antara sedikit jalan yang bisa dilalui oleh orang Islam dengan bebas. Setelah kerusuhan agama pecah di Ambon, kota ini terbagi dengan sangat menyedihkan. One teritory, one faith!
Bahkan trayek angkot pun terbagi berdasarkan agama.

Di ujung jalan ada mesjid Al-Fatah, mesjid yang di masa kacau selalu jadi benteng pertahanan terakhir. Di depan pagarnya aku berhenti, berdiri melongok ke dalam. Rumputnya tampak seperti biasa pada umumnya mesjid. Tenang dalam temaram.

Hamparan rumput itu, dan hawa malam, mengingatkanku pada seorang teman yang terpaksa dirujuk ke Rumah Sakit Wahidin Makassar, karena tak bisa ditangani dokter di sini. Waktu itu aku tak sempat menjenguk dia. Hanya mendengar kabar tentang lukanya yang parah, sembari bertanya dalam hati; kenapa juga orang harus berperang [atas nama agama]?

Atau mungkin aku yang tolol, karena tak paham makna jihad atau perang salib. Tolong, ajari aku...


"malam kutunggu datang,
bertabur bintang
terangilah diriku,
malam, berikanlah jawaban...

tak pernah kita yakini apa yang terjadi di esok hari
akankah datang bahagia ataukah duka lara..."

[malam tetaplah malam, PAS Band]