tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Wednesday, September 29, 2004

Lewat Tengah Malam di Losari



Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah satu dini hari. Jalanan mulai sepi, dan hidup berganti shift. Perempuan baik-baik sudah pulang ke rumah. Setelah membersihkan sisa alas bedak dan lipstik, lalu berbaring dengan segelas susu pengantar tidur. Menjemput mimpi.

Perempuan [ bukan ] baik-baik mengambil alih menjelajah malam, menjajakan diri. Masih dengan pakaian yang kemarin juga. Beberapa tukang becak membantu menawarkan mereka pada tamu-tamu hotel yang kedinginan -dan kesepian.

Di depan hotel tempatku menginap, sebuah lakon bermula. Lakon lama dari tahun-tahun yang lewat. Pelacur-pelacur yang beranjak tua dan regenerasi yang berjalan lambat. Pedagang minum dengan kotak dinginnya yang didorong-dorong. Bocah dan nenek-nenek pengemis. Anak muda pengamen.

Ini sisi lain Losari. Tak banyak yang berubah, kecuali baliho besar bergambar [mantan] presiden yang menghimbau [tentu saja dengan sedikit muatan politis...] untuk menjaga kebersihan pantai kebanggaan Makassar ini.

Bado, pengamen cilik itu sekarang sudah besar. Tidak lagi menabuh gendang dua dan bersenandung lagu-lagu kasidahan. Ade, temannya sudah aku rental duluan menyanyikan lagu-lagu Iwan Fals sebelum dia datang.
Aku menraktrirnya sebotol teh dingin dan sebungkus rokok, dan bernyanyilah dia tanpa beban.

Saat Bado datang menghampiri kami, Ade mengingatkan.
"Bado, kau masih ingat Abang ini, dia mantan pengamen di sini, tapi sekarang sudah di Jakarta." kata Ade.

Aku tertawa mendengarnya, tidak juga protes. Tadi aku hanya menanyakan kabar pengamen-pengamen tua yang dulu sering di sini. Beberapa dari mereka teman-temanku. Tapi kata Ade mereka sudah banyak yang pergi menyusul dipindahkannya keramaian pantai ke daerah Metro Tanjung Bunga.

"Eh, sori, Bang. Saya nda ingat-ki'..." kata Bado.

Tentu saja dia lupa. Ada ratusan orang yang pernah berkeliaran di sini. Sekarang dia sudah besar. Waktu aku masih sering nongkrong di sini, dia masih menabuh gendang dua. Sekarang dia sudah menenteng gitar juga.

Tapi dia masih sering bernyanyi lagu Hadad Alwi dan Sulis.

"Mengenang almarhurmah ibu," katanya sebelum mulai memetik gitarnya. Lagu "Ummi" mengalun dengan nada-nada yang berat. Beberapa tahun lalu, ibunya meninggal terseret arus Sungai Jenneberang.

...
Tiga anak kecil pedagang asongan datang bergabung. Asgar, Ridul, dan Ardi. Asgar menjual rokok, Ridul menjual minuman botol, Ardi tidak jelas menjual apa. Dari tadi kerjanya hanya mondar mandir mengganggu teman-temannya. Aku menawari mereka minuman botol. Ridul dan Asgar mengambil teh botol dan Fanta melon, sedang Ardi minta sarabba -minuman tradisional semacam wedang jahe. Tapi tidak diminumnya. Sarabba itu dimasukkan ke dalam botol plastik bekas Aqua.

"Untuk orang tua di rumah…" katanya. Abang penjual Sarabba itu tertawa.

"Anak saleh tawwa!" kata istri penjual sarabba itu, yang juga menemani suaminya menjual minuman.

...
Aku baru sadar kalau pedagang minuman yang sejak tadi berada dekat kami itu adalah sepasang suami istri. Istrinya menjual minuman dingin dalam kotak warna hijau muda, sedang suaminya menjual sarabba panas dalam kotak dorong warna hijau tua dengan tulisan "Sarabba Pesisir". Aku baru tahu saat wanita itu rebahan di paha si penjual sarabba.

"Suami istri ya?" tanyaku.
Mereka tertawa.

"Sudah berapa tahun, Ibu?" tanyaku pada sang istri.
"Tiga belas tahun."

Penjual sarabba itu bernama Suriadi, perantau dari Kalimantan. Istrinya, Baenah, asli Makassar, mantan penjaga toko pakaian di ujung jalan sana. Di sanalah mereka bertemu dan berjodoh.
Aku lupa menanyakan anaknya. Tapi rasanya tadi aku melihat seorang bocah perempuan juga ikut tertidur bersama mereka di bangku panjang, sebelum kami datang dan membuat mereka terbangun

Jam dua dini hari. Aku dan Daus kembali ke hotel Losari Beach -kamar 405. Teman-teman kami tadi juga beranjak pulang. Besok, kenyataan hidup masih menunggu.
Tapi senang sekali rasanya bisa berbagi kegembiraan, walau sebentar...