tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Saturday, August 07, 2004

Tak Pernah Bersedih

"Seseorang diingat dari hal-hal kecil..."
---Kata dia, suatu sore, 2004---


Perjalanan panjang itu mempertemukan kami. Sebelumnya tidak pernah seakrab ini. Di hari-hari biasa kadang-kadang saja kami bertemu di selasar, dan selalu aku berusaha menghormat lebih dulu. Karena dari kecil aku diajarkan menghormat pada yang lebih tua. Tapi tidak pada bendera.
Dan "Pak Tua" ini, bagiku, wajib dihormati.

Melalui caranya yang aneh, aku belajar banyak hal. Suatu malam, di kamar hotel di sebuah kota kecil di Timur, dia bercerita tentang sebagian masa mudanya yang dia habiskan di laboratorium, dengan sebuah cita-cita "mulia": menenggelamkan Pulau Jawa! Impiannya supaya tak ada lagi dua "suku besar" yang selalu merasa lebih hebat dari yang lainnya. Dia sendiri berasal dari salah satu "suku besar" itu.
Saat itu, dari kilatan matanya yang samar oleh asap Dji Sam Soe, aku tahu dia tidak sedang bercanda.

Di hari yang lain, dia bicara tentang kesedihan. Katanya, "jangan pernah memperlihatkan kesedihanmu kalau kamu laki-laki". Jika ingin menangis, jangan sampai ada orang lain yang melihat. Suatu kali dia berkelahi dengan abangnya, dan kena tonjok. Setengah mati dia berusaha menahan tangisnya. Karena tak kuat, "saya masuk kamar, dan di situ saya menangis sejadi-jadinya..."

Aku tidak tahu banyak tentang kehidupan pribadinya, tapi dari banyak hari kami bertemu, tak pernah sekalipun aku melihat dia bersedih. Kegembiraannya saja yang menular. Dalam hidup, sepertinya Allah memang sengaja menyediakan orang-orang seperti itu, untuk mengingatkan bila mulai cengeng.
God bless you, Sir!