tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Thursday, August 05, 2004

Seperti Jam Pasir


[Ya Allah yang Maha Mulia, janganlah Kau timpakan kepada kami ilmu yang tak bermanfaat, do'a yang tak terdengar, nafsu yang tak pernah puas, dan hati yang tak bisa tenang.... ]

Pagi-pagi sekali, jam 3 subuh. Di depan komputer dengan mata yang tak kompromi. Menunggu VTR nganggur untuk preview gambar dan verbatim, kemarin tak sempat karena ketiduran di pojok Fenomena. Dan malam ini masih di kantor, mulai terbiasa, tak perlu jaket lagi. Pulang ke kosan paling untuk ganti baju dan nyetor cucian sama ibu kos. Hanya saja dada mulai sering terasa sesak bila menarik nafas di pagi hari. Mungkin pengaruh udara yang tak sehat dari AC sentral.

Ewin dan Revi masih kerja keras di pojok Fenomena, ngedit edisi re-make "Swinger"; tentang sekelompok pemuja seks yang rela bertukar pasangan demi kenikmatan lebih [tayang besok jam 11 malam]. Nongkrong di situ bisa bikin mata melek semalaman.

Dunia memang sudah demikian renta. Mungkin tak lama lagi kiamat, karena kita [kita??] semakin mudah menerima hal-hal dekaden sebagai kewajaran, seperti jam pasir yang tak jelas mana atas mana bawah. Bisa jadi ini keniscayaan atas peradaban yang terus berkembang.
Demikianlah. Maka orang-orang kolot, bersama para idealis, moralis, dan rohaniawan, akan segera masuk kotak, atau harus berangkat tidur sebelum jam sebelas malam jika tak ingin kena serangan jantung. Dan jangan lupa cuci kaki, agar tidak mimpi buruk....