tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Monday, August 09, 2004

Satu Bab Tentang Menjadi Bebal

Sebelum bertemu kalian, aku pikir akan tersesat di tempat ini, di rimba tak menentu ini. Ketakutan yang aku bawa dari masa lalu, cukup membuat langkah tersaruk-saruk. Ketakutan atas kesadaran bahwa aku tak bisa apa-apa dengan internal control yang kacau balau.
Dulu, dengan kondisi yang sama, aku bisa bertahan karena aku punya dua orang yang tak pernah bosan mengingatkan. Dengan kata-kata, atau dengan hantaman keras di ulu hati.
Abangku --seorang Islam ekstrim pada awalnya, dan adikku --seorang peminat Hasan Al-Banna.
Dua-duanya bersedia menyediakan diri menjadi external control yang setia.

Dan kini, setelah terpisah ribuan kilometer dari mereka, aku hanya bisa berharap kepada kalian. Mungkin memang tak bisa tergantikan utuh. Tapi satu teguran dari kalian setidaknya menyadarkan kalau aku tidak pernah sendirian di atas bumi ini.

So, My friends, makasih banyak karena masih menganggapku sebagai saudara, meski sampai hari ini belum pernah sekalipun aku penuhi ajakan kalian untuk ikut di pengajian pekanan itu.
Doakan, suatu hari nanti aku akan mendatangi kalian bukan dengan kaki saja, tapi juga dengan hati...