tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Tuesday, August 17, 2004

Ibda' bi nafsika

Ada yang berulang tahun hari ini. Andai manusia, dia telah memasuki renta. Sewajarnya untuk mulai banyak berzikir dan beristigfar mohon ampun dosa.
Tapi dia bukan manusia, melainkan hanya sebuah kumpulan semangat yang berusaha bertahan untuk tetap utuh. Ada yang menyebutnya Ibu Pertiwi. Tapi bukankah seorang ibu tidak semestinya angkuh. Meneror dan menyakiti anak-anaknya sendiri tentu saja bukan tugas seorang ibu.

Seorang ibu semestinya memberikan perlindungan kepada anak-anaknya. Tidak membiarkannya dikejar-kejar seperti tikus got di negara tetangga demi sesuap nasi. Seorang ibu mestinya malu bermewah-mewah jika anak-anaknya tak punya tempat berteduh. seorang ibu mestinya malu jika setiap bayi yang lahir dari rahimnya seketika berhutang sekian juta...

Maafkan, tapi mari kita sedikit memberi kenangan pada TKW yang loncat dari lantai 3 rumah majikannya dan jadi makanan berita itu. Pada Al-Ghozi yang pulang dalam peti mati dengan tuduhan teroris tanpa ada sedikit pun perlindungan dari negara. Pada Ustadz Baasyir yang dipenjara berkepanjangan demi memuaskan hasrat sebuah negara adidaya. Pada orang-orang Aceh, orang-orang Ambon, orang-orang Poso. Pada bocah yang kedinginan tertidur di stasiun Gambir di suatu subuh. Pada seorang bayi di Manado yang mati tertimpa reruntuhan saat rumahnya digusur paksa. Pada seorang tentara cacat veteran perang Timor-Timur...

Lalu [kemerdekaan] apa yang kita rayakan hari ini?

[ada sebuah negara tak pernah merdeka; negara diri. Selalu dijajah oleh nafsu, mari kita urus yang satu ini dulu. :D]