tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Sunday, August 01, 2004

Cahaya yang Baur


Seperti selalu ada yang tertinggal setiap kali aku pulang dari liputan luar. Bayangan-bayangan aneh dalam tidur yang tak tenang; terperangkap di tengah kerumunan, tiket hilang, atau sekadar data yang tak lengkap.
Sudah hampir tiga minggu lewat, tapi beberapa kali aku terbangun tengah malam, dan merasa seperti masih berada di Lembah Baliem, tiduran beralas dan beratap rumpun ilalang kering di honai kepala suku. Bocah-bocah tak berbaju dengan penyakit mata yang parah. Tombak kayu saga. Teriakan-teriakan perang di tengah kota. 24 ekor babi tumbang dalam sebuah upacara bakar batu di Walesi. Laki-laki berkoteka yang menghampiri, "Nayak, Bapa! Bapa ada seribu?"

Tadi malam nonton Fahrenheit 9/11 bareng Bang Buyung di rumahnya sampai jam 3 pagi, dan gambar-gambar sadis tentang perang menyerbu mata. Seorang presiden berhasil dibuat tampak tolol di situ. Makin sempurna kebencianku pada perang!
Seorang temanku bertanya kenapa aku begitu membenci Amerika. Sebenarnya tidak demikian, bahkan pada Indonesia pun kebencianku bisa sama kadarnya jika pemimpinnya membuat orang-orang miskin terpaksa tidur beratap langit.
Jika para pemikir Indonesia lulusan luar negeri itu asyik dengan mainan demokrasi mereka, sementara ribuan anak tidak bisa sekolah karena gedung sekolah sudah jadi institusi industri!
Jika konflik dan perang di berbagai daerah sengaja dikobarkan sebagai lahan bisnis senjata dan ajang latihan perang alumni akademi militer dan sekolah tentara lainnya!!!
"Seharusnya kita tak usah bertanya kenapa Aceh tidak bisa tenang," kata seorang teman perjalanan satu pesawat ke Aceh tempo hari.

====
Dalam sebuah kesempatan yang iseng, Mas HSG meminta aku membubuhkan tanda tangan di atas selembar kertas, dan kemudian keluarlah hipotesanya tentang karakter dan kondisi jiwaku.
"Kamu saat ini sedang marah besar pada sesuatu, teramat marahnya sampai mempengaruhi keputusan-keputusanmu..." kata Mas HSG.
Aku heran dan sedikit merasa lucu, karena rasanya hatiku tenang-tenang saja belakangan ini. Tak banyak gejolak. Satu-satunya yang membuatku resah saat ini adalah 3 naskah perjalanan ke Papua yang belum juga beres. Hanya resah itu saja.
Atau mungkin ada "kemarahan" lampau yang tampak jelas di mata orang lain tapi tak aku rasakan lagi karena semakin bebal?
Semoga tidak. Semoga tidak.