tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Monday, August 23, 2004

...kaki ringkih ini akan dibawa melangkah lagi, dan dia tak bisa apa-apa tanpa lindungan-Mu...


Pagi ini, insya Allah, kami --aku dan Bang Buyung-- akan memulai perjalanan bekerja lagi. Segepok tiket dengan sebelas rute penerbangan itu sudah aku terima dari kemarin. Itu belum termasuk tiket penerbangan lokal dan transportasi laut yang tidak bisa dipesan lewat kantor.

Dari riset seadanya, kecuali kota yang tertulis dengan huruf besar di peta, aku hanya bisa menerka-nerka tempat yang akan kami datangi. Menghabiskan pesisir barat Kalimantan, kemudian ke selatan dan timur. Setelah itu menyeberang ke Sulawesi dan menyusuri dua kaki pulau itu. Dari Sulawesi, tujuan selanjutnya adalah Maluku. Kemungkinan besar berakhir di Ternate atau Pulau Buru.
Kalau semuanya lancar, perjalanan kali ini akan memakan waktu satu bulan.
Moga-moga senantiasa terlindungi. Amin.

Saturday, August 21, 2004

Penyusup

"Ochan itu maleeeeesss banget klo disuruh riset. Dia sih males mulainya sebenarnya :p Gayanya sih serius di depan komputer. Eee..., pas diliat layar monitornya, malah nge-blog!:p
Hmm, Ochan mau keliling ke Kalimantan & Sulawesi... sementara aku masih seputar Jawa :(
Gpp deh, asal BAWAIN OLE2 YAAAA!!! Masing-masing satu ole2 dari tiap tempat yang loe datengin, Chan. Haruuusss!!!! Oya, jangan lupa ambil gambar rumahnya... itu tuh... hehehe...^_^ Diponegoro maksudnya...:D"

Selamat Berjuang!!!

-----
[Jangan pernah meninggalkan blog dalam keadaan terbuka, ntar diisi orang seperti kejadian di atas ini. Itu Vera yang tulis, kasian dia--mainnya ama Sunan-sunan melulu... Kesian dehhhhh! ]

Thursday, August 19, 2004

Sepotong Sajak Revolusi



"Bergeraklah, bergeraklah!
Karena matahari terlanjur terbenam, dan pagi masih lama!"
--MFM, 2001--


Aku lupa siapa yang mengucapkan kalimat yang tertulis di dinding UKPM itu, tempat kami pernah menghabiskan banyak malam dalam diskusi panjang tentang pergerakan mahasiswa --dan segala yang utopis lainnya.
Betul-betul aku lupa, sampai seseorang mengingatkan. Seorang anak muda yang juga resah, persis seperti aku beberapa tahun lalu.
Dia menunjukkan buku diari-nya yang butut yang di dalamnya tertera tulisan itu.
"Ini Abang yang pernah bilang, saya tulis di sini," katanya.

Aku ragu-ragu, tapi aku mengenali inisial MFM itu. Dulu aku memang pernah tergila-gila menulis apa saja di dinding-dinding kampus dengan hanya membubuhi inisial 3 huruf itu. Anonim yang menyenangkan. Kira-kira seperti SGA (Seno Gumira Ajidarma), SHG (Soe Hok Gie), atau PAT (Pramoedya Ananta Toer). Sebenarnya dua huruf juga bagus, GM (Goenawan Mohammad) atau NP (Nestor Paz) bukankah terdengar seksi?
Tapi kalau harus menulis namaku dengan FM [huruf M yang di depan itu bentuk harapan orangtuaku untuk melihat anaknya berakhlak mulia seperti Rasul] saja, kedengarannya tidak garang dan mirip gelombang radio. :D
Nah, kalau menulis inisial dengan satu huruf saja, rasanya tak ada yang berani selain Zorro!

Begitulah. Itu dahulu kala, Nak, ketika semuanya masih sangat ideal di pikiran.

Anak-anak muda yang menggelegak itu, dengan keinginan luhur untuk melihat bangsanya menjadi lebih baik. Segelas kopi dan sebungkus rokok cukuplah mengusir malam yang dingin di pojok-pojok kampus. Dan sebait kalimat itu --juga kalimat provokatif lainnya, semisal Diam adalah Pengkhianatan-- cukup memberi tenaga untuk bertahan sampai pagi, kemudian tertidur dan terpaksa bolos kuliah!

Sekarang --ketika aku menulis bagian ini-- jam 3.15 dini hari, artinya pagi tidak lama lagi, tapi aku masih belum juga bergerak. Lebih banyak diam.
Maka berkhianatlah aku padamu....

[Ayo, kepalkan jari tangan jadi tinju,
lawan semua bentuk ngantuk.
Karena malas adalah pengkhianatan!]

ps. tulisan miring dari saya, aslinya tidak seperti itu. Mohon maaf sebesar-besarnya kepada kawan-kawan revolusioner. Kita masih teman 'kan? :D

Tuesday, August 17, 2004

Ibda' bi nafsika

Ada yang berulang tahun hari ini. Andai manusia, dia telah memasuki renta. Sewajarnya untuk mulai banyak berzikir dan beristigfar mohon ampun dosa.
Tapi dia bukan manusia, melainkan hanya sebuah kumpulan semangat yang berusaha bertahan untuk tetap utuh. Ada yang menyebutnya Ibu Pertiwi. Tapi bukankah seorang ibu tidak semestinya angkuh. Meneror dan menyakiti anak-anaknya sendiri tentu saja bukan tugas seorang ibu.

Seorang ibu semestinya memberikan perlindungan kepada anak-anaknya. Tidak membiarkannya dikejar-kejar seperti tikus got di negara tetangga demi sesuap nasi. Seorang ibu mestinya malu bermewah-mewah jika anak-anaknya tak punya tempat berteduh. seorang ibu mestinya malu jika setiap bayi yang lahir dari rahimnya seketika berhutang sekian juta...

Maafkan, tapi mari kita sedikit memberi kenangan pada TKW yang loncat dari lantai 3 rumah majikannya dan jadi makanan berita itu. Pada Al-Ghozi yang pulang dalam peti mati dengan tuduhan teroris tanpa ada sedikit pun perlindungan dari negara. Pada Ustadz Baasyir yang dipenjara berkepanjangan demi memuaskan hasrat sebuah negara adidaya. Pada orang-orang Aceh, orang-orang Ambon, orang-orang Poso. Pada bocah yang kedinginan tertidur di stasiun Gambir di suatu subuh. Pada seorang bayi di Manado yang mati tertimpa reruntuhan saat rumahnya digusur paksa. Pada seorang tentara cacat veteran perang Timor-Timur...

Lalu [kemerdekaan] apa yang kita rayakan hari ini?

[ada sebuah negara tak pernah merdeka; negara diri. Selalu dijajah oleh nafsu, mari kita urus yang satu ini dulu. :D]

Saturday, August 14, 2004

Proklamasi

Tidak lama lagi peringatan hari kemerdekaan RI ke-59. Ayo sambut dengan penuh semangat. Siapa tau ini perayaan terakhir sebagai negara kesatuan. Hahahaha!!!

Tuesday, August 10, 2004

Keramik Cina


Setiap orang pasti punya keramik cina dalam kehidupannya; ditaruh di hati dan selalu dijaga agar jangan sampai pecah.
Keramik yang ringkih, mungkin saja retak oleh ketidaktahuan. Seperti harapan, pengharapan, mimpi, impian, dan semua pernyataan diam lainnya.

Keramik cina-mu mungkin saja mengalami retak jika suatu hari kamu bertanya kabar, dan tak ada jawaban pendek sekalipun. Maka coba tengok dirimu lebih dalam, sudah terjagakah dia di tempatnya dengan baik?

[malam ini aku mungkin telah memecahkan satu lagi keramik cina-ku, dan aku tak tahu oleh sebab yang mana...]

Monday, August 09, 2004

Satu Bab Tentang Menjadi Bebal

Sebelum bertemu kalian, aku pikir akan tersesat di tempat ini, di rimba tak menentu ini. Ketakutan yang aku bawa dari masa lalu, cukup membuat langkah tersaruk-saruk. Ketakutan atas kesadaran bahwa aku tak bisa apa-apa dengan internal control yang kacau balau.
Dulu, dengan kondisi yang sama, aku bisa bertahan karena aku punya dua orang yang tak pernah bosan mengingatkan. Dengan kata-kata, atau dengan hantaman keras di ulu hati.
Abangku --seorang Islam ekstrim pada awalnya, dan adikku --seorang peminat Hasan Al-Banna.
Dua-duanya bersedia menyediakan diri menjadi external control yang setia.

Dan kini, setelah terpisah ribuan kilometer dari mereka, aku hanya bisa berharap kepada kalian. Mungkin memang tak bisa tergantikan utuh. Tapi satu teguran dari kalian setidaknya menyadarkan kalau aku tidak pernah sendirian di atas bumi ini.

So, My friends, makasih banyak karena masih menganggapku sebagai saudara, meski sampai hari ini belum pernah sekalipun aku penuhi ajakan kalian untuk ikut di pengajian pekanan itu.
Doakan, suatu hari nanti aku akan mendatangi kalian bukan dengan kaki saja, tapi juga dengan hati...

Saturday, August 07, 2004

Tak Pernah Bersedih

"Seseorang diingat dari hal-hal kecil..."
---Kata dia, suatu sore, 2004---


Perjalanan panjang itu mempertemukan kami. Sebelumnya tidak pernah seakrab ini. Di hari-hari biasa kadang-kadang saja kami bertemu di selasar, dan selalu aku berusaha menghormat lebih dulu. Karena dari kecil aku diajarkan menghormat pada yang lebih tua. Tapi tidak pada bendera.
Dan "Pak Tua" ini, bagiku, wajib dihormati.

Melalui caranya yang aneh, aku belajar banyak hal. Suatu malam, di kamar hotel di sebuah kota kecil di Timur, dia bercerita tentang sebagian masa mudanya yang dia habiskan di laboratorium, dengan sebuah cita-cita "mulia": menenggelamkan Pulau Jawa! Impiannya supaya tak ada lagi dua "suku besar" yang selalu merasa lebih hebat dari yang lainnya. Dia sendiri berasal dari salah satu "suku besar" itu.
Saat itu, dari kilatan matanya yang samar oleh asap Dji Sam Soe, aku tahu dia tidak sedang bercanda.

Di hari yang lain, dia bicara tentang kesedihan. Katanya, "jangan pernah memperlihatkan kesedihanmu kalau kamu laki-laki". Jika ingin menangis, jangan sampai ada orang lain yang melihat. Suatu kali dia berkelahi dengan abangnya, dan kena tonjok. Setengah mati dia berusaha menahan tangisnya. Karena tak kuat, "saya masuk kamar, dan di situ saya menangis sejadi-jadinya..."

Aku tidak tahu banyak tentang kehidupan pribadinya, tapi dari banyak hari kami bertemu, tak pernah sekalipun aku melihat dia bersedih. Kegembiraannya saja yang menular. Dalam hidup, sepertinya Allah memang sengaja menyediakan orang-orang seperti itu, untuk mengingatkan bila mulai cengeng.
God bless you, Sir!

Thursday, August 05, 2004

Seperti Jam Pasir


[Ya Allah yang Maha Mulia, janganlah Kau timpakan kepada kami ilmu yang tak bermanfaat, do'a yang tak terdengar, nafsu yang tak pernah puas, dan hati yang tak bisa tenang.... ]

Pagi-pagi sekali, jam 3 subuh. Di depan komputer dengan mata yang tak kompromi. Menunggu VTR nganggur untuk preview gambar dan verbatim, kemarin tak sempat karena ketiduran di pojok Fenomena. Dan malam ini masih di kantor, mulai terbiasa, tak perlu jaket lagi. Pulang ke kosan paling untuk ganti baju dan nyetor cucian sama ibu kos. Hanya saja dada mulai sering terasa sesak bila menarik nafas di pagi hari. Mungkin pengaruh udara yang tak sehat dari AC sentral.

Ewin dan Revi masih kerja keras di pojok Fenomena, ngedit edisi re-make "Swinger"; tentang sekelompok pemuja seks yang rela bertukar pasangan demi kenikmatan lebih [tayang besok jam 11 malam]. Nongkrong di situ bisa bikin mata melek semalaman.

Dunia memang sudah demikian renta. Mungkin tak lama lagi kiamat, karena kita [kita??] semakin mudah menerima hal-hal dekaden sebagai kewajaran, seperti jam pasir yang tak jelas mana atas mana bawah. Bisa jadi ini keniscayaan atas peradaban yang terus berkembang.
Demikianlah. Maka orang-orang kolot, bersama para idealis, moralis, dan rohaniawan, akan segera masuk kotak, atau harus berangkat tidur sebelum jam sebelas malam jika tak ingin kena serangan jantung. Dan jangan lupa cuci kaki, agar tidak mimpi buruk....

Sunday, August 01, 2004

Cahaya yang Baur


Seperti selalu ada yang tertinggal setiap kali aku pulang dari liputan luar. Bayangan-bayangan aneh dalam tidur yang tak tenang; terperangkap di tengah kerumunan, tiket hilang, atau sekadar data yang tak lengkap.
Sudah hampir tiga minggu lewat, tapi beberapa kali aku terbangun tengah malam, dan merasa seperti masih berada di Lembah Baliem, tiduran beralas dan beratap rumpun ilalang kering di honai kepala suku. Bocah-bocah tak berbaju dengan penyakit mata yang parah. Tombak kayu saga. Teriakan-teriakan perang di tengah kota. 24 ekor babi tumbang dalam sebuah upacara bakar batu di Walesi. Laki-laki berkoteka yang menghampiri, "Nayak, Bapa! Bapa ada seribu?"

Tadi malam nonton Fahrenheit 9/11 bareng Bang Buyung di rumahnya sampai jam 3 pagi, dan gambar-gambar sadis tentang perang menyerbu mata. Seorang presiden berhasil dibuat tampak tolol di situ. Makin sempurna kebencianku pada perang!
Seorang temanku bertanya kenapa aku begitu membenci Amerika. Sebenarnya tidak demikian, bahkan pada Indonesia pun kebencianku bisa sama kadarnya jika pemimpinnya membuat orang-orang miskin terpaksa tidur beratap langit.
Jika para pemikir Indonesia lulusan luar negeri itu asyik dengan mainan demokrasi mereka, sementara ribuan anak tidak bisa sekolah karena gedung sekolah sudah jadi institusi industri!
Jika konflik dan perang di berbagai daerah sengaja dikobarkan sebagai lahan bisnis senjata dan ajang latihan perang alumni akademi militer dan sekolah tentara lainnya!!!
"Seharusnya kita tak usah bertanya kenapa Aceh tidak bisa tenang," kata seorang teman perjalanan satu pesawat ke Aceh tempo hari.

====
Dalam sebuah kesempatan yang iseng, Mas HSG meminta aku membubuhkan tanda tangan di atas selembar kertas, dan kemudian keluarlah hipotesanya tentang karakter dan kondisi jiwaku.
"Kamu saat ini sedang marah besar pada sesuatu, teramat marahnya sampai mempengaruhi keputusan-keputusanmu..." kata Mas HSG.
Aku heran dan sedikit merasa lucu, karena rasanya hatiku tenang-tenang saja belakangan ini. Tak banyak gejolak. Satu-satunya yang membuatku resah saat ini adalah 3 naskah perjalanan ke Papua yang belum juga beres. Hanya resah itu saja.
Atau mungkin ada "kemarahan" lampau yang tampak jelas di mata orang lain tapi tak aku rasakan lagi karena semakin bebal?
Semoga tidak. Semoga tidak.