tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Wednesday, July 14, 2004

Semacam Ringkasan

Jangan lagi menggerutu kenapa menderita,
tapi carilah cara bagaimana menjadi bahagia!


Hikayat Papua berakhir hari ini. Malam ini aku sudah di kantor lagi setelah menempuh 8 jam perjalanan, tiga kali transit dengan pramugari yang sama memperagakan peraturan keselamatan penerbangan. Tentu saja banyak yang aku bawa pulang, tidak dalam ransel, benda itu besarnya tak berubah sejak awal. Hanya jadi lebih kusam; debu-debu dan percikan darah babi di Baliem mungkin sudah meresap ke serat kainnya.
Hanya cerita tentang perjumpaan kecil dengan beberapa orang. Aipon Asso, kepala suku Walesi yang menyambutku dengan pelukan hangat saat aku menyambanginya dalam sebuah upacara bakar batu.
Riki Lani, putra kepala suku Lani yang terbunuh dalam pertempuran suku tahun 1983. Kini dia menggantung tombak dan panahnya. "Itu batas manusianya," katanya menunjuk sebuah bidang warna putih di tombak itu. Maksudnya, jika ditusukkan ke tubuh musuh, tombak hanya boleh menancap sampai di situ saja. Untuk tubuh manusia rata-rata, itu artinya sudah pasti tembus.

Dan banyak orang lagi. Ustadz-ustadz di Hidayatullah, pesantren di tengah hutan, Pak Haji yang pemberani dan baik hati; empat kerusuhan rasial dan penghadangan OPM sudah dilewatinya.
Aku janji akan menulis panjang tentang mereka semua. Belum malam ini.