tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Thursday, July 01, 2004

Sekali Lagi Tentang Keinginan


Mungkin karena ombak yang mengalun tenang, atau warna jingga senja yang teramat latar, di anjungan feri di atas Selat Alas, aku kembali berpikir tentang Keinginan --dengan "K" kapital.
Membingungkan, seperti apa keinginan itu di kepalaku menjadi-jadi. Makin kurunut makin tak jelas. Seperti hiasan coklat di lolipop, berputar-putar tak tahu di mana akhir.

Perjalanan akhir pekan ke sebuah desa di kaki gunung; ransel yang tak pernah kosong; perempuan bermata teduh; rumah tetirahan di atas bukit.
Entah, apa itu terlalu menyenangkan hingga aku melewatkan banyak hal sederhana; abangku yang tau-tau sudah punya seorang putri --yang bahkan pernikahannya pun tak sempat kuhadiri; adik-adikku yang beranjak dewasa dan tak lagi berseragam sekolah, Bapak dan Bunda yang berangsur-angsur tua dan beruban....

"..."
Aku lupa awalnya bertanya apa pada kapten kapal itu, yang pasti dia lalu bercerita banyak. Seorang laki-laki paruh baya yang baik hati, menyuguhiku minum dan memberiku tempat duduk di ruang kemudi. Bercerita tentang musim dan perilaku ombak, tentang leluhurnya yang pembuat perahu di Tanjung Bira, juga tentang pamannya yang menjadi sawi dalam pelayaran heroik 11.000 mil Perahu Phinisi melintasi Samudra Pasifik dari Jakarta menuju Vancouver, tahun 1986 lalu.

"Sepulang ke Indonesia, semua awak ditawari hadiah oleh Soeharto. Rata-rata mereka tidak pernah sekolah, jadi mintanya tidak muluk-muluk. Ada yang minta modal berdagang, ada juga yang minta alat pertukangan. Pak Muhammad, paman saya itu, juga ditawari," kata dia.
"Minta apa dia, Pak?" tanyaku.
Pak Kapten itu tertawa sebentar sebelum melanjutkan.
"Keinginannya sederhana, dia cuma minta jadi pegawai negeri, jadi penjaga sekolah SD dekat rumahnya."