tanah peresapan, tempat semuanya berakhir...
___________________________________

Thursday, July 29, 2004

Local Connection


Siang tadi, ketika masih terkantuk-kantuk di kosan karena begadang semalaman, produser-ku nelpon dan mengajak ke sebuah restoran di daerah Semanggi. Katanya Pak JK mau ngajak makan siang dan ngobrol-ngobrol dengan anak-anak Makassar yang ada di Jakarta.
Atas nama senioritas dan sedikit semangat primordialisme, aku merelakan segmen terakhir waktu tidurku dan segera meluncur ke sana.

Di sana ternyata pertemuannya terbatas dan gak sampai tiga puluh orang yang hadir, menempati sebuah ruang tertutup seukuran lapangan bulutangkis. Beberapa orang aku kenali sebagai seniorku di kampus dulu, juga beberapa tokoh pers. Pak JK tampil biasa-biasa saja, berkemeja longgar. Pengawalnya saja yang kelihatan sangar dan sibuk dengan seragam hitam-hitamnya itu.

Aku ke sana bukan sebagai wartawan, tapi sebagai pribadi atas penghormatanku pada Pak JK. Dia ketua alumni almamaterku. Kami juga berasal dari kampung yang sama. Rumah masa kecilnya tidak jauh dari rumahku, tapi sekarang sudah jadi pesantren.

Terakhir ketemu Pak JK waktu aku meliput hari terakhirnya sebagai Menko Kesra beberapa bulan lalu. Waktu itu Pak JK memutuskan mundur dari kabinet dan menerima pinangan SBY. Dia bertanya kabar kampung halaman dan kampus, dan kujawab seadanyanya. Masalahnya aku juga jarang pulang.
Setelah itu, seperti kebanyakan rakyat Indonesia, "perkembangan karirnya" hanya bisa aku ikuti lewat tv dan koran saja.
Tau-tau kubunya menang pemilu presiden putaran pertama, dan ramailah orang-orang berkerumun di sekitarnya!

Insya Allah, pemilu putaran kedua nanti aku masih golput, tapi aku berharap kubu SBY-JK yang menang. Setidaknya, kalau Pak JK jadi wapres, lampu merkuri di jalan depan rumah di kampung kami mungkin sudah bisa dipasang, dan drainase tak lagi buntu supaya air mengalir sedikit lancar...